Langit di atas Dunia Antara perlahan berubah.
Biasanya langit itu selalu berwarna pucat, seperti senja yang tidak pernah benar-benar berakhir. Namun kali ini, cahaya perlahan menyebar dari ufuk yang tak memiliki matahari. Putih. Hangat. Jernih.
Seluruh penghuni Dunia Antara menghentikan aktivitas mereka.
Ruh-ruh tua meninggalkan beranda rumah kayu. Anak-anak kecil berhenti berlarian di padang bunga lotus. Bahkan angin pun seolah memilih diam.
Mereka semua berjalan menuju Danau Kenangan.
Tak seorang pun bertanya mengapa.
Mereka hanya tahu...
Hari ini sesuatu akan terjadi.
Arga berdiri di tepi danau bersama Rumi.
Permukaan air tampak begitu tenang hingga nyaris seperti kaca.
Di samping mereka, bunga lotus milik Arga masih mengapung.
Namun satu kelopaknya perlahan menguning.
Arga menatapnya tanpa berkedip.
Kelopak itu bergetar.
Lalu...
Terlepas.
Ia jatuh perlahan.
Arga mengira kelopak itu akan tenggelam seperti kelopak-kelopak sebelumnya.
Namun tidak.
Kelopak itu berhenti tepat di atas permukaan air.
Melayang.
Seolah ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
Satu demi satu...
Kelopak-kelopak lain yang selama ini telah gugur muncul kembali dari kedalaman danau.
Tidak basah.
Tidak rusak.
Mereka berputar perlahan mengelilingi danau.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Puluhan.
Seluruh kelopak yang pernah hilang kini kembali.
Ruh-ruh tua saling berpandangan.
Salah seorang di antara mereka berbisik lirih.
"Danau telah memilih."
Tak lama kemudian...
Permukaan air berubah.
Bukan lagi memantulkan bayangan.
Melainkan membuka dirinya seperti sebuah jendela.
Arga melihat dunia lain.
Dunia yang sangat ia kenal.
Hujan.
Suara wiper menyapu kaca depan mobil.
Kota yang basah.
Lampu kendaraan yang memantul di jalanan.
Kotak hadiah di kursi sebelah.
Radio yang memutar lagu pelan.
Semuanya...
Persis seperti hari itu.
Hari terakhir yang masih ia ingat.
Arga membeku.
Ia melihat dirinya sendiri sedang menyetir.
Seolah sedang menonton hidupnya dari luar.
Tidak ada yang berubah.
Tidak ada satu adegan pun yang berbeda.
Bahkan cara dirinya menggenggam kemudi.
Cara ia menghela napas.
Cara hujan mengalir di kaca.
Semuanya sama.
"Aku..."
Suara Arga nyaris tak terdengar.
"Itu aku..."
Danau tidak menjawab.
Ia hanya terus memperlihatkan kenangan.
Mobil melaju perlahan membelah hujan.
Sementara di Dunia Antara...
Rumi ikut menyaksikan.
Entah mengapa, napasnya mulai terasa berat.
Tangannya perlahan menekan dada.
Ada sesuatu yang berdenyut di sana.
Rasa takut.
Namun bukan rasa takut yang berasal dari pikirannya.
Melainkan dari tempat yang lebih dalam.
"Aneh..."
bisiknya.
"Kenapa..."
Ia memejamkan mata sejenak.
"Aku merasa sangat takut..."
Mobil terus melaju.
Tikungan semakin dekat.
Jalanan semakin licin.
Langit semakin gelap.
Arga hanya bisa menatap.
Ia tahu apa yang akan terjadi.
Namun tidak mampu mengubahnya.
Ban depan tergelincir.
Kemudi berputar.
Mobil kehilangan keseimbangan.
Arga di dalam kenangan berusaha mengendalikan kendaraan itu.
Terlambat.
Sementara di Dunia Antara...
Rumi tiba-tiba menangis.
Air matanya mengalir begitu saja.
Ia bahkan tidak tahu mengapa dirinya menangis.
Dadanya seperti kehilangan seseorang.
Padahal...
Ia belum pernah mengenal laki-laki di dalam mobil itu.
Belum pernah berbicara dengannya.
Belum pernah bertemu.
Namun rasa kehilangan itu...
Begitu besar hingga nyaris membuatnya sulit bernapas.
"Jangan..."
bisiknya tanpa sadar.
"Jangan..."
Mobil semakin tak terkendali.
Lalu...
Sebuah nama muncul.
Bukan dari ingatan.
Bukan dari pikiran.
Nama itu muncul dari tempat yang lebih tua daripada ingatan.
Lebih dalam daripada hati.
Lebih purba daripada kehidupan.
Rumi membuka matanya.
Lalu berteriak.
"ARGA!!"
Suara itu mengguncang Dunia Antara.
Danau meledak oleh cahaya.
Kabut yang selama ini menyelimuti danau tersapu dalam sekejap.
Langit bergetar.
Bumi berdenyut.
Lotus-lotus bergoyang hebat.
Seluruh penghuni Dunia Antara terdorong beberapa langkah ke belakang.
Dan tepat pada saat yang sama...
Di dunia nyata...
Arga di dalam mobil mendengar suara itu.
Ia menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya hujan.
Hanya jalan.
Hanya suara napasnya sendiri.
Lalu...
Benturan.