Kabut pagi kembali turun di atas danau.
Udara terasa lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya. Arga berdiri di tepi air bersama Rumi. Tak ada lagi hitungan yang mereka ucapkan. Tak ada lagi harapan agar waktu berhenti.
Mereka hanya menunggu.
Seolah keduanya telah memahami bahwa tidak ada yang mampu mengubah apa yang akan terjadi.
Angin berembus pelan.
Satu kelopak lotus terlepas.
Melayang perlahan.
Lalu jatuh ke permukaan danau.
Riak kecil menyebar membentuk lingkaran-lingkaran sempurna.
Arga menatap permukaan air, menunggu bayangan muncul.
Tidak ada.
Riak itu perlahan menghilang.
Danau kembali tenang.
Kosong.
"Hari ini..." suara Arga lirih, "...danau memilih diam."
Rumi tetap memandang air yang tak lagi memperlihatkan apa pun.
"Diam juga bisa menjadi jawaban."
Kalimat itu menggantung lama di antara mereka.
Mereka kembali memasuki Hutan Sunyi.
Pepohonan putih menjulang tinggi, membuat jalan setapak terasa semakin sempit. Tak ada suara burung. Tak ada desir angin. Hanya langkah mereka yang menemani perjalanan.
Di tengah hutan, Arga mendadak berhenti.
Di hadapannya berdiri dua tiang batu tua.
Tak ada pintu.
Tak ada gerbang.
Hanya dua pilar yang saling berhadapan, dipenuhi lumut dan retakan usia.
"Aneh..."
Arga melangkah melewati celah di antara kedua batu itu.
Seketika pandangannya berputar.
Kabut menebal.
Ketika kembali jernih, ia membeku.
Danau.
Ia kembali berdiri di tepi danau.
Padahal baru saja berada di tengah hutan.
Arga menoleh ke belakang.
Rumi masih berdiri di dekat gerbang batu itu.
Seolah tak ada yang aneh.
Arga mengerutkan dahi.
Ia mencoba lagi.
Berjalan menuju gerbang.
Melangkah melewatinya.
Dan...
Ia kembali muncul di tempat semula.
Untuk ketiga kalinya.
Hasilnya tetap sama.
Arga mengepalkan tangan.
"Pasti ada jalan."
Rumi memperhatikannya tanpa banyak ekspresi.
"Belum tentu."
Arga menoleh.
"Nggak mungkin."
Tatapannya penuh keyakinan.
"Kalau memang ada jalan masuk..."
Ia menarik napas.
"...berarti pasti ada jalan keluar."