Kabut di Dunia Antara tidak lagi setebal biasanya.
Pagi datang perlahan, menyapu lembut lembah, pepohonan, dan Danau Kenangan yang selama ini selalu diselimuti cahaya pucat. Untuk pertama kalinya sejak Arga tiba di tempat itu, langit tampak begitu jernih.
Semburat keemasan memenuhi cakrawala.
Angin berembus pelan, membawa aroma bunga lotus yang bermekaran di seluruh permukaan danau.
Beberapa burung putih terbang melintasi langit.
Sayap mereka memantulkan cahaya pagi hingga tampak seperti serpihan awan yang hidup.
Arga berjalan perlahan menyusuri tepian danau.
Langkahnya ringan.
Tidak lagi dipenuhi kebingungan seperti saat pertama kali menginjakkan kaki di Dunia Antara.
Ia mengenali jalan setapak berbatu.
Mengenali pohon-pohon tua yang dahulu terasa menyeramkan.
Mengenali suara air yang selalu mengalir tenang.
Tempat ini...
Tak lagi terasa asing.
Namun, untuk pertama kalinya pula, ia sadar bahwa tempat ini bukan rumahnya.
Perjalanannya di sini telah selesai.
Di kejauhan, Rumi duduk di tepian Danau Kenangan.
Ia tidak lagi menatap permukaan air.
Pandangan matanya mengarah pada langit yang perlahan diterangi matahari.
Wajahnya tenang.
Seolah beban yang selama ratusan tahun dipikulnya telah benar-benar terlepas.
Arga mendekat.
Langkahnya berhenti beberapa saat di samping perempuan itu.
"Lagi melihat apa?" tanyanya pelan.
Rumi tersenyum tanpa menoleh.
"Matahari."
Arga ikut memandang ke arah yang sama.
"Aneh."
"Apa?"
"Aku tidak pernah sadar ternyata pagi di sini seindah ini."
Rumi tertawa kecil.
"Tidak."
"Bukan paginya yang berubah."
Arga menoleh.
Rumi akhirnya memandangnya.
"Kitalah yang berubah."
Mereka kemudian duduk berdampingan.
Seperti pertama kali bertemu.
Namun kali ini tidak ada kecanggungan.
Tidak ada jarak.
Tidak ada pertanyaan yang belum terjawab.
Keheningan terasa hangat.
Arga memecahnya lebih dulu.
"Aku masih tidak mengingat siapa dirimu."
Rumi mengangguk pelan.
"Syukurlah."
Arga mengernyit.
Rumi tertawa.
Tawanya ringan.
Tidak lagi menyimpan kesedihan yang dulu selalu terdengar di balik setiap senyum.
"Kalau kau mengingat semuanya..."
katanya pelan,
"...kau tidak akan menjadi Arga yang sekarang."
Arga terdiam.
Ia memahami maksud itu.
Ia tidak ingin menjadi bayangan seseorang.
Ia ingin tetap menjadi dirinya sendiri.
Lelaki yang memiliki kehidupan, keluarga, sahabat, dan masa depan yang belum dijalani.
"Terima kasih."
Rumi menoleh.
"Untuk apa?"
"Karena sudah datang."
Arga tersenyum kecil.
"Kurasa aku datang karena tersesat."
Rumi menggeleng.
"Tidak."
"Kau datang..."
"...karena aku belum selesai."
Kalimat itu melayang di antara mereka.
Tidak menyakitkan.
Justru terasa menenangkan.
"Sekarang..."
Rumi menarik napas panjang.
"...aku sudah selesai."
Rumah Para Pengingat tampak lebih sunyi daripada biasanya.
Ruh-ruh tua berdiri berjajar di halaman.
Tidak ada yang berbicara.
Seolah mereka sedang menyaksikan akhir dari sebuah kisah yang telah mereka tunggu sangat lama.
Ruh tertua melangkah keluar membawa sebuah buku tua.
Sampulnya telah kusam.
Namun ketika dibuka...
Halamannya kosong.
Hanya ada satu kalimat.
Ia membacanya perlahan.
"Setiap jiwa datang ke Dunia Antara..."
"...dengan satu beban."
Ia menutup buku itu.
Tatapannya bergantian jatuh kepada Arga dan Rumi.