UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #18

BAB 18 - Legenda Resonansi

Rumah Para Pengingat selalu terasa lebih sunyi daripada tempat lain di Dunia Antara.

Bukan karena tidak ada penghuninya.

Justru sebaliknya.

Puluhan ruh tua masih tinggal di sana, berjalan perlahan di antara rak-rak kayu yang dipenuhi benda-benda peninggalan masa lalu. Sebuah jam saku yang jarumnya berhenti di angka tiga. Boneka kain dengan satu mata yang hilang. Surat-surat yang tintanya telah memudar. Cincin pernikahan tanpa pasangan. Foto keluarga yang wajah-wajahnya perlahan menghilang, seolah waktu bahkan ikut menghapus kenangan dari selembar kertas.

Mereka hidup di antara benda-benda itu.

Sebagian besar bahkan tidak lagi mengingat nama mereka sendiri.

Arga melangkah pelan melewati lorong panjang rumah itu.

Sudah beberapa hari bayangan di Danau Kenangan terus menghantuinya.

Suara Rumi.

Kecelakaan.

Dan pria yang wajahnya sama persis dengannya.

Semua terasa seperti potongan-potongan teka-teki yang sengaja dipisahkan.

Ia berhenti di depan jendela besar.

Di sana duduk seorang ruh tua yang tubuhnya nyaris transparan. Cahaya putih dari luar menembus sebagian bahunya, membuat sosoknya tampak semakin samar.

Lelaki tua itu sedang memandangi kabut.

Entah apa yang dilihatnya.

Atau mungkin...

Ia hanya sedang berusaha mengingat sesuatu yang telah terlalu lama hilang.

"Permisi..."

Ruh tua itu menoleh perlahan.

Tatapannya tenang.

Namun sangat dalam.

"Anak baru."

Arga mengangguk.

"Aku ingin bertanya."

"Semua orang yang datang ke sini selalu ingin bertanya."

"Tapi belum tentu siap menerima bahwa jawabannya tidak lengkap."

Arga tersenyum tipis.

"Aku tetap ingin mencobanya."

Ruh tua itu memberi isyarat agar Arga duduk.

Beberapa saat mereka hanya ditemani kesunyian.

Kemudian Arga mulai bercerita.

Tentang hari kecelakaannya.

Tentang suara perempuan yang memanggil namanya.

Tentang Rumi.

Tentang Danau Kenangan yang memperlihatkan masa lalu.

Tentang pria yang wajahnya sama dengannya.

Semakin lama ia berbicara, semakin dalam kerutan di wajah ruh tua itu.

Saat cerita selesai...

Lelaki tua tersebut tidak langsung menjawab.

Ia justru memejamkan mata cukup lama.

Seolah sedang mencari sesuatu di dalam ingatannya sendiri.

"Sudah sangat lama..."

Bisiknya lirih.

"Aku tidak mendengar kata itu lagi."

Arga mengernyit.

"Kata apa?"

Ruh tua membuka mata.

Tatapannya beralih ke kabut di luar jendela.

"Resonansi."

Nama itu terasa asing.

Namun entah mengapa...

Membuat dada Arga ikut bergetar.

"Apa itu?"

Ruh tua tersenyum kecil.

Senyum yang lebih menyerupai rasa iba.

"Legenda."

Ia berhenti.

"Atau mungkin..."

"...kesalahan yang tidak pernah terulang."


Arga menunggu.

Ia berharap lelaki tua itu menjelaskan lebih banyak.

Namun yang muncul justru keheningan.

"Apa maksudnya?"

Ruh tua menggeleng pelan.

"Aku tidak mengingat semuanya."

"Tidak ada seorang pun di tempat ini yang mengingat semuanya."

Ia mengusap pelan permukaan meja kayu yang telah kusam dimakan waktu.

"Dulu..."

"Kami percaya Resonansi bukan sihir."

"Bukan pula kutukan."

"Lalu apa?"

Ruh tua mengangkat bahu.

"Hanya sebuah peristiwa yang sangat jarang terjadi."

"Peristiwa ketika..."

Ia berhenti.

Keningnya berkerut.

Seolah kata-kata berikutnya menghilang begitu saja.

"Aku lupa."

Arga menundukkan kepala.

"Lupa?"

"Semakin lama tinggal di Dunia Antara..."

"...semakin banyak yang hilang."

Ia tersenyum pahit.

"Termasuk ingatan."

Beberapa saat kemudian ruh tua itu kembali berbicara.

"Tapi..."

"Aku masih mengingat pecahan-pecahannya."

Arga kembali mengangkat kepala.

"Ada yang berkata..."

"...Resonansi hanya mungkin terjadi ketika seseorang berada di ambang hidup dan mati."

Arga terdiam.

Itu sesuai dengan keadaannya saat kecelakaan.

"Ada pula yang berkata..."

"...harus ada panggilan yang lahir dari hati yang paling dalam."

Arga kembali teringat pada suara Rumi.

Lihat selengkapnya