Selamat datang di rumah “Unromantic Family”. Di ruang depan ada Ayah yang lagi sarapan koran. Bener! Bukan sarapan gorengan, nasi uduk, lontong sayur. Ayah lebih suka sarapan pake koran ditambah kopi pahit yang takaran gulanya hanya Mama yang tahu. Di kamar ada Mbak Kania yang sabtu minggu selalu sibuk pergi ke mana hati dia senang. Sementara si bungsu yang duduk di meja makan lagi sarapan nasi goreng porsi kuli.
“Ini bekal buat Kania, ini punya Ano ya.” nasi goreng plus telor mata sapi masih mengepul, perut gue keroncongan. Apakah manusia yang tidak memiliki agenda tidak berhak sarapan?
“Kamu bangunnya kesiangan! Mama nggak tau kalo mau juga.” Gue menyipitkan mata, duduk lemas di meja makan sambil berpikir mengeluarkan jurus. Jurus apa yang kira-kira bisa memindahkan makanan langsung ke dalam perut.
“Aku bangun jam tiga subuh. Sholat tahajjud, shalat taubat, shalat qabliyah subuh, kok dibilang kesiangan! Ada juga Kania yang kesiangan. Masa sholat subuh jam setengah tujuh, malu sama ayam!”
Setelah mendengar itu, tentu saja Mama langsung menghampiri Kania dan menceramahinya panjang lebar. Makan tuh sarapan omelan!
“Argaaa!! Lapeerrrr!! Hallo! Udah bangun belom?”
“Ih, gila! Orang mau sarapan tuh jalan cari makanan, malah nelepon orang.” Kania duduk di samping gue, sambil membungkus bekalnya yang sudah disiapkan. Karena merasa terganggu, gue pindah ke ruang tv. “Bubur aja, nggak mau nasi uduk.”
“Jangan lama-lama, keburu pingsan.” Mendengar gue bicara demikian, ekspresi Kania syok lagi, ekspresinya kalau diterjemahkan mungkin lebih ke dominan perasaan malu, tapi nggak bisa berkata apa-apa karena itu udah biasa.
Tak lama kemudian, Arga datang membawa dua bungkus bubur, basa-basi dia menawarkan sarapan ke Ayah yang hanya dibalas dengan anggukan yang berarti terima kasih. Saat gue pengen menikmati bubur, Kania lewat dengan outfitnya yang mau pergi hiking.
“Awas jangan robek, jaket gue baru beli kemarin banget.”
“Ya nggak bakal robek, lah, kan ini tebel.” Kania merengut, mungkin dia pegal menjelaskan hal ini berkali-kali ke gue, tapi bodo amat. Itu jaket baru beli buat hiking bulan depan, sialnya dia yang make duluan.
“Ya kali aja lu jatoh terus kena ranting-ranting pohon, trus jaket gue sobek!”
“Gila lu! Doain gue jatoh?”
“Kalo jatoh, jangan sampe jaket gue rusak.”
“Udah ah, Ayah, Kania berangkat!” Kania selesai memakai Sepatu. Gue sama Arga mulai makan.
“Punya saudara itu enaknya kalo kita butuh apa-apa bisa pinjem.” Arga komentar setelah mendengar percakapan gue dengan Kania.
“Itu sih kata anak Tunggal, ya. Beda cerita kalo lu punya banyak saudara. Tas dipinjem, jaket dipinjem, semua dipinjem, iya kalo barangnya nggak rusak. Kalo barangnya rusak? Musibah!”
“Woi, jangan lupa pake MBK. Ketek lu bau, kan.” Gue mengingatkan Ano yang hendak pergi ekskul ke sekolahnya. Biasanya kami serumah yang mengingatkan Ano untuk pakai deodorant. Bahkan Ayah yang jarang bicara di rumah pun ikut turun tangan menyuruh Ano untuk pakai wewangian karena tak tahan dengan satu rumah yang mendadak pengharum ruangannya jadi bau ketek Ano. Gue nggak bisa jelasin dan deskripsiin gimana baunya sampe satu keluarga selalu ngingetin. Pokoknya kalo kalian nyium bau ketek Ano, itu pasti kepala kalian bakalan pusing karena sangking baunya. Sampe sini paham kan, kenapa satu rumah cerewet masalah pake deodorant.
“Udah, telat lu ngingetinnya.”
“Pake parfum lagi biar nggak bau.”
“Ih, cerewet banget! Kok lu tahan si bang, temenan sama kakak gua.” Arga tidak bisa berkata apa-apa. Dia selesai makan buburnya duluan, sementara punya gue masih sisa setengah.
Arga pergi ke dapur, mengambil minum, lalu kembali duduk lagi. “Jangan temenin kakak gua dah mulai sekarang.” Arga yang mendengarnya tertawa, sementara gue melotot.
“Kenapa lu ngatur Arga!”
“Nggak usah temenan sama dia. Dia pengangguran, nggak punya duit, minta-minta mulu lagi. Ya, kan? Pagi-pagi aja lu udah dimintain sarapan.” Arga yang mendengarnya mendadak terpingkal-pingkal sampai tersedak.