Koridor rumah sakit kembali menjadi tempat Arga menunggu.
Beberapa bulan yang lalu...
Lorong seperti inilah yang dipenuhi orang-orang yang menunggu dirinya membuka mata.
Hari itu...
Keadaannya berbalik.
Kini ia berdiri sebagai seseorang yang menunggu kehidupan baru datang ke dunia.
Lampu-lampu rumah sakit menyala lembut.
Jam dinding bergerak lambat.
Setiap beberapa menit, Arga berjalan dari satu ujung koridor ke ujung lainnya.
Lalu kembali lagi.
Sesekali ia berhenti di depan pintu ruang bersalin.
Sesekali ia menunduk memandangi cincin di jari manisnya.
Jari yang dulu hampir tak mampu bergerak.
Kini bergetar karena harapan.
Ia menarik napas panjang.
Kemudian tersenyum sendiri.
"Ayo..."
bisiknya pelan.
"Kami sudah menunggumu."
Di balik pintu itu...
Keira sedang berjuang.
Dan untuk pertama kalinya...
Arga menyadari bahwa ada perjuangan yang tidak bisa ia gantikan.
Yang bisa ia lakukan hanyalah tetap berada di sana.
Menunggu.
Dengan seluruh doa yang ia miliki.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Lalu...
Suara itu akhirnya terdengar.
Tangisan bayi.
Nyaring.
Jernih.
Memenuhi lorong rumah sakit.
Arga langsung menghentikan langkahnya.
Dadanya berdegup begitu keras hingga ia hampir lupa bernapas.
Pintu ruang bersalin terbuka.
Dokter keluar sambil melepaskan masker.
Senyumnya lebar.
"Selamat."
"Ibu dan bayinya sehat."
Arga memejamkan mata.
Kedua tangannya menutupi wajah.
Air mata mengalir tanpa bisa ditahan.
Ia mengangguk berkali-kali.
Tak satu kata pun mampu keluar.
Semua rasa syukur itu terlalu besar untuk diucapkan.
Beberapa saat kemudian...
Arga memasuki ruang rawat.
Keira tampak sangat lelah.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya pucat.
Namun tak pernah sebelumnya Arga melihat senyum seindah itu.
Di pelukannya...
Seorang bayi kecil tertidur dengan damai.
Arga mendekat perlahan.
Seolah takut langkahnya akan membangunkan dunia yang begitu rapuh.
Keira mengangkat bayi itu sedikit.
"Mau gendong?"
Arga mengangguk.
Tangannya sedikit gemetar ketika menerima tubuh mungil itu.
Begitu ringan.
Begitu hangat.
Begitu kecil.
Ia menatap wajah bayinya lama.
Bulu mata yang masih sangat tipis.
Jari-jari mungil yang terus bergerak.
Hidung kecil.
Pipi yang kemerahan.
"Halo..."
bisiknya.
"Aku Ayah."
Seolah mengenali suara itu...
Bayi kecil tersebut bergerak pelan.