Kabut kembali menelan Danau Kenangan.
Riak yang beberapa saat lalu memperlihatkan hari kecelakaan Arga telah menghilang, menyisakan permukaan air yang kembali tenang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun bagi Arga...
Tidak ada lagi yang benar-benar tenang.
Suara itu masih menggema di kepalanya.
"ARGA!"
Begitu jelas.
Begitu nyata.
Persis seperti suara yang ia dengar beberapa detik sebelum mobilnya kehilangan kendali.
Ia berdiri tanpa bergerak.
Tatapannya terpaku pada air yang kini hanya memantulkan langit pucat Dunia Antara.
Di sampingnya, Rumi masih terduduk.
Kedua tangannya gemetar.
Air mata terus mengalir tanpa ia sadari.
Tak satu pun dari mereka berani lebih dulu memecah kesunyian.
Angin berembus pelan.
Membawa dingin yang terasa sampai ke dada.
Akhirnya Arga menarik napas panjang.
Perlahan ia menoleh.
Tatapannya berhenti pada wajah Rumi.
Perempuan itu tampak begitu rapuh.
Namun yang muncul dari dalam dada Arga bukanlah iba.
Melainkan kemarahan.
"Kenapa kau memanggilku?"
Suara Arga terdengar datar.
Justru karena terlalu datar, kalimat itu terasa jauh lebih tajam.
Rumi mengangkat wajah.
Matanya merah.
Bibirnya bergetar.
"Aku..."
Ia menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu."
Arga tertawa lirih.
Tawa yang sama sekali tidak mengandung kegembiraan.
"Jangan bohong."
"Aku benar-benar tidak tahu."
"Suara itu..."
Arga melangkah mendekat.
"...aku mendengarnya sebelum mobilku ditabrak."
Dadanya naik turun menahan emosi.
"Suara itu milikmu."
Rumi kembali menggeleng.
Semakin keras.
Semakin putus asa.
"Aku tidak ingat..."
"Aku bahkan tidak tahu kenapa aku memanggil namamu."
Arga memejamkan mata.
Ingatan itu kembali menyerangnya.
Hujan deras.
Lampu jalan yang buram.
Kotak hadiah di kursi sebelah.
Buket bunga putih.
Lalu...
Sebuah suara perempuan.
"Arga!"
Dan setelah itu...
Gelap.
Ia membuka mata.
Tatapannya berubah dingin.
"Aku percaya pada apa yang kudengar."
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada teriakan.
Rumi tidak mampu menjawab.
Karena jauh di dalam dirinya...
Ia mulai meragukan dirinya sendiri.
Bagaimana kalau memang aku penyebab semua ini?
Pertanyaan itu perlahan tumbuh menjadi luka.
Arga berbalik.
Ia meninggalkan Danau Kenangan tanpa menoleh lagi.
Langkahnya cepat.
Seolah ingin menjauh dari tempat itu.
Menjauh dari Rumi.
Rumi tetap duduk.
Ia tidak mengejar.
Tidak memanggil.
Tidak mencoba menjelaskan.
Karena ia merasa...
Ia tidak lagi memiliki hak untuk melakukannya.
Kabut perlahan menelan sosok Arga.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu...
Mereka berjalan ke arah yang berbeda.
Hutan Kabut kembali sunyi.
Pepohonan putih berdiri tanpa daun.
Angin menggesek batang-batangnya hingga menimbulkan suara lirih seperti bisikan.
Arga berjalan tanpa tujuan.
Kakinya bergerak sendiri.
Pikirannya justru tertinggal di tepi danau.
Ia mencoba mengingat.
Sedetail mungkin.
Hari kecelakaan itu.
Kotak hadiah.
Ya.
Ia ingat.
Hadiah ulang tahun untuk Keira.
Bunga putih.
Ia membelinya karena Keira pernah berkata bahwa bunga putih membuat rumah terasa damai.
Ia bahkan masih ingat aroma kopi yang diminumnya sebelum berangkat.
Namun setelah itu...