UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #10

BAB 10 - Menunggu Yang Tak Pasti

Kabut pagi turun lebih tipis daripada biasanya.

Di tengah permukaan danau, bunga lotus putih itu tetap mengapung dalam diam. Kelopaknya kini tak lagi utuh. Arga memandanginya lama, seolah sedang menghafalkan setiap lekuknya sebelum kembali kehilangan satu bagian lagi.

Angin berembus pelan.

Satu kelopak terlepas.

Tak tergesa.

Tak pula ragu.

Kelopak itu melayang, berputar mengikuti hembusan angin, lalu menyentuh permukaan danau dengan lembut.

Riak kecil menyebar ke segala arah.

Arga tidak berlari menghampiri seperti hari-hari sebelumnya.

Ia hanya berdiri.

Memandangi riak yang perlahan melebar.

Di sampingnya, Rumi melakukan hal yang sama.

Tak ada kata-kata.

Tak ada lagi harapan yang diucapkan keras-keras.

Setelah beberapa saat, Arga tersenyum tipis.

"Sekarang aku mulai menghitung."

Rumi tidak mengalihkan pandangan dari danau.

"Aku selalu menghitung."

Jawaban itu sederhana.

Namun Arga baru menyadari, selama ini Rumi telah menyaksikan gugurnya kelopak demi kelopak, entah sudah berapa kali, bersama orang-orang yang datang sebelum dirinya.

Dan setiap kali, ia kembali ditinggalkan.


Permukaan danau berkilau.

Bayangan perlahan muncul.

Kali ini bukan ruang ICU.

Bukan pula rumah mereka.

Yang terlihat adalah sebuah taman kecil di halaman rumah sakit.

Keira duduk sendirian di bangku kayu.

Di pangkuannya terletak kotak hadiah yang penyok.

Kotak yang ditemukan di dalam mobil Arga.

Tangannya gemetar ketika membuka penutupnya.

Di dalamnya terlipat rapi sebuah syal rajut berwarna biru muda.

Keira mengangkatnya perlahan.

Jemarinya menyentuh benang-benang rajutan yang terasa begitu akrab.

Di dasar kotak terdapat sebuah kartu kecil.

Tulisan tangan Arga masih jelas terbaca.

Selamat ulang tahun, istriku.

Maaf aku selalu pulang terlambat.

Terima kasih karena tetap menungguku.

Keira menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung.

Di saat yang sama, seseorang datang menghampiri.

Ia membawa dua gelas kopi hangat.

Tanpa banyak bicara, pria itu meletakkan salah satunya di samping Keira.

"Kamu belum makan sejak pagi."

Keira menggeleng pelan.

"Aku belum lapar."

Pria itu tidak membujuk.

Tidak memaksa.

Ia hanya mengangguk.

"Kalau nanti lapar..."

Tatapannya beralih pada gelas kopi yang mulai mengeluarkan uap tipis.

"...kopinya keburu dingin."

Setelah mengucapkannya, ia berjalan beberapa langkah menjauh.

Memberi Keira ruang untuk menangis sendirian.

Arga memandang pemandangan itu dalam diam.

Tak ada rasa marah.

Tak ada kecemburuan.

Hanya kelegaan kecil karena seseorang masih menjaga Keira ketika ia tak lagi mampu melakukannya.

Lihat selengkapnya