UNFINISHED LOVE

GAZALI
Chapter #28

BAB 28 - DETAK PERTAMA

Pagi itu rumah mereka dipenuhi cahaya matahari.

Sinar hangat menembus tirai tipis ruang makan, jatuh di atas meja kayu yang belum lama mereka beli bersama. Di sudut ruangan, sebuah pot tanaman kecil mulai mengeluarkan tunas baru.

Keira berdiri di dapur.

Tangannya sibuk menyiapkan sarapan.

Beberapa bulan terakhir, pagi selalu dimulai dengan cara yang hampir sama.

Arga menyeduh kopi.

Keira memasak.

Lalu mereka menikmati sarapan sambil membicarakan hal-hal kecil.

Tentang pekerjaan.

Tentang terapi Arga.

Tentang warna cat kamar yang suatu hari nanti akan berubah menjadi kamar bayi.

Namun pagi itu terasa sedikit berbeda.

Keira baru saja memecahkan telur ke atas wajan ketika wajahnya berubah.

Ia mengernyit.

Aroma telur yang biasanya begitu akrab mendadak terasa menusuk hidungnya.

Dadanya bergejolak.

Ia buru-buru mematikan kompor.

Lalu menutup mulutnya.

"Keira?"

Suara Arga terdengar dari arah ruang tamu.

Ia baru keluar dari kamar dengan rambut yang masih sedikit basah.

Melihat Keira bersandar di meja dapur, ia langsung menghampiri.

"Masakannya gosong?"

Keira menggeleng pelan.

"Enggak."

Ia tersenyum canggung.

"Aku aja yang tiba-tiba mual."

Arga langsung menyentuh dahinya.

Tangannya terasa hangat.

"Badanmu nggak panas."

Keira mengangguk.

"Aku juga nggak pusing."

"Lalu kenapa?"

"Mungkin masuk angin."

Arga tidak tampak yakin.

Tatapannya tetap dipenuhi kekhawatiran.

"Kalau masih begini nanti siang, kita ke dokter."

Keira tersenyum.

"Iya."

Melihat wajah Arga yang begitu serius, ia justru merasa tenang.

Selama ini, Arga selalu menjadi orang yang sulit meminta bantuan.

Kini, tanpa diminta, ia belajar menjaga orang lain.


Siang hari.

Rumah kembali sunyi.

Arga sedang menjemur pakaian di halaman belakang.

Keira duduk sendirian di tepi tempat tidur.

Ponselnya berada di tangan.

Ia membuka aplikasi kalender.

Jarinya berhenti pada sebuah tanggal.

Lalu berpindah ke bulan berikutnya.

Kemudian kembali menghitung.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Wajahnya perlahan berubah.

"Nggak mungkin..."

bisiknya.

Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya.

Belum ada perubahan apa pun.

Belum ada tanda yang terlihat.

Namun ada sesuatu yang membuat jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Pintu kamar terbuka.

Arga masuk sambil membawa segelas air.

"Nih."

Keira buru-buru mematikan layar ponselnya.

"Makasih."

Arga duduk di sampingnya.

"Kamu kelihatan kepikiran."

Keira tersenyum tipis.

"Belum tahu."

"Hm?"

Ia menarik napas perlahan.

"Besok..."

"...temani aku ke rumah sakit, ya."

Arga tidak bertanya macam-macam.

Ia hanya mengangguk.

"Tentu."

Baginya, alasan itu tidak penting.

Kalau Keira membutuhkan dirinya, maka ia akan datang.

Sesederhana itu.

Lihat selengkapnya