Unromantic Family

Wulansaf
Chapter #3

Bab 3 : Mimpi Wisuda Bahagia

Ketika waktu senggang, gue membuka foto-foto yang baru Arga cetak beberapa waktu lalu. Sebenernya udah cukup lama, tapi gue belom pasang di bingkai karena bingkainya belum kebeli. Karena sekarang bingkainya udah ada, gue pasang foto iconic itu yang menampilkan gue sama Arga dengan jubah dan toga yang waktu itu fotonya setelah satu bulan setelah wisuda. Kebetulan Arga emang lulus lebih cepet dibanding gue. Sialan, emang!

Satu lagi, gue mencetak foto wisuda gue dan Mama yang ketika melihatnya gue sedikit benci, tidak ada wajah kebahagiaan di sana, tidak ada bucket atau coklat serta bunga yang gue bawa hari itu. Kamera dan hasil foto hanya menampilkan ekspresi wajah gue yang sama sekali nggak bahagia, juga mata merah yang keliatan nahan nangis karena merasa wisuda yang gue tunggu-tunggu selama empat tahun tidak sebahagia kelihatannya.

Padahal gue selalu inget momen gimana gue yang selalu excited kalo udah inget sama momen wisuda yang akan gue hadiri ketika lulus nanti.

Waktu semester 4.

“Nanti kira-kira, kita wisudanya bareng apa nggak ya, Ga.” Gue menatap laptop Arga yang dipenuhi dengan tugas-tugas kuliahnya.

“Kayaknya sih, gue duluan yang lulus, lo aja males gitu kuliahnya. Nggak ada gairah kuliah.” Gue setuju dengan apa yang Arga katakan dan langsung mengambil bantal kecil lalu tiduran di sofa.

“Tuh, kan! Baru gue bilang, udah mau rebahan lagi.”

“Laptop lo bikin gue pusing, tau!” Arga mendekat dan mengutak-atik laptopnya. “Geseran dikit napa…”

“Ah, rumah-rumah siapa sih! Di sana luas.”

“Rumah gue setan! Udah jadi kaya rumah lo.”

“Gue lagi mikirin, nanti wisuda kira-kira bajunya model kayak gimana, ya. make-up-nya mending sendiri aja apa pake MUA, ya?”

“Nggak usah kepikiran jauh banget gitu! Kerjain aja dulu tugas lo!” gue cemberut dan Arga selesai mengutak-atik laptopnya lalu memberikannya kepada gue.

Dari semester satu, gue selalu kepikiran momen wisuda kayaknya bakal jadi momen paling bahagia nanti. Kalian ngebayangin nggak sih, momen wisuda itu bakalan dihadirin sama keluarga gue yang cuek dan tidak hangat itu? Kayak, bakal seakward apa ya kira-kira? Soalnya wisuda kan berkaitan sama pelukan, ciuman, kalimat-kalimat romantis dan sebagainya. Apakah keluarga gue sanggup ada diposisi itu? Apakah mereka akan mengatakan, “Saya bangga anak saya sudah wisuda dan menjadi orang…” apakah akan seperti itu? Kita lihat nanti.

Kuliah semester 7

“Ga, gue bingung mau milih kado wisuda apa buat temen. Kayaknya kado wisuda mahal-mahal, ya?”

“Kalo yang bagus, sih, mahal. Beli yang murah-murah aja.”

“Ih, malu lah beli yang murah.” Tiba-tiba Arga masuk ke dalam dan memanggil Mama gue yang sedang berada di ruang tamu. “Tante. Kiana lagi nyiksa hewan.” Terdengar gerungan kucing yang sedang gue pegang dan meronta-ronta.

“Kiana! Kamu nih ngapain sih, kucing kok dikasih bau jigong kamu kayak gitu! Bau tau, nggak! Nggak malu kamu sama Arga?” gue menghentikan apa yang gue perbuat karena ketika gue bermain-main dengan Owi kucing kesayangannya itu, pasti Mama langsung mengambilnya dan menggendongnya layaknya anak bayi.

“Kenapa sih, apa yang gue perbuat selalu ditanya, ‘malu dong sama Arga’, ngapain malu! Orang gue pake baju!” gue mendumel dan Arga hanya terdiam. Gue memberikan tablet itu pada Arga untuk membantu gue memilihkan bucket dan hadiah lainnya.

“Emang kapan sih, wisudanya, ribet amat. Kasih apa aja yang penting sesuai budget lo! Lo nggak bawa apa-apa juga dia seneng.”

“Gila! Dia bestie gue, Ga! Kita temenan pas SMA. Masa dateng nggak bawa apa-apa! ANEH!” sejujurnya milih kado wisuda bikin gue pusing udah dari berbulan-bu;an yang lalu. Gue sanget memikirkan pribadinya yang barangkali nggak suka sama kado yang gue bawa, gue takut dia berekspektasi terlalu besar dan gue nggak ada effort apa-apa buat nyenengin dia.

Setelah berdebat panjang lebar dengan Arga, akhirnya gue memutuskan untuk membeli shoulder bag sama bunga artificial di toko oren. “Beli bunga aja nggak usah beli-beli tas, mahal. Mending tasnya beli buat lo sendiri.” Tapi gue tetep beli tas itu untuk dia sebagai hadiah, dengan harapan ketika wisuda nanti, dia bisa ngerti dan bisa sama effortnya kaya apa yang gue lakukan, walaupun sekali lagi gue tau, berharap sama manusia itu sungguh menyakitkan.

Lihat selengkapnya