‘Konon, pria tidak takut pada apa pun selain penciptanya dan kehilangan orang yang ia cintai.’
***
Sebuah van hitam melaju dengan kecepatan sedang melalui celah-celah kendaraan yang berlalu di jalan raya. Di jok tengah, duduk seorang perempuan berambut merah jambu sebahu dan perempuan berambut hitam bersanggul. Perempuan berambut hitam sanggul tampak menggulir tabletnya dengan fokus, sedangkan perempuan berambut merah jambu tampak dengan tenangnya membaca buku.
“Merlin,” panggil perempuan berambut merah jambu tanpa mengalihkan tatapannya dari buku. “Bagaimana pendapatmu mengenai ini?”
Perempuan berambut hitam bersanggul di sebelahnya menoleh dengan penuh tanda tanya pada perempuan berambut merah jambu.
“Coba pinjam bukumu, Lina.”
Perempuan berambut merah jambu mengangguki permintaan Merlin dan menyodorkan buku bersampul putih yang semula berada di pangkuannya.
Merlin, yang telah mendapatkan akses sepenuhnya terhadap buku tersebut, membolak-balikkannya sebelum membaca halaman yang ditandai Rosalina dengan pita biru.
“Ini, sih, sudah pasti.”
Alis Rosalina terangkat begitu mendengar tanggapan yakin Merlin. Keheranannya bertambah ketika buku itu dikembalikan kepadanya oleh Merlin dengan tatapan serius.
“Jangankan pria. Wanita pun akan merasa takut ketika mereka kehilangan seseorang yang benar-benar mereka cintai,” tutur Merlin. “Aku bukannya setuju karena aku manajermu, tapi karena aku juga temanmu. Kukatakan itu karena aku mengerti apa yang sedang kau pikirkan saat ini.”
Rosalina menggigit bibir bawahnya sambil membuang wajah ke jendela sebelah kiri. “Dia tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun saat membuangku, Merlin.”
“Tidak, dia pasti merasa takut,” sanggah Merlin sambil menggenggam pundak Rosalina lembut. “Hanya saja, ketakutannya melukaimu lebih besar dari ketakutannya kehilanganmu.”
Penuturan Merlin membuat Rosalina menghela napas getir. Namun, seolah teringat sesuatu, Rosalina memicingkan matanya dan mendesis, “Sial, aku begini lagi.”
Merlin menatap Rosalina dengan prihatin. Ia kemudian merogoh tas bahu hitam di sampingnya dan menyodorkan kepada Rosalina sebungkus cokelat batang.
Manisan itu berhasil mencuri perhatian Rosalina. “Kapan dan di mana kamu mendapatkan cokelat itu?”
“Tadi,” jawab Merlin dengan kekehan kecil, “di minimarket rest area saat kamu sedang tidur.”
Rosalina tampak tidak ingin ambil pusing dengan menyambar cokelat batang berukuran kecil tersebut dan membuka kertas aluminiumnya sedikit terburu-buru.
“Pelan-pelanlah memakannya agar lidahmu tak tergigit lagi. Aku bisa minta sopir melambatkan mobil kalau kamu ingin menghabiskan cokelatmu terlebih dahulu sebelum sampai di auditorium,” tutur Merlin.
Sambil mengunyah cokelatnya, Rosalina menggeleng sekali.