Unfocused.

Amni Vora
Chapter #2

The Tip of The Iceberg

Art is not what I create. What I create is chaos - Halsey in “Colors”

Catatan: percakapan berhuruf miring di bab ini menandakan percakapan terjadi di masa lampau.

.

.

Jonathan tidak lahir di kalangan berada.

Seorang perintis. Begitulah orang-orang menyebutnya—mereka yang berusaha meraih kesuksesan tanpa sokongan atau warisan.

Lewat lensa dan cahaya, Jonathan selalu berharap. Namun, seorang perempuan pun pernah membuatnya begitu berharap. Berharap agar perempuan itu dapat berdiri di sampingnya. Bukan di depannya. Bukan pula di belakangnya.

Perempuan itu adalah Rosalina.

Rambut merah jambu gelap bergelombang yang seolah-olah menghidupi unsur bunga mawar dalam namanya tidak pernah luput dari rasa penasaran Jonathan. Tapi lambat laun, Jonathan tak lagi memikirkan apa pun tentang warna rambut Rosalina dan sibuk terkesima olehnya. Setidaknya, setengah dekade hubungan mereka berjalan dengan damai dan mesra.

Hingga pada suatu malam, di sebuah pesta rekanannya, Jonathan melihat Rosalina membantu seorang wanita menepi dari lantai dansa karena wanita itu tampak limbung di tengah-tengah acara dansa.

Jonathan, yang waktu itu datang bersama Rosalina, sengaja tidak memberi tahu Rosalina tentang niat sesungguhnya ia datang ke pesta, yakni mencari peluang. Jika Jonathan tahu wanita itu akan memberi Rosalina panggung yang seharusnya menjadi miliknya, ia tidak akan diam sejak awal. Atau bahkan tidak akan mengajak Rosalina ke pesta.

Jonathan terlalu tertegun untuk bersikap maupun berkata-kata. Melihat sebuah jalan menuju kesuksesan yang jatuh pada seseorang yang baik hati memang memuaskan secara normatif. Namun, melihat impiannya tidak jatuh padanya yang sudah bekerja keras lebih menyakitkan.

Karena itulah, Jonathan memutuskan untuk pergi dari pesta dan membiarkan Rosalina mendapatkan impiannya.

Rasa sakit itu tidak berhenti sampai sana. Esok harinya, Rosalina menghubungi Jonathan untuk menemaninya ke sebuah studio. Jonathan tidak bertanya dan membawa apa-apa selain ponselnya, seperti orang yang memasrahkan dirinya pada segala hal.

Ingat wanita anggun yang berhenti berdansa semalam?” tanya Rosalina waktu itu sembari menahan langkahnya di depan pintu studio.

Jonathan mengangguk tanpa kata-kata

Rosalina, yang saat itu belum menyadari badai di dalam Jonathan, tersenyum cerah. “Ia mengizinkanku mengambil fotonya. Bahkan, saat kutanya apakah aku boleh menggambarnya dalam sketsa minimalis, ia mengangguk antusias dan memintaku mengabarinya jika sudah selesai.

Sebuah belati seolah-olah dilempar ke benak Jonathan begitu saja. Wanita yang dibantu Rosalina bukanlah sembarang orang; ia adalah pemilik yayasan seni terkaya yang hobi mengadakan pameran—dan Rosalina tidak tahu tentangnya karena Jonathan tidak memberitahukan hal itu kepada Rosalina untuk menghindari persaingan.

Kendati demikian, ada hal-hal yang tidak bisa ia cegah. Seperti momen itu, contohnya.

Jonathan memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Rosalina seusai perempuan itu menjelaskan sketsa tentang wanita pemilik yayasan. Mengapa? Untuk mencegah timbulnya luka yang lebih menganga dan menyebar. Bagaimana perempuan itu menjelaskan proses penciptaan sketsa dari foto yang diambilnya memukau dan menyakitkan di saat yang bersamaan.

Jonathan sadar bahwa sekeras apa pun ia berusaha naik ke puncak, ia akan kalah oleh seseorang yang secara alami begitu cekatan dan memiliki lebih banyak modal. Sementara yang ia miliki hanyalah bakat dan tekad yang terlalu rapuh untuk membawanya ke mimpinya yang besar.

Setahun lamanya, Jonathan kembali berharap dan berusaha, berpikir ada orang lain yang mampu membantunya mewujudkan cita-citanya menjadi seorang fotografer ternama. Namun, tidak ada.

Luka yang telah bersarang lama di benaknya perlahan berubah menjadi sesuatu yang busuk dan mengakar: dendam.

Lihat selengkapnya