UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #20

BAB 20 - ORANG YANG KUCARI

Kabut pagi menggantung rendah di atas Jembatan Putih.

Jembatan itu membentang melintasi sungai kecil yang airnya tidak pernah benar-benar mengalir. Dari kejauhan, jembatan itu tampak seperti garis tipis yang menghubungkan dua kesunyian.

Arga berdiri sendirian di tengahnya.

Kedua tangannya bertumpu pada pagar kayu.

Tatapannya kosong mengarah ke kejauhan.

Sejak Danau Kenangan memperlihatkan wajah lelaki yang sama persis dengannya semalam, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

"Kalau suatu hari nanti aku lupa siapa dirimu... tolong... temukan aku lagi."

Ia bahkan tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak setiap kali mengingatnya.

Langkah pelan terdengar dari ujung jembatan.

Rumi.

Ia berjalan perlahan.

Tidak seperti biasanya.

Tidak tergesa.

Tidak pula berusaha menyembunyikan kegelisahannya.

Namun beberapa langkah sebelum mencapai Arga, ia berhenti.

Jarak itu terasa aman.

Tidak terlalu jauh.

Tidak terlalu dekat.

Arga mengetahui kehadirannya.

Namun ia tidak menoleh.

Keheningan turun di antara mereka.

Hanya suara angin yang menggesek papan-papan kayu jembatan.

Rumi menarik napas panjang.

"Aku tidak datang untuk meminta kau memaafkanku."

Arga tetap diam.

Rumi menggenggam jemarinya sendiri.

"Karena..."

"Aku sendiri belum tahu apa salahku."

Suara itu bergetar pelan.

"Aku hanya..."

"Tidak ingin kau sendirian."

Kalimat itu melayang bersama embusan angin.

Arga memejamkan mata sesaat.

Entah mengapa...

Kalimat sederhana itu membuat sesuatu dalam dirinya perlahan melunak.

Ia menghela napas.

"Aku juga tidak tahu..."

"...siapa yang harus kusalahkan."

Baru kali itu ia menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak lagi dipenuhi kemarahan.

Hanya kelelahan yang sama.

"Mungkin..."

"Bukan kamu."

"Bukan juga aku."

Ia berhenti sejenak.

Mencari kata-kata yang bahkan tidak ia pahami.

"Mungkin..."

"Ada sesuatu yang belum kita mengerti."

Rumi menatapnya lama.

Lalu...

Senyum kecil akhirnya muncul di wajahnya.

Senyum pertama sejak pertengkaran yang memisahkan mereka.

Senyum yang sederhana.

Namun cukup untuk mengatakan bahwa mereka memilih berhenti saling melukai.

Arga balas tersenyum tipis.

Tidak ada lagi permintaan maaf.

Tidak ada lagi pembelaan.

Karena mereka sama-sama menyadari...

Kadang luka bukan lahir dari kebencian.

Melainkan dari kebenaran yang belum ditemukan.


Sore datang perlahan.

Arga dan Rumi duduk di tepian Danau Kenangan.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada pertanyaan.

Mereka hanya menikmati kesunyian.

Sesekali angin menggerakkan daun Lotus.

Riak kecil muncul di permukaan air.

Lalu menghilang.

Rumi melirik Arga sekilas.

Wajah lelaki itu masih tampak murung.

Namun tidak lagi tertutup seperti beberapa hari sebelumnya.

Tanpa sadar...

Keheningan di antara mereka mulai terasa nyaman.


Di saat yang sama.

Di dunia nyata.

Sore juga turun melalui jendela Bangsal 307.

Cahaya matahari memantul lembut di lantai rumah sakit.

Keira duduk di samping ranjang Arga.

Tangannya menggenggam tangan Arga yang dingin.

Sudah lama ia berada di sana.

Namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Hanya memandang wajah lelaki yang masih terlelap dalam koma.

Wajah yang selama ini selalu ada ketika ia membutuhkan seseorang.

Namun justru paling sering ia abaikan.

Keira tersenyum pahit.

"Aku dulu selalu berpikir..."

"Aku sedang mengejar orang yang tepat."

Air matanya mulai memenuhi pelupuk mata.

"Padahal..."

"Orang itu..."

Lihat selengkapnya