Tujuh bulan berlalu begitu cepat.
Musim berganti tanpa terasa.
Bekas luka di tubuh Arga kini tinggal garis tipis yang mulai memudar. Langkahnya kembali mantap. Tongkat yang dulu selalu menemaninya kini telah lama tersimpan di gudang.
Namun perubahan terbesar bukanlah pada tubuhnya.
Melainkan pada cara ia memandang hidup.
Dulu ia selalu berjalan mengejar waktu.
Kini ia belajar menikmati setiap harinya.
Karena ia tahu...
Tidak semua hal yang berharga harus dikejar.
Sebagian cukup disambut ketika waktunya tiba.
Sebuah kamar kecil di ujung rumah dipenuhi suara palu.
Arga berdiri di atas bangku pendek sambil memegang bor listrik.
Di depannya, sebuah rak buku mungil hampir selesai dipasang.
"Hampir jadi."
katanya percaya diri.
Keira yang berdiri di pintu kamar hanya memperhatikan sambil tersenyum.
"Yakin?"
Arga mengangguk mantap.
"Seratus persen."
Ia turun dari bangku.
Mereka berdua memandangi hasil pekerjaannya.
Hening.
Keira memiringkan kepala sedikit.
"Mas..."
"Hm?"
"Itu raknya..."
Arga ikut memiringkan kepala.
Baru sekarang ia menyadari.
Rak itu benar-benar miring.
Bukan sedikit.
Melainkan cukup miring hingga buku mungkin akan meluncur sendiri jika diletakkan di atasnya.
Arga menggaruk tengkuk.
"Kayaknya dinding kita yang miring."
Keira langsung tertawa.
"Bukan dindingnya."
"Bor-mu."
Arga kembali naik ke bangku.
"Sebentar."
"Aku benerin."
Sepuluh menit kemudian...
Rak itu justru tampak lebih miring daripada sebelumnya.
Keira sudah tidak mampu menahan tawanya.
"Mas..."
"Iya?"
"Kalau diterusin, nanti bukunya bisa jalan sendiri."
Arga akhirnya menyerah.
Sore itu mereka memanggil Pak Hasan, tetangga sebelah yang terkenal pandai memperbaiki apa saja.
Lima belas menit kemudian...
Rak itu berdiri lurus.
"Begini, Mas."
kata Pak Hasan sambil tersenyum.
"Kadang kalau mau bikin rumah nyaman, nggak harus semuanya dikerjakan sendiri."
Arga tertawa malu.
"Iya, Pak."
Setelah Pak Hasan pulang, mereka kembali masuk ke kamar kecil itu.
Di sudut ruangan berdiri sebuah ranjang bayi yang baru selesai dirakit.
Di sampingnya ada rak buku mungil.
Lemari kecil.
Dan kursi goyang sederhana.
Arga berdiri cukup lama memandang semuanya.
"Dulu..."
ucapnya pelan.
"Aku takut rumah ini terlalu sepi."
Ia mengembuskan napas panjang.
"Sekarang..."
"Aku malah takut nanti terlalu ramai."
Keira tertawa kecil.
"Percayalah."
"Nanti kalau dia lagi tidur..."
"...kamu malah kangen suara tangisnya."
Arga menoleh.
"Masa?"
Keira mengangguk mantap.
"Semua orang tua bilang begitu."
Arga kembali memandang kamar kecil itu.
Sulit dipercaya.
Ruangan yang dulu hanya menjadi gudang penyimpanan kini akan menjadi tempat seseorang memulai hidupnya.
Beberapa hari kemudian.
Ruang tamu berubah menjadi "kelas" bagi seorang calon ayah.
Di atas meja berserakan buku-buku tentang bayi.
Cara menggendong.
Cara memandikan.
Cara membedong.
Cara menenangkan bayi yang menangis.
Arga membaca semuanya dengan wajah sangat serius.
Hari itu ia memegang sebuah boneka kain.
"Katanya dibungkus rapat."
gumamnya.
Ia mengambil kain bedong.
Melipat.
Memutar.
Mengikat.
Lima menit kemudian...
Boneka itu justru tampak seperti gulungan karpet.
Keira yang sejak tadi diam-diam merekam menggunakan ponselnya akhirnya tidak sanggup menahan tawa.
"Kasihan anak kita."
Arga menoleh.
"Kok kasihan?"
"Kalau latihan Ayahnya begini..."
"...dia bisa protes dari hari pertama."
Arga ikut tertawa.
"Masih latihan."
Ia membuka kembali kain bedong.
Lalu mencoba lagi.