UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #19

BAB 19 - KENANGAN YANG MENOLAK HILANG

Pagi di Dunia Antara selalu datang tanpa matahari yang benar-benar terbit.

Kabut putih perlahan menipis, memperlihatkan tepian Danau Kenangan yang tenang seperti kaca. Burung-burung tidak pernah benar-benar berkicau di tempat itu. Yang terdengar hanya desir angin yang menyapu permukaan air dan bunyi daun-daun Lotus yang sesekali bergesekan.

Rumi datang seorang diri.

Langkahnya pelan, seolah takut mengganggu sesuatu yang sedang tertidur.

Sudah beberapa hari ia datang ke danau dengan harapan yang sama.

Mungkin hari ini.

Mungkin Danau akan kembali memperlihatkan sesuatu.

Mungkin ada jawaban.

Ia berdiri di tepi air.

Menunggu.

Biasanya, sebelum kenangan muncul, satu kelopak Lotus akan gugur lebih dahulu.

Namun pagi itu...

Tidak ada apa-apa.

Permukaan air begitu tenang hingga bayangan langit pucat tergambar sempurna.

Rumi menghela napas panjang.

"...Hari ini juga tidak."

Ia hendak berbalik.

Saat itulah...

Riak kecil muncul.

Bukan karena angin.

Bukan pula karena sesuatu jatuh ke dalam air.

Riak itu muncul sendiri.

Lingkaran demi lingkaran menyebar ke segala arah.

Rumi membeku.

Tak jauh darinya, beberapa penghuni tua yang sedang menyapu halaman rumah kayu ikut berhenti bekerja.

Mereka saling berpandangan.

Wajah mereka berubah pucat.

Seorang lelaki tua berbisik lirih.

"...Sudah lama sekali."

Perempuan tua di sampingnya menelan ludah.

"Danau..."

"...tidak pernah membangkang."

Kalimat itu membuat bulu kuduk Rumi meremang.

Danau Kenangan selalu memiliki aturan.

Ia hanya memperlihatkan kenangan ketika Lotus memilihnya.

Ia tidak pernah bergerak sendiri.

Tidak pernah.

Namun pagi itu...

Air terus beriak.

Perlahan.

Seolah ada tangan tak terlihat yang sedang mengusap permukaannya.

Kabut tipis turun.

Lalu...

Bayangan muncul.

Rumi menahan napas.

Bukan wajah Arga.

Bukan dirinya.

Yang terlihat hanya...

Sepasang tangan.

Satu tangan lelaki.

Satu tangan perempuan.

Saling menggenggam begitu erat.

Tidak ada wajah.

Tidak ada suara.

Hanya genggaman yang seolah takut terlepas.

Sesaat kemudian...

Bayangan itu menghilang.

Permukaan danau kembali tenang.

Seakan tidak pernah terjadi apa pun.

Rumi masih berdiri mematung.

Entah mengapa...

Dadanya terasa sesak.

Seolah ia baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia miliki.


Kabut di Hutan Kabut menggantung lebih rendah dibanding biasanya.

Pepohonan tua berdiri diam seperti penjaga yang menyimpan terlalu banyak rahasia.

Rumi duduk di sebuah batang pohon tumbang.

Ia memeluk lutut.

Tatapannya kosong.

Bayangan dua tangan yang saling menggenggam terus memenuhi pikirannya.

Suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Ia tidak menoleh.

Ia sudah mengenali langkah itu.

Arga.

Beberapa detik berlalu.

Lalu seseorang duduk di sampingnya.

Tidak terlalu dekat.

Namun tidak sejauh biasanya.

Mereka sama-sama memandang ke depan.

Kesunyian memenuhi ruang di antara mereka.

Di Dunia Antara...

Kadang diam jauh lebih jujur dibanding kata-kata.

Arga menarik napas pelan.

"Aku masih belum bisa mengerti semuanya."

Rumi tersenyum tipis.

Senyum yang lebih mirip rasa lelah.

"Aku juga."

Hening kembali turun.

Angin menggerakkan ranting-ranting pohon.

Beberapa daun kering melayang perlahan.

Arga menatap tanah.

Suara berikutnya keluar jauh lebih pelan.

"...Maaf."

Rumi menoleh.

Arga masih tidak berani menatapnya.

"Aku terlalu cepat menyalahkanmu."

Kalimat sederhana itu membuat mata Rumi mulai memanas.

Ia menggigit bibir.

"Kalau memang aku bersalah..."

"...aku rela kau membenciku."

Arga menggeleng pelan.

"Aku hanya lelah."

"Bukan membencimu."

Kalimat itu sederhana.

Namun terasa seperti beban besar yang akhirnya diletakkan.

Rumi menundukkan kepala.

Air matanya jatuh satu tetes.

Lihat selengkapnya