Kabut pagi perlahan tersibak.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Dunia Antara, Arga tidak langsung melangkah menuju danau.
Ia justru memungut ranting-ranting kering yang berserakan di sekitar pohon besar. Satu demi satu ia menyusunnya menjadi tumpukan kecil.
Tak jauh darinya, Rumi memperhatikan dengan dahi sedikit berkerut.
"Biasanya kau langsung ke Danau."
Arga mengangkat sepotong ranting yang lebih besar.
Ia tersenyum kecil.
"Danau tidak akan ke mana-mana."
Ia menaruh ranting itu di atas tumpukan.
"Tapi api ini bisa padam."
Rumi terdiam.
Beberapa saat kemudian, senyum tipis muncul di wajahnya.
Senyum yang bertahan sedikit lebih lama daripada biasanya.
Mereka menyalakan api kecil bersama.
Nyala merah itu menari pelan di tengah udara yang dingin.
Tak menghangatkan banyak.
Namun cukup membuat keheningan terasa lebih ramah.
Ketika api mulai mengecil, permukaan danau beriak sendiri.
Arga dan Rumi menghampiri.
Bayangan perlahan muncul.
Dapur rumah mereka.
Pagi yang sederhana.
Arga berdiri mengenakan celemek bergambar ayam kecil.
Rambutnya masih berantakan.
Di atas kompor, sebuah panci mengepulkan asap.
Ia membuka tutupnya.
Wajahnya langsung berubah panik.
"Ah..."
Pada saat yang sama, Keira keluar dari kamar sambil mengucek mata.
Ia berhenti di ambang pintu.
Melihat dapur yang berantakan.
Wajan di sana.
Sendok di lantai.
Tepung berceceran di meja.
"Kamu lagi ngapain?"
Arga menoleh sambil tersenyum canggung.
"Belajar."
"Belajar apa?"
Dengan bangga ia mengangkat panci.
"Sup ayam."
Keira mendekat.
Melihat isi panci yang nyaris gosong.
Ia tak mampu menahan tawa.
"Ini lebih mirip bubur."
Arga ikut tertawa.
Tawanya malu-malu.
"Aku cuma pengin..."
Ia menggaruk belakang kepalanya.
"...kalau nanti kamu sakit..."
Pandangannya jatuh pada panci itu.
"...aku bisa masakin."
Keira hanya tersenyum saat itu.
Ia menganggapnya sebagai lelucon kecil.
Bayangan di danau memudar.
Di dunia nyata...
Keira berdiri sendirian di dapur rumah mereka.
Tangannya memegang panci yang sama.
Masih ada sedikit bekas gosong yang tak pernah benar-benar hilang.
Ia mengusapnya perlahan.
Dulu ia sempat mengomel karena Arga mengotori dapur.
Sekarang...
Bekas gosong itu justru terasa seperti kenangan yang terlalu berharga untuk dibersihkan.