Kabut pagi belum benar-benar terangkat ketika Arga membuka mata.
Udara di sekitar danau masih sama—dingin, lembap, dan nyaris tak bergerak. Namun ada satu hal yang selalu berubah setiap kali hari baru dimulai.
Lotus itu.
Arga bahkan belum sempat mencapai tepian danau ketika angin tipis berembus melewati permukaan air.
Satu kelopak putih terlepas.
Melayang perlahan.
Tak ada suara.
Tak ada pertanda.
Kelopak itu menyentuh air, lalu menghilang bersama riak kecil yang menyebar ke segala arah.
Arga berhenti melangkah.
Dulu ia selalu terkejut setiap kali melihat kelopak gugur.
Kini tidak lagi.
Yang tersisa hanyalah rasa kehilangan yang semakin sulit dijelaskan.
"Satu hari lagi..." gumamnya.
Di belakangnya, Rumi datang dengan langkah pelan.
Ia memandang lotus yang kini hanya memiliki delapan belas kelopak.
Tak ada kata-kata penghiburan.
Ia hanya mengangguk kecil.
Kadang-kadang, menerima kenyataan adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan.
Permukaan danau perlahan berubah bening.
Arga segera mendekat.
Ia berharap melihat Keira lagi.
Harapan itu terkabul.
Namun bukan di rumah sakit.
Bayangan kali ini memperlihatkan halaman kantor polisi.
Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di sudut halaman.
Bagian depannya ringsek parah.
Kaca depan pecah.
Pintunya penyok.
Arga mengenalinya seketika.
Mobilnya.
Seorang petugas berjalan keluar sambil membawa sebuah kotak kardus.
Di hadapannya berdiri Keira.
Wajahnya pucat.
Tatapannya kosong, seperti seseorang yang terlalu lama memaksa dirinya tetap tegar.
Petugas menyerahkan kotak itu kepadanya.
"Kami menemukan ini di dalam mobil."
Keira hanya mengangguk.
Ia menerima kotak itu dengan kedua tangan.
Tak ada tenaga untuk menjawab.
Dengan gerakan hati-hati, ia membukanya.
Di dalamnya terdapat dompet kulit milik Arga.
Jam tangan yang selalu dipakainya bekerja.
Ponsel yang layarnya retak dan tak lagi menyala.
Lalu...
Kotak hadiah.
Sudutnya penyok akibat benturan.
Pita birunya kusut.
Keira memegang kotak itu begitu pelan, seolah takut benda itu akan ikut hancur bila disentuh terlalu keras.
Arga berlutut di depan danau.
"Buka..."
Suaranya bergetar.
"Itu buatmu..."
Keira tak mungkin mendengarnya.
Namun Arga tetap mengucapkannya.
Karena hanya itu yang bisa ia lakukan.
Keira memeluk kotak hadiah itu ke dadanya.
Air mata mengalir tanpa suara.
Tak ada isak.
Tak ada tangis yang meledak.