UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #12

BAB 12 - Rumah yang Terlalu Sepi

Pagi di Dunia Antara selalu terasa sama.

Kabut tipis menggantung di atas permukaan Danau Kenangan. Angin berembus pelan, nyaris tak terdengar. Waktu mengalir seperti air yang tidak pernah terburu-buru menuju hilir.

Arga berdiri di depan bunga lotus miliknya.

Dua belas kelopak masih tersisa.

Ia mengembuskan napas panjang.

Lalu...

Satu kelopak perlahan bergetar.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya yang menyilaukan.

Kelopak itu hanya terlepas dengan tenang, melayang mengikuti angin, kemudian jatuh ke permukaan danau.

Pluk.

Riaknya melebar membentuk lingkaran-lingkaran kecil.

Lotus itu kini hanya memiliki dua belas kelopak.

Arga menatapnya cukup lama.

Entah sejak kapan ia berhenti menghitung hari.

Kini ia hanya menghitung kelopak.

Setiap kelopak yang gugur terasa seperti seseorang mencabut sedikit demi sedikit waktu yang masih ia miliki.

Ia berjalan menuju tepi Danau Kenangan.

Biasanya, setelah sebuah kelopak jatuh, permukaan danau akan segera memperlihatkan dunia nyata.

Namun kali ini...

Tidak ada apa-apa.

Airnya tenang.

Terlalu tenang.

Arga duduk di atas batu datar di tepi danau.

Rumi datang tanpa suara, lalu duduk di sampingnya.

Mereka tidak saling menatap.

Hanya sama-sama memandang permukaan air yang diam.

"Aneh ya..." gumam Arga.

Rumi menoleh sedikit.

"Dulu aku takut melihat Danau."

Arga tersenyum tipis.

"Sekarang aku takut kalau Danau tidak menunjukkan apa-apa."

Keheningan kembali turun.

Angin menggoyangkan rambut Rumi.

Perempuan itu menatap pantulan langit di permukaan air.

"Kadang..." katanya pelan.

"Diam juga berarti memberi waktu."

Arga tidak menjawab.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat dadanya sedikit lebih ringan.

Mereka tetap duduk.

Tidak lagi menunggu dengan gelisah.

Tidak lagi memaksa.

Seolah keduanya mulai memahami bahwa tidak semua jawaban harus datang secepat yang mereka inginkan.


Perlahan...

Permukaan Danau mulai beriak.

Bayangan dunia nyata muncul sedikit demi sedikit.

Keira berdiri di depan rumah.

Langit menjelang sore berwarna jingga pucat.

Tangannya meraih gagang pintu.

Klik.

Pintu terbuka.

Ia melangkah masuk.

Rumah itu menyambutnya dengan sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Sunyi.

Keira membungkuk melepas sepatu.

Lalu, secara refleks, bibirnya bergerak.

"Mas... aku pulang."

Suara itu menggema pelan di ruang tamu.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada langkah kaki.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada aroma kopi yang biasanya baru selesai diseduh.

Keira membeku.

Beberapa detik berlalu.

Barulah ia menyadari apa yang baru saja ia lakukan.

Senyum tipis muncul di bibirnya.

Namun senyum itu pahit.

"...Iya."

"Aku lupa."

Matanya mulai berkeliling rumah.

Segalanya masih sama.

Sandal Arga masih tersusun rapi di dekat pintu.

Jaket kerja yang biasa dipakai berangkat setiap pagi masih menggantung di sandaran.

Jam dinding masih berdetak.

Rak buku tetap berantakan seperti biasanya.

Di dapur...

Dua cangkir favorit mereka masih berada di rak paling bawah.

Satu bergambar bulan.

Satu lagi bergambar matahari.

Tidak ada yang berubah.

Tidak satu pun.

Yang berubah...

Hanyalah orang yang biasa menggunakannya.

Keira menggenggam salah satu cangkir itu.

Tangannya gemetar.

Pelan sekali ia berbisik,

"Rumah ini..."

"...terlalu sepi."

Di Dunia Antara...

Arga menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Dadanya sesak.

Ia ingin berlari.

Ingin membuka pintu itu.

Ingin mengatakan bahwa ia ada.

Bahwa ia mendengar.

Bahwa ia juga rindu.

Namun jarak di antara mereka bukan lagi sekadar ruang.

Melainkan dua dunia.

Lihat selengkapnya