UNQUALIFIED

Putri Lailani
Chapter #15

Lena dan Angga Akhirnya Bertemu

Begitu tiba di rumah sakit, Alena langsung berlari menuju ruang IGD sambil berurai air mata. Baru mau bertanya kepada suster jaga, ia malah melihat Daniel dan Dania yang melambaikan tangan kepadanya. Maka ia pun langsung menghampiri mereka.

“Mba Lena, masuk aja,” ujar Daniel cepat, “udah ada Bi Mar sama Angga di dalam.”

Namun, Alena shock karena melihat Tika berdiri di hadapannya. Tika juga balas menatapnya. Sedang apa ia disini? Alena enggan menggubris dan langsung masuk saja.

“Papa…papa,” isaknya begitu melihat ayahnya terbaring lemah, dengan selang oksigen di hidungnya dan tubuhnya yang penuh perban. Bunyi monitor detak jantung terdengar jelas sekali. Ia melihat sosok Bi Mar yang membelakanginya dan menoleh kepadanya.

“Non Lena,” isak wanita itu.

Di sebelahnya ada sosok pria. Namun, sayangnya sebagian tubuhnya tertutup tirai sehingga tak terlihat jelas. Alena langsung menghambur  dan mendekati ayahnya.

“Papa,” isaknya sambil memegangi tangan ayahnya. Ia berdiri persis di depan Bi Mar dan putranya yang wajahnya belum Alena lihat.

Namun, pria itu langsung shock begitu melihat wajah itu.

“Papa.” Alena menggoyang – goyangkan tubuh ayahnya.

Ayahnya kemudian membuka mata sambil tersenyum. Pria usia senja itu terlihat lemah.

“Kok papa bisa kecelakaan sih? Siapa yang nabrak papa?” Isaknya.

“Non Lena, biar papa istirahat dulu ya,” ujar Bi Mar lembut.

“Pa, papa bertahan ya jangan tinggalin Lena,” isak gadis itu, “Lena kan cuma punya papa.”

Ayahnya itu tersenyum dan mencoba bicara dengan suara parau, “Lena kan sekarang udah dewasa, jadi harus bisa sendiri ya tanpa papa.”

Alena pun menangis semakin kencang, “papa ngomong apa, sih?”

Tanpa mereka sadari, tenggorokan Angga alias Iqbal tercekat. Ia tak percaya melihat sosok yang berdiri di depannya kini. Benarkah gadis ini adalah Lena? Anak dari orang yang sudah menyekolahkannya? Teman masa kecilnya yang dulu begitu dekat dan baik kepadanya? Gadis yang sudah menjaga ibunya selama ini. Ternyata gadis sama dengan yang ia kasari kemarin.

Sekujur tubuhnya mendadak kaku. Matanya tak mau lepas dari gadis itu. Ia masih mencerna ini semua. Gadis itu masih belum menyadari keberadaan dirinya karena sibuk menangisi ayahnya. Jika Lena adalah Alen, maka dirinya benar – benar merasa hina. Air mata Iqbal kini mengalir deras. Rasa sesal menggerogoti pikirannya. Kenyataan ini benar – benar menyesakkan dada.

Padahal gadis itu sering menyebutkan jika mereka pernah bertemu sebelumnya. Namun, mengapa dirinya tak pernah sadar? Setidaknya punya feeling kalau gadis itu adalah bagian dari masa lalunya. Cinta pertamanya.

“Lagian Lena nggak sendiri, banyak orang yang jagain Lena,” ujar ayahnya kepada Alena.

Lihat selengkapnya