Kabut pagi terasa lebih tipis daripada hari-hari sebelumnya.
Pepohonan di sekitar danau masih menjulang tinggi, tetapi cahaya lembut kini lebih mudah menembus sela-sela rantingnya. Permukaan air tetap tenang, memantulkan langit pucat yang tak pernah berubah.
Arga berdiri cukup lama di tepi danau.
Lotus putih itu masih mengapung.
Kini tinggal sembilan belas kelopak.
Ia menatapnya tanpa berkedip.
Semakin lama berada di tempat ini, semakin mudah baginya mengenali setiap sudutnya. Jalan setapak menuju hutan. Batu besar yang selalu menjadi tempat Rumi duduk. Pohon tua yang menaunginya setiap kali ia terbangun.
Semua mulai terasa akrab.
Dan justru itulah yang membuatnya takut.
Arga berjongkok di tepi air. Dengan kedua telapak tangan, ia mengambil sedikit air dan membasuh wajah.
Air itu dingin.
Namun tidak menusuk.
Saat mengangkat kepala, ia menatap pantulan dirinya sendiri.
Lalu tersenyum pahit.
"Aku tidak boleh nyaman di sini."
Suara itu nyaris hilang ditelan kabut.
Rumi, yang duduk tak jauh darinya, hanya memandang tanpa berkata apa-apa.
Tatapannya mengerti.
Namun ia tak memiliki jawaban.
Angin kembali bertiup.
Pelan.
Satu kelopak lotus terlepas dari mahkotanya.
Melayang perlahan menuju permukaan danau.
Arga berdiri sebelum kelopak itu benar-benar jatuh.
Riak kecil menyebar ketika kelopak menyentuh air.
Permukaan danau berubah menjadi bening seperti kaca.
Arga menahan napas.
Ia berharap melihat Keira lagi.
Namun bayangan yang muncul kali ini sama sekali asing.
Seorang gadis kecil berlari di tengah hujan.
Usianya tak lebih dari enam atau tujuh tahun.
Tangannya menggenggam setangkai bunga liar.
Ia tertawa lepas, berlari menyusuri jalan tanah yang basah.
Beberapa langkah kemudian, tubuh mungil itu terpeleset.
Ia jatuh.
Tangisnya pecah.
Dari kejauhan, seorang perempuan muda berlari menghampiri.
Perempuan itu memeluk sang anak erat-erat, mengusap rambutnya dengan penuh kasih.
Bayangan itu berhenti di sana.
Menghilang begitu saja.
Arga menoleh kepada Rumi.
"Siapa mereka?"
Rumi tidak langsung menjawab.
Tatapannya terpaku pada permukaan air yang kembali tenang.
Matanya perlahan membesar.
Bibirnya bergetar.
"...aku..."
Suara itu nyaris tak terdengar.
"Aku pernah melihat tempat itu."
Arga mengerutkan dahi.
"Kapan?"
Rumi menggeleng perlahan.