Pagi di Dunia Antara datang bersama udara yang lebih dingin daripada biasanya.
Kabut masih menyelimuti Danau Kenangan, tetapi tidak lagi setebal hari-hari sebelumnya. Sesekali angin membuka celah kecil, memperlihatkan ujung cahaya putih yang kini tak lagi bisa dianggap sebagai khayalan.
Arga berdiri di depan bunga lotusnya.
Sepuluh kelopak masih mengembang tenang.
Ia mengembuskan napas pelan.
Seolah bunga itu pun memahami.
Salah satu kelopak mulai bergetar.
Tidak ada yang dapat menghentikannya.
Kelopak itu terlepas.
Berputar perlahan di udara.
Lalu jatuh.
Pluk.
Riak menyebar.
Lotus itu kini hanya memiliki sembilan kelopak.
Arga tidak lagi mencoba menangkapnya.
Ia hanya memandang air yang bergelombang kecil.
Burung putih yang biasanya datang setiap pagi tak terlihat.
Kesunyian terasa lebih panjang.
Lebih dingin.
Arga mengangkat wajah.
Di kejauhan, di balik lapisan kabut yang bergerak perlahan, garis putih itu kembali muncul.
Jembatan Batu Putih.
Tidak utuh.
Hanya sebagian.
Namun cukup jelas untuk menghapus semua keraguan.
"Aku melihatnya lagi."
Suara Arga terdengar lirih.
Rumi berdiri di sampingnya.
Tatapannya tidak berpindah dari arah yang sama.
"Aku juga."
Tidak ada lagi yang menyebutnya ilusi.
Kini mereka sama-sama tahu.
Jembatan itu nyata.
Dan entah mengapa...
Rasanya seperti sedang menunggu.
Sekaligus tidak menunggu siapa pun.
Mereka berjalan mengikuti arah munculnya jembatan.
Semakin jauh meninggalkan Danau Kenangan, udara berubah semakin dingin.
Kabut menebal.
Pepohonan yang selama ini menjadi penanda jalan mulai menghilang.
Yang tersisa hanyalah hamparan putih tanpa batas.
Arga berhenti.
"Ini jalannya?"
"Aku tidak tahu."
Rumi menjawab jujur.
Tidak lama kemudian...
Suara itu terdengar.
Bukan dari depan.
Bukan dari belakang.
Bukan pula dari langit.
Suara itu datang dari segala arah.
Lembut.
Namun memenuhi seluruh ruang.
"Jalan pulang..."
Arga langsung menoleh.
Tidak ada siapa pun.
"Hanya terbuka..."
"...bagi hati yang telah selesai."
Kabut tetap bergeming.
Tak ada bayangan.
Tak ada sosok.
Hanya gema kalimat itu yang perlahan menghilang.
"Siapa?"
teriak Arga.
"Siapa yang bicara?"
Tidak ada jawaban.
Rumi memejamkan mata.
Entah mengapa...
Kalimat itu terasa sangat akrab.
Seolah pernah ia dengar di tempat yang tak lagi dapat ia ingat.
"Tidak ada penjaga..."
bisiknya.
Arga menoleh.
"Maksudmu?"
"Mungkin..."
Rumi membuka mata perlahan.
"...dunia ini sendiri yang menjawab."
Arga terdiam.
Ia kembali memandang kabut.
Untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa Dunia Antara bukanlah tempat kosong.
Ia hidup.
Mendengar.
Dan memilih kapan harus menjawab.
Riak Danau Kenangan kembali terbentuk.
Bayangan dunia nyata muncul.
Keira duduk di ruang konsultasi rumah sakit.
Dokter baru saja menutup map pemeriksaan.
"Kondisinya masih stabil."
Kalimat itu terdengar menenangkan.
Namun dokter melanjutkan,
"Tetapi sampai hari ini belum ada perkembangan yang berarti."
Keira mengangguk pelan.
Ia sudah hafal kalimat itu.
Stabil.
Tidak memburuk.
Namun juga tidak membaik.
Seolah hidup Arga berhenti di satu titik.
Dokter berdiri.
"Silakan panggil saya kalau ada perubahan."
Setelah pintu tertutup...
Seseorang masuk.
Raka.
Tangannya membawa sebuah map cokelat.
"Aku mengganggu?"
Keira menggeleng.
Raka duduk di kursi seberang.
Beberapa saat ia hanya memandang map di tangannya.
"Aku dapat tawaran kerja."
Keira mengangkat kepala.
"Di luar kota."
Suasana kembali sunyi.
"Aku berangkat dua minggu lagi."
Jantung Keira terasa berdenyut lebih keras.
Raka tersenyum tipis.