Pagi di Dunia Antara tidak pernah benar-benar dimulai.
Tidak ada matahari yang terbit.
Tidak ada bayangan yang bergeser.
Tidak ada suara burung yang menandai datangnya hari.
Hanya cahaya putih pucat yang menyelimuti segala sesuatu, membuat waktu terasa diam di tempat.
Rumi berdiri di tepian Hutan Kabut.
Dari kejauhan, ia melihat Arga berjalan seorang diri.
Biasanya...
Mereka akan memulai hari bersama.
Berjalan tanpa tujuan sambil menunggu Danau Kenangan memperlihatkan dunia nyata.
Kini semuanya berbeda.
Jarak di antara mereka tidak hanya diukur oleh langkah.
Melainkan oleh kata-kata yang belum selesai.
Dan luka yang belum sempat dijelaskan.
Rumi menarik napas panjang.
Lalu memberanikan diri melangkah.
"Arga..."
Lelaki itu berhenti.
Namun tidak menoleh.
"Ada apa?"
Suaranya datar.
Tidak dingin.
Tetapi juga tidak lagi hangat.
Rumi menundukkan kepala.
"Aku..."
Kalimat itu terasa begitu berat.
"Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku memanggil namamu."
Keheningan menggantung di antara mereka.
Arga memejamkan mata.
Ia ingin percaya.
Sungguh ingin.
Namun setiap kali mengingat suara itu...
Ia kembali melihat cahaya lampu yang menyilaukan.
Mendengar benturan logam.
Dan merasakan tubuhnya kehilangan kesadaran.
"Aku juga tidak tahu..."
Ia menghela napas pelan.
"...harus mempercayaimu atau tidak."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Arga kembali berjalan.
Langkahnya sedikit lebih cepat.
Rumi tidak mengejar.
Ia hanya memandangi punggung yang perlahan menghilang di balik kabut.
Baru sekarang ia mengerti.
Jarak yang paling menyakitkan bukanlah ketika seseorang pergi.
Melainkan ketika ia masih ada...
Namun memilih berjalan tanpa kita.
Hari itu Rumi memutuskan mencari jawaban sendiri.
Kalau Arga tidak lagi mampu mempercayainya...
Setidaknya ia harus menemukan alasan untuk mempercayai dirinya sendiri.
Ia menyusuri jalan-jalan yang belum pernah ia datangi.
Semakin jauh dari Danau Kenangan, suasana berubah.
Kabut mulai menipis.
Pepohonan putih berganti dengan bangunan-bangunan tua yang tampak seolah telah berdiri sejak dunia ini pertama kali ada.
Di ujung jalan berdirilah sebuah bangunan besar dari batu pucat.
Jendelanya tinggi.
Pintunya terbuat dari kayu tua yang dipenuhi ukiran bunga lotus.
Di atas pintu terukir sebuah nama.
Rumah Para Pengingat.
Rumi berhenti.
Ia belum pernah datang ke tempat itu.
Pelan-pelan ia mendorong pintunya.
Suara kayu tua berderit panjang.
Di dalam...
Rak-rak kayu menjulang tinggi memenuhi ruangan.
Namun tidak dipenuhi buku.
Melainkan benda-benda kecil.
Jam tangan.
Boneka.
Foto keluarga.
Surat yang menguning.
Cincin.
Mainan kayu.
Sepatu bayi.
Payung.
Semuanya tersusun rapi.
Masing-masing menyimpan kenangan yang tak lagi dimiliki pemiliknya.
Beberapa penghuni Dunia Antara duduk diam di antara rak-rak itu.
Mereka tampak jauh lebih tua daripada ruh lain yang pernah ditemui Rumi.
Tatapan mereka tenang.
Namun kosong.
Seolah sebagian dari diri mereka telah hilang.
Rumi mendekati seorang lelaki tua.
"Permisi..."
Orang itu mengangkat wajah.
"Apakah Anda pernah mengenal seseorang bernama Arga?"
Lelaki itu mengernyit.
Menggeleng pelan.
"Sudah terlalu banyak nama yang kulupakan."
Rumi berpindah kepada penghuni lain.
Jawabannya sama.
Tidak.
Tidak pernah.
Atau...
Mungkin sudah lupa.
Semakin banyak ia bertanya.