UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #14

BAB 14 - Jika Aku Harus Kehilanganmu

Pagi kembali menyapa Dunia Antara.

Kabut yang selama ini menggantung tebal di atas Danau Kenangan tampak berbeda. Masih putih, masih sunyi, tetapi lebih tipis dari biasanya. Cahaya lembut menembus sela-selanya, membuat permukaan danau berkilau seperti kaca.

Arga berdiri di depan bunga lotusnya.

Ia tidak lagi terkejut ketika salah satu kelopak mulai bergetar.

Perlahan.

Tenang.

Lalu terlepas.

Kelopak itu berputar mengikuti embusan angin sebelum akhirnya jatuh ke permukaan danau.

Pluk.

Riak kecil menyebar.

Lotus itu kini hanya menyisakan sepuluh kelopak.

Arga memandanginya lama.

Dulu setiap kelopak yang gugur selalu membuatnya menghitung berapa hari yang masih tersisa.

Namun pagi ini...

Pikirannya berubah.

"Setengahnya sudah habis..."

Suara itu hampir tenggelam bersama angin.

Ia tidak lagi menghitung waktu yang masih ia miliki.

Ia justru menghitung waktu yang telah hilang.

Hari-hari yang tak pernah bisa kembali.

Pagi yang tak sempat ia nikmati bersama Keira.

Makan malam yang ia lewatkan.

Tawa kecil yang mungkin tak akan pernah ia dengar lagi.

Rumi berdiri di sampingnya.

Tatapannya ikut tertuju pada bunga lotus.

"Iya..."

Jawabannya pelan.

Begitu pelan hingga terdengar seperti bisikan kepada dirinya sendiri.

Ada sesuatu dalam nada suaranya.

Kesedihan yang tidak hanya milik Arga.

Seolah setiap kelopak yang gugur juga sedang mengurangi sesuatu di dalam dirinya.

Arga menoleh.

Namun Rumi sudah kembali menatap danau.

Wajahnya tetap tenang.

Hanya matanya yang tampak lebih sendu daripada biasanya.


Riak di Danau Kenangan perlahan membentuk bayangan baru.

Rumah orang tua Arga.

Keira berdiri di depan pagar sambil membawa sebuah tas berisi pakaian bersih.

Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

Tak lama kemudian, ibu Arga membukanya.

Senyumnya tetap hangat.

Namun wajah perempuan itu tampak jauh lebih kurus.

"Masuk, Nak."

Keira mengangguk pelan.

Begitu memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti.

Di dinding masih tergantung foto pernikahan mereka.

Arga tersenyum lebar di dalam bingkai itu.

Keira berdiri di sampingnya dengan gaun putih sederhana.

Foto itu tampak begitu hidup.

Seolah mereka baru saja pulang dari pesta pernikahan.

Ibu Arga ikut memandang foto tersebut.

Lama.

Sangat lama.

"Arga selalu bilang..."

Beliau tersenyum kecil.

"...kamu terlalu kurus kalau lagi sedih."

Keira menundukkan kepala.

Tangannya menggenggam ujung tas lebih erat.

Ibu Arga mendekat.

Menggenggam tangan Keira dengan lembut.

"Nak..."

Beliau berhenti.

Bibirnya bergetar.

Air mata justru lebih dulu jatuh sebelum kalimatnya selesai.

"Kalau nanti..."

Keira mengangkat wajah.

"Kalau nanti Arga benar-benar pergi..."

"...jangan merasa bersalah kalau suatu hari kamu memilih bahagia."

Keira langsung menggeleng.

"Bu..."

Suaranya pecah.

"Jangan bilang begitu."

Ibu Arga menarik Keira ke dalam pelukannya.

Pelukan seorang ibu.

Hangat.

Namun dipenuhi kepedihan yang nyaris tak sanggup ditanggung.

"Seorang ibu..."

Bisiknya lirih.

"...tidak pernah berhenti berharap anaknya pulang."

Air matanya terus mengalir.

"Tapi seorang ibu juga tidak ingin menahan hidup menantunya."

Keira menangis di pelukan perempuan yang telah ia anggap sebagai ibunya sendiri.

Di Dunia Antara...

Arga berdiri membisu.

Dadanya sesak.

Selama ini ia hanya memikirkan Keira.

Ia lupa.

Masih ada seorang ibu yang setiap malam mungkin berdoa dengan harapan yang sama.

Ia menutup wajahnya.

Tangisnya pecah.

Lihat selengkapnya