Unless

Gita Karmani
Chapter #1

Prolog

Lidya

Namanya Damar. Ia memiliki lingkar mata hitam gelap dan ekspresi jutek. Itulah kesan pertama yang aku dapat ketika pertama kalinya kami bertemu. Lelaki itu mengenakan celana jeans berwarna hitam, kemeja kotak-kotak hitam putih layaknya papan catur, serta sepatu keds berwarna perpaduan hitam dan putih. Sepertinya dia ini penggila zebra atau catur mungkin, karena perpaduan gaya berpakaiannya yang menurutku begitu mencolok namun terlihat kasual dan matching. Tetapi, jika dilihat lebih dekat, ia memiliki tubuh kurus dan tinggi sekitar 172 sentimeter, rambut ikal bergelombang yang ditata sedemikian rupa dan terkesan bergaya, serta memiliki wajah tirus dan hidung mancung. Ah, warna kulitnya yang sawo matang itu terlihat dari kedua lengan kemejanya yang sengaja disisingkan tujuh per delapan bagian. Membuat perempuan manapun pasti akan melirik dan menganggapnya menarik.

“Sebelum kita memulai ospek tiga hari lagi, ada baiknya kita berkenalan dulu.” Seru lelaki botak yang dipanggil teman-teman dengan sebutan comel (padahal nama aslinya adalah Tyo siapalah itu aku tidak peduli) karena dia adalah orang yang selalu berkoar-koar di grup sosial media setiap harinya mengenai agenda-agenda apa saja yang harus dilakukan oleh mahasiswa baru sebelum mereka akan memasuki masa ‘neraka’ di awal universitas. Belum lagi dia suka mengirim status di linimasa salah satu situs jejaring sosial setiap harinya. Padahal isi statusnya juga tidak penting sama sekali. Seperti mari makan, selamat tidur ya semoga besok menjadi berkah, dan berbagai status yang kusebut norak. Penting sekali mengucapkan begitu di media sosial?

Dengan malas, aku mengulurkan tangan pada orang di depanku ini. “Hai, namaku Lidya.” Balasku pendek dan lelaki itu—yang kebetulan berada di hadapanku menghunjamku dengan tatapan jijik begitu ia menatapku dari atas kepala sampai bawah kaki. Layaknya aku ini adalah bakteri yang harus segera disingkirkan dan bersifat patogen.

“Damar.” Balasnya pendek sambil mengulurkan tangannya. Dan datanglah tatapan jutek dari mata hitamnya itu. Cih. Baru juga awal pertemuan sudah melayangkan tatapan seperti itu. Aku sama sekali tidak mengerti apa motivasinya lelaki di depanku menunjukkan yang seperti itu. Mau berlagak keren? Atau memang ekspresinya sejak lahir seperti itu?

Masa bodoh, makiku dalam hati. Mengapa pula aku harus peduli? Memangnya dia siapa?

Lihat selengkapnya