Pagi di Dunia Antara selalu datang tanpa matahari.
Langit hanya berubah menjadi sedikit lebih terang, sementara kabut tetap bergantung di atas Danau Kenangan seperti selimut yang tak pernah diangkat.
Arga berdiri di depan bunga lotusnya.
Dua belas kelopak masih mengelilingi putiknya.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Namun tetap saja, setiap kali menyaksikannya, dadanya terasa sesak.
Salah satu kelopak bergetar pelan.
Lalu terlepas.
Melayang perlahan.
Arga spontan mengulurkan tangan.
"Jangan..."
Ujung jarinya menyentuh kelopak itu.
Ia berusaha menggenggamnya sebelum jatuh ke danau.
Namun...
Kelopak itu menembus telapak tangannya seolah tangan Arga hanyalah bayangan.
Kelopak tetap meluncur.
Pluk.
Menyentuh permukaan air.
Riak perlahan menyebar ke seluruh danau.
Lotus itu kini hanya memiliki sebelas kelopak.
Arga menatap telapak tangannya yang kosong.
Ia mengepalkannya kuat-kuat.
Tetapi tidak ada yang bisa digenggam.
Tidak ada yang bisa dihentikan.
"Bahkan waktu pun..." bisiknya lirih.
"...tidak mau menungguku."
Rumi berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Ia tidak mencoba menghibur.
Tidak pula memberi nasihat.
Ia hanya memandang Arga dengan mata yang dipenuhi pengertian.
Karena ia tahu...
Ada kenyataan yang memang tidak dapat dilawan, sekeras apa pun seseorang mencoba.
Riak di Danau Kenangan perlahan membentuk bayangan baru.
Sebuah ruang konsultasi rumah sakit.
Keira duduk berhadapan dengan seorang dokter spesialis.
Kedua tangannya saling menggenggam di atas tas yang berada di pangkuannya.
Jari-jarinya tampak memutih karena terlalu kuat mencengkeram.
Dokter membuka map di hadapannya.
Wajahnya tenang.
Namun justru ketenangan itu membuat suasana menjadi semakin berat.
"Secara medis..."
Ia memilih kata-katanya dengan hati-hati.
"Kami masih akan berusaha."
Keira mengangguk pelan.
Tatapannya penuh harap.
Dokter berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tetapi..."
"Semakin lama pasien berada dalam kondisi seperti ini..."
"...kemungkinan untuk kembali seperti semula akan semakin kecil."
Ruangan mendadak terasa begitu sunyi.
Keira menundukkan kepala.
Napasnya mulai terasa berat.
Dokter kembali berbicara.
"Kalau suatu hari nanti keluarga harus mengambil keputusan..."
"Saya berharap Ibu sudah siap."
Keira tidak mampu menjawab.
Ia hanya mengangguk.
Pelan sekali.
Lalu menahan air mata agar tidak jatuh di hadapan orang yang sedang berusaha menyampaikan kenyataan sebaik mungkin.
Tidak ada vonis.
Tidak ada kalimat bahwa semuanya telah berakhir.
Namun...
Ada sebuah pintu yang perlahan mulai terbuka.
Pintu menuju kemungkinan yang selama ini tidak pernah ingin ia pikirkan.
Danau kembali tenang.
Di Dunia Antara, Arga memejamkan mata.
Ia baru menyadari...
Bukan hanya dirinya yang sedang kehabisan waktu.
Keira juga.
Sore hari.
Keira pulang ke rumah orang tuanya.
Sudah lama ia tidak benar-benar pulang.
Begitu pintu terbuka, ibunya langsung memeluknya erat.
Tidak ada pertanyaan.
Tidak ada nasihat.
Hanya pelukan panjang yang membuat Keira hampir kembali menangis.
"Ayo masuk," ucap ibunya pelan.
Malam itu mereka makan bersama.
Tidak banyak percakapan.
Hanya suara sendok yang sesekali menyentuh piring.
Setelah makan selesai, ayah Keira memanggilnya ke ruang keluarga.
Beliau duduk di kursi kayu favoritnya.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua dibanding beberapa bulan lalu.
"Ayah tahu..."
Suara itu rendah.
"...kamu mencintai Arga."
Keira menunduk.
Air matanya langsung jatuh.
Ayahnya melanjutkan dengan hati-hati.
"Tapi Ayah juga tidak ingin melihat hidupmu berhenti."
Keira menggeleng.
"Aku belum bisa..."
Kalimat itu keluar hampir seperti isakan.