Pagi kembali datang di Dunia Antara.
Kabut masih menggantung rendah di atas permukaan danau. Di tengah keheningan itu, bunga lotus putih kembali bergoyang pelan diterpa angin yang entah datang dari mana.
Arga berdiri memandanginya.
Ia tidak lagi menghitung.
Tak perlu.
Matanya langsung menangkap satu kelopak yang perlahan terlepas dari mahkotanya.
Kelopak itu melayang, berputar pelan, lalu jatuh ke permukaan air.
Riak kecil menyebar.
Arga melangkah mendekat.
Kedua tangannya mengepal tanpa sadar.
"Tolong..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Perlihatkan dia."
Permukaan danau berkilau.
Namun seperti biasa, danau tidak pernah menjawab permintaan siapa pun.
Ia selalu memilih sendiri.
Bayangan mulai terbentuk.
Bukan ruang rumah sakit.
Bukan lorong ICU.
Yang muncul justru sebuah rumah sederhana yang masih dipenuhi kardus.
Dindingnya belum dihiasi apa pun.
Masih berbau cat baru.
Malam pertama setelah pernikahan.
Keira duduk di ujung ranjang.
Masih mengenakan kebaya berwarna gading yang sedikit kusut setelah seharian menerima tamu.
Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan.
Ia tampak gugup.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Arga masuk sambil membawa dua gelas teh hangat.
Ia meletakkan keduanya di atas meja kecil di samping ranjang.
Tak satu pun berbicara.
Keheningan memenuhi ruangan.
Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.
Akhirnya Keira menarik napas panjang.
"Aku minta maaf."
Arga menoleh.
"Karena?"
Keira menunduk.
"Aku tidak pernah meminta menikah."
Arga tidak terlihat terkejut.
Ia hanya mengangguk pelan.
"Aku tahu."
Keira mengangkat wajah.
Tatapannya dipenuhi kebingungan.
"Ayahmu sudah cerita."
Suasana kembali sunyi.
Keira memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan keberanian.
"Aku..."
Suaranya bergetar.
"...masih mencintai orang lain."
Kalimat itu menggantung di udara.
Begitu berat hingga seakan membuat ruangan kehilangan napas.
Arga menatap gelas teh yang masih mengepulkan uap tipis.
Tak ada kemarahan di wajahnya.
Tak ada kekecewaan yang meledak-ledak.
Ia hanya menarik napas perlahan.