UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #21

BAB 21 - JEJAK YANG TERTINGGAL

Malam di Dunia Antara selalu terasa terlalu sunyi untuk disebut malam.

Tidak ada jangkrik.

Tidak ada suara binatang.

Hanya desir angin yang sesekali mengusap pepohonan dan membawa aroma Lotus yang lembut.

Rumi membuka matanya perlahan.

Dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya.

Napasnya terasa berat.

Entah mengapa, pipinya basah.

Ia mengangkat tangan dan menyentuh wajahnya sendiri.

Air mata.

"Aku..."

Ia duduk di ranjang kayu kecil di rumah yang ditempatinya. Ruangan itu masih gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui jendela.

Ia mencoba mengingat.

Apakah ia baru saja bermimpi buruk?

Tidak.

Tidak ada monster.

Tidak ada ketakutan.

Tidak ada mimpi yang benar-benar bisa ia ceritakan.

Yang tersisa hanya serpihan-serpihan gambar.

Begitu singkat.

Begitu cepat.

Namun terasa begitu nyata.

Rumi memejamkan mata, mencoba menangkap kembali kilasan itu.

Sebuah rumah kayu.

Tua.

Hangat.

Asap tipis keluar dari cerobongnya.

Di halaman depan, seorang lelaki sedang memperbaiki atap.

Ia tidak dapat melihat wajahnya.

Namun suara palu yang memukul kayu terdengar sangat jelas.

Tak jauh dari sana...

Terdengar tawa.

Tawa beberapa orang.

Hangat.

Seperti keluarga yang sedang berkumpul.

Kemudian...

Sebuah suara memanggil.

"Arga..."

Suara itu begitu lembut.

Penuh kasih sayang.

Seolah nama itu telah diucapkan ribuan kali.

Lalu...

Semuanya menghilang.

Rumi membuka mata dengan napas memburu.

Tangannya spontan memegang kepala.

"Apa itu..."

Jantungnya berdetak semakin cepat.

"Itu bukan kenanganku..."

Ia yakin.

Ia tidak pernah tinggal di rumah kayu.

Ia tidak pernah melihat lelaki yang memperbaiki atap itu.

Namun mengapa...

Dadanya terasa sesak seperti seseorang baru saja mengambil sesuatu darinya?

Mengapa suara yang memanggil nama Arga terasa begitu akrab?

Rumi menutup wajahnya.

Air mata kembali jatuh.

Tanpa alasan yang ia mengerti.


Pagi hari.

Kabut tipis masih menggantung di Pulau Lotus.

Arga berdiri di depan Lotus miliknya.

Sebelas kelopak.

Jumlahnya terus berkurang.

Bunga itu masih indah.

Namun kini setiap kelopak yang tersisa terasa seperti hitungan mundur.

Ia tidak lagi melihatnya sebagai bunga.

Melainkan sebagai waktu.

Langkah pelan terdengar dari belakang.

Ruh tua penjaga Pulau Lotus datang membawa kendi kecil berisi air.

Ia menyiram tanah di sekitar bunga dengan gerakan yang sudah sangat terbiasa.

Arga memperhatikannya beberapa saat.

Lalu bertanya pelan.

"Kalau seseorang melihat wajah yang sama di Danau..."

Ruh tua berhenti menyiram.

"...apa artinya?"

Ia tidak langsung menjawab.

Tatapannya tetap tertuju pada Lotus.

Seolah sedang memilih jawaban yang tepat.

"Ada tiga kemungkinan."

Arga menunggu.

"Pertama..."

"Danau sedang memperlihatkan masa lalu."

Ia mengangkat satu jari.

"Kedua..."

"Danau sedang memperlihatkan sesuatu yang belum terjadi."

"Masa depan?"

Ruh tua mengangguk kecil.

"Lalu..."

Ia berhenti.

Sorot matanya berubah jauh lebih dalam.

"Kemungkinan ketiga..."

"Danau sedang memperlihatkan seseorang..."

"...yang belum selesai dengan dirinya sendiri."

Arga mengernyit.

"Maksudnya?"

Ruh tua tersenyum tipis.

"Kalau aku menjelaskannya sekarang..."

"Mungkin kau justru tidak akan mempercayainya."

Ia kembali menyiram bunga.

Seolah percakapan itu telah selesai.

Namun bagi Arga...

Justru baru dimulai.

"Belum selesai dengan dirinya sendiri..."

Kalimat itu terus berputar di kepalanya.

Apakah mungkin...

Orang yang muncul di Danau itu benar-benar dirinya?

Kalau benar...

Mengapa ia tidak mengingat apa pun?

Dan...

Lihat selengkapnya