UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #23

BAB 23 - RESONANSI JIWA

Langkah Arga terdengar pelan di atas jalan batu yang mengarah menuju Danau Kenangan.

Tempat itu tidak pernah benar-benar sunyi.

Selalu ada suara angin yang seperti membawa bisikan orang-orang yang sudah lama pergi.

Semakin dekat ia melangkah, semakin berat napasnya.

Dadanya terasa sesak.

Bukan sakit.

Melainkan seperti ada sesuatu yang sedang berusaha bangun dari tempat yang sangat dalam.

Ia berhenti di tepian danau.

Permukaan air begitu tenang.

Tidak memantulkan langit.

Tidak pula memantulkan wajahnya.

Yang tampak hanyalah cahaya tipis seperti embun.

Arga menatapnya lama.

Lalu...

Sesuatu terjadi.

Bukan gambar.

Bukan suara.

Bukan wajah.

Melainkan...

Perasaan.

Hangat.

Begitu hangat hingga dadanya terasa nyeri.

Seolah ia sedang berdiri di bawah matahari sore bersama seseorang.

Ada tawa.

Ada kebahagiaan.

Ada rasa damai.

Dan rasa itu begitu nyata.

Begitu dekat.

Begitu akrab.

Seakan pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Namun ia tahu.

Ia tidak pernah mengalami semua itu.

Perasaan lain menyusul.

Lebih dalam.

Lebih berat.

Rindu.

Rindu yang begitu besar kepada seseorang yang bahkan tidak mampu ia bayangkan wajahnya.

Matanya berkedip pelan.

Napasnya tercekat.

Tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya sendiri.

"Kenapa..."

Suaranya hampir tak terdengar.

"Aku merasa kehilangan seseorang..."

Ia menelan ludah.

"Yang bahkan tidak pernah kukenal?"

Tidak ada jawaban.

Danau tetap diam.

Namun perasaan itu belum juga menghilang.

Justru semakin memenuhi seluruh tubuhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Arga menangis tanpa tahu alasan.

Bukan karena sedih.

Bukan karena takut.

Melainkan karena merindukan sesuatu yang tidak pernah menjadi miliknya.

Rumah Para Pengingat berdiri seperti biasa.

Kayunya tua.

Udara di dalamnya dipenuhi aroma daun kering dan kayu cendana.

Para ruh duduk melingkar.

Tidak ada yang berbicara.

Mereka hanya memandang Arga yang baru saja masuk.

Seolah mereka telah menunggu saat ini.

Ruh tertua membuka mata.

Tatapannya tenang.

Dalam.

Lalu ia berbicara.

Bukan kepada Rumi.

Melainkan kepada Arga.

"Kau ingin tahu..."

"Mengapa semuanya terasa begitu aneh?"

Arga mengangguk perlahan.

Ia bahkan tidak lagi berusaha menyembunyikan kebingungannya.

"Aku merasa..."

Ia mencari kata-kata.

"...seperti pernah hidup."

"Tapi aku tahu aku tidak pernah hidup seperti itu."

Ruh tua tersenyum tipis.

"Tubuh..."

"Selalu lahir baru."

Suasana menjadi sangat hening.

"Ingatan..."

"Selalu dikosongkan."

Arga mendengarkan tanpa berkedip.

"Tetapi..."

Ruh tua mengangkat tangannya perlahan.

Jarinya menunjuk dada Arga.

"Jiwa..."

"Menyimpan gema."

Arga menunduk.

Tangannya kembali menyentuh dadanya.

Seolah gema itu benar-benar sedang berdenyut di sana.

Ruh tua melanjutkan.

"Kadang..."

"Yang kembali bukan kenangan."

"Melainkan rasa."

Ia tersenyum lembut.

Lihat selengkapnya