UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #26

BAB 26 - KEMBALI

Pagi datang bersama aroma antiseptik yang sudah terlalu akrab.

Keira tertidur di kursi di samping ranjang rumah sakit.

Kepalanya bersandar di tepi kasur.

Salah satu tangannya masih menggenggam tangan Arga.

Sudah berminggu-minggu ia melakukan hal yang sama.

Datang sejak matahari belum terbit.

Pulang ketika malam terlalu larut.

Kadang tertidur tanpa sadar.

Kadang terbangun hanya untuk memastikan monitor jantung masih berbunyi dengan ritme yang sama.

Dokter pernah menyuruhnya beristirahat.

Ibunya pernah memaksanya pulang.

Teman-temannya bergantian menemaninya.

Namun setiap kali malam tiba, Keira selalu kembali.

Ia takut.

Takut Arga membuka mata ketika dirinya tidak ada.

Ruangan masih sunyi.

Hanya suara monitor jantung yang berdetak pelan.

Bip...

Bip...

Bip...

Perawat yang sedang memeriksa cairan infus mencatat sesuatu di papan rekam medis.

Semuanya tampak seperti pagi-pagi sebelumnya.

Lalu...

Jari telunjuk Arga bergerak.

Sangat pelan.

Nyaris tak terlihat.

Perawat mengangkat kepala.

Mengira dirinya hanya salah melihat.

Ia kembali memeriksa infus.

Beberapa detik berlalu.

Jari itu bergerak lagi.

Kali ini lebih jelas.

Perawat membeku.

Matanya membesar.

Ia segera mendekat.

"Pak Arga?"

Tidak ada jawaban.

Namun jemari itu kembali bergerak.

Perawat menekan tombol panggil.

"Dokter!"

Suara langkah kaki segera memenuhi lorong.

Keira masih tertidur.

Ia belum mengetahui bahwa pagi itu...

Akan menjadi pagi yang mengubah segalanya.


"Keira."

Seseorang mengguncang bahunya perlahan.

Keira membuka mata dengan bingung.

Ruangan mendadak ramai.

Dokter.

Perawat.

Suara alat-alat medis.

Ia langsung berdiri.

"Ada apa?"

Dokter tidak menjawab.

Ia sedang memeriksa pupil Arga dengan senter kecil.

"Respons cahaya membaik."

"Tekanan darah stabil."

"Terus observasi."

Keira memandang wajah Arga tanpa berkedip.

Dadanya berdegup sangat keras.

Kelopak mata Arga bergetar.

Pelan.

Sangat pelan.

Seolah ada seseorang yang sedang mendorongnya dari balik tidur yang sangat panjang.

Satu kali.

Dua kali.

Lalu...

Matanya terbuka.

Pandangan pertamanya buram.

Langit-langit putih.

Lampu yang menyilaukan.

Bayangan orang-orang yang berdiri mengelilinginya.

Arga mengerjapkan mata beberapa kali.

Bibirnya bergerak.

Namun yang keluar hanya embusan napas.

Dokter tersenyum lega.

"Jangan dipaksa bicara."

"Pelan-pelan."

Keira menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Air matanya langsung mengalir.

Bukan tangisan yang keras.

Melainkan tangis seseorang yang terlalu lama menahan harapan.

Ia bahkan takut mendekat.

Takut semua ini hanya mimpi.

Perlahan...

Arga memalingkan kepala.

Pandangan mereka bertemu.

Waktu seolah berhenti.

Arga menatap perempuan itu lama.

Seolah sedang memastikan bahwa wajah yang dilihatnya benar-benar nyata.

Lalu bibirnya bergerak.

Dengan suara yang sangat serak.

"...Keira?"

Keira mengangguk berkali-kali.

"Iya..."

Air matanya jatuh semakin deras.

"Iya, Arga..."

"Aku di sini."

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu...

Keira melihat mata Arga kembali memandang dunia.


Hari-hari berikutnya berjalan perlahan.

Lihat selengkapnya