UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #22

BAB 22 - ORANG YANG PERNAH KUCINTAI

Kabut malam turun lebih pekat dari biasanya.

Danau Kenangan terbentang sunyi di bawah langit tanpa bintang. Airnya begitu tenang hingga tampak seperti cermin yang memantulkan kehampaan.

Tidak seorang pun berbicara.

Para penghuni Dunia Antara berdiri mengelilingi tepian danau dengan wajah tegang.

Sejak beberapa hari terakhir, mereka sadar bahwa Danau Kenangan tidak lagi mematuhi aturan yang telah dijaganya selama ratusan, mungkin ribuan tahun.

Rumi berdiri paling depan.

Entah mengapa, sejak bangun pagi tadi dadanya terus berdebar.

Seolah ada sesuatu yang memanggilnya.

Bukan dengan suara.

Melainkan dengan kerinduan yang tak mampu ia jelaskan.

Angin berembus pelan.

Lalu...

Satu kelopak Lotus jatuh.

Semua mata mengikuti gerakannya.

Kelopak itu melayang perlahan, seolah menolak menyentuh air.

Saat akhirnya menyentuh permukaan danau...

Riak cahaya menyebar ke segala arah.

Namun kali ini berbeda.

Permukaan air tidak memunculkan bayangan.

Tidak pula serpihan kenangan seperti biasanya.

Air danau justru berubah semakin bening.

Semakin dalam.

Hingga batas antara air dan langit perlahan menghilang.

Rasanya seperti sedang memandang sebuah pintu.

Pintu menuju tempat yang telah lama terkunci.

Para ruh tua langsung mundur beberapa langkah.

Wajah mereka berubah pucat.

Seorang lelaki tua berbisik hampir tanpa suara.

"...Sudah dimulai."

Tidak ada yang bertanya apa maksudnya.

Karena semua bisa merasakannya.

Danau...

Sedang memilih seseorang.

Dan orang itu...

Adalah Rumi.


Udara di sekelilingnya berubah hangat.

Kabut perlahan menghilang.

Suara angin berganti menjadi kicau burung.

Aroma Lotus lenyap, digantikan bau tanah basah dan kayu bakar.

Rumi berkedip.

Ketika membuka mata...

Ia tidak lagi berada di Dunia Antara.

Di hadapannya terbentang sebuah desa pegunungan.

Rumah-rumah kayu berdiri sederhana.

Asap mengepul dari dapur.

Anak-anak berlarian di jalan tanah.

Suara tawa memenuhi udara.

Semuanya terasa hidup.

Begitu hidup.

Rumi melihat seorang gadis muda keluar dari sebuah rumah sambil membawa keranjang bambu.

Gadis itu tertawa ketika angin menerbangkan ujung rambutnya.

Wajahnya...

Sama persis dengan dirinya.

Rumi membeku.

"Itu..."

Perempuan muda itu menoleh.

Senyumnya begitu hangat.

Seolah dunia tidak pernah mengenal kesedihan.

Seseorang memanggil dari kejauhan.

"Rumi!"

Perempuan itu spontan menoleh.

Lalu tersenyum lebih lebar.

Ia berlari kecil menuruni jalan.

Rumi mengikuti pandangannya.

Di bawah pohon besar berdiri seorang pemuda.

Wajahnya tertutup cahaya matahari.

Tidak terlihat jelas.

Namun suaranya...

Suara itu.

Jantung Rumi berdegup keras.

Pemuda itu mengangkat tangan.

"Ayo."

"Kita terlambat."

Perempuan itu tertawa kecil.

"Kamu selalu bilang begitu."

Mereka berjalan berdampingan.

Tidak saling menggenggam tangan.

Tidak mengucapkan kata cinta.

Hanya berjalan.

Sesederhana itu.

Namun setiap langkah mereka terasa begitu alami.

Seolah memang sejak awal diciptakan untuk berjalan bersama.


Hari-hari berganti.

Kenangan terus bergerak.

Rumi melihat dirinya yang dulu sedang memasak di dapur sederhana.

Pemuda itu duduk di dekat pintu sambil mengupas buah.

Sesekali mereka saling menatap.

Lalu tertawa tanpa alasan.

Adegan berubah.

Mereka berada di sawah.

Berjalan di pematang sempit.

Pemuda itu membawa cangkul di bahu.

Rumi membawa bekal makan siang.

Tidak banyak percakapan.

Hanya sesekali saling mengingatkan agar berhati-hati.

Lalu sore datang.

Mereka duduk di bawah pohon besar.

Memandang matahari tenggelam.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji manis.

Hanya keheningan.

Namun keheningan itu...

Terasa lebih penuh daripada ribuan kata.

Rumi yang menyaksikan semuanya mulai menangis.

Ia tidak tahu mengapa.

Tetapi hatinya mengenali setiap tempat.

Setiap jalan.

Setiap suara.

Setiap tawa.

Dan...

Pemuda itu.

Walaupun wajahnya masih belum terlihat.

Ia tahu.

Lihat selengkapnya