Sudah tiga bulan sejak Arga membuka matanya.
Tiga bulan sejak ia kembali dari batas yang bahkan tak mampu ia jelaskan.
Tubuhnya belum sepenuhnya pulih.
Masih ada bekas luka di bahunya.
Masih ada nyeri yang datang ketika cuaca berubah.
Langkahnya pun belum kembali seperti dulu.
Namun setiap pagi, ia bangun dengan satu keyakinan yang sama.
Ia masih hidup.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
Pagi itu taman kota masih lengang.
Rumput-rumput dipenuhi embun.
Pepohonan bergoyang pelan diterpa angin.
Beberapa orang berlari kecil mengelilingi jalur pejalan kaki.
Di kejauhan, terdengar tawa anak-anak yang sedang bermain.
Arga berdiri di awal jalur terapi.
Di tangannya tidak lagi ada tongkat.
Dokter menyarankan agar hari itu ia mulai belajar mempercayai kekuatan kakinya sendiri.
Keira berdiri beberapa langkah di belakang.
Ia tidak berjalan di samping Arga.
Tidak pula berada terlalu jauh.
Cukup dekat untuk membantu bila dibutuhkan.
Cukup jauh agar Arga merasa dirinya benar-benar sedang berjalan sendiri.
"Aku mulai, ya."
Keira mengangguk sambil tersenyum.
"Aku di sini."
Arga menarik napas panjang.
Lalu melangkah.
Satu langkah.
Langkah kedua terasa lebih mantap.
Langkah ketiga membuat lututnya sedikit bergetar.
Ia berhenti sejenak.
Mengatur napas.
Saat hendak melangkah lagi, telapak kakinya sedikit tergelincir di atas daun yang basah.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Refleks, Keira bergerak maju.
Tangannya hampir menyentuh lengan Arga.
Namun sebelum sempat memegangnya...
Arga tersenyum.
"Boleh aku mencoba sendiri?"
Keira menghentikan langkahnya.
Ada kekhawatiran di matanya.
Tetapi ia menahan diri.
Lalu mengangguk pelan.
"Aku di sini."
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi Arga, kalimat itu lebih kuat daripada bantuan apa pun.
Ia kembali berdiri tegak.
Mengatur napas.
Kemudian melanjutkan langkahnya.
Pelan.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya ia mencapai ujung jalur.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada sorakan.
Hanya dua senyum yang saling bertemu.
Dan rasa bangga yang tidak memerlukan kata-kata.
"Aku berhasil."
Keira mengangguk.
"Iya."
"Kamu berhasil."
Bukan hanya menyelesaikan jalur itu.
Tetapi juga melewati perjalanan panjang untuk kembali menjadi dirinya sendiri.
Beberapa hari kemudian.
Studio kecil milik Arga kembali dibuka.
Ruangan itu masih sama.
Rak kamera.
Lensa-lensa yang tersusun rapi.
Foto-foto lama yang menggantung di dinding.
Hanya saja...
Debu tipis menutupi sebagian meja.
Seolah tempat itu ikut menunggu pemiliknya pulang.
Arga berdiri di depan kamera kesayangannya.
Perlahan ia mengambilnya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Ia mengusap bodi kamera itu dengan ibu jarinya.
Seperti menyapa seorang teman lama.
"Masih ingat cara memakainya?"
tanya Keira sambil bersandar di kusen pintu.
Arga terkekeh pelan.
"Semoga."
Ia mengangkat kamera.
Mengarahkannya ke jendela.
Cahaya matahari pagi masuk melalui tirai tipis.
Membentuk garis-garis lembut di lantai kayu.
Klik.
Suara rana terdengar.
Arga menatap layar kamera.
Hasil fotonya muncul.
Sederhana.
Namun hangat.
Keira mendekat.
"Masih bagus."
Arga tersenyum kecil.
"Dulu..."
katanya pelan,