Hari itu gue masih jadi pengangguran dan sebentar lagi memasuki liburan akhir tahun. Belum ada agenda liburan apa-apa karena sedari dulu gue nggak pernah punya agenda berlibur. Sama layaknya keluarga yang tidak romantic ini, kkalau orang-orang selalu punya rencana berlibur ala keluarga, maka keluarga gue tidak demikian, mereka lebih suka di rumah dengan kegiata masing-masing. Liburan mereka adalah diam di rumah.
“Arga besok mau ke Jogja.”
“Enak dong liburan.” Mama seperti tau apa maksud gue, nadanya sedikit meledek sementara gue menahan nangis.
“Aku pengen liburan juga, minimal ke taman safari. Aku kan udah sedewasa ini belum pernah ke taman safari.” Gue tiba-tiba menangis dan mengingat janji-janji Mama dari tahun ke tahun yang selalu mengagendakan ingin liburan ke taman safari setelah lebaran. Nyatanya agenda itu tidak pernah terealisasikan bahkan sampai gue lulus kuliah.
“Lah, kenapa nangis, pergi aja sendiri kalo mau ke taman safari. Ajak aja Arga ke taman safari. Mau kok dia.” Mama mengganti channel tv dan gue mengusap air mata dengan gusar.
Lalu Ayah mondar-mandir entah dia sednag sibuk apa, tapi yang jelas, saat itu gue merasa kenapa gue harus berada di keluarga yang tidak romantic seperti ini. Gue melihat Ayah dengan sedikit marah karena menyadari seperti ini lah Ayah gue dan gue harus terima.
Gue jadi berpikir, kayanya orang-orang yang dikaruniai kepala keluarga yang romantic dan suka quality time harus benar-benar bersyukur, atau minimal berdzikir ‘Alhamdulillah’ serratus kali. Di luaran sana, banyak anak-anak yang punya Ayah seperti Ayah gue. Bahkan gue nggak punya memori pergi berlibur layaknya anak-anak lain. Hubungan gue berjarak dengan Ayah. Kami tidak pernah banyak bicara, tidak ada foto bersama, dan Ayah yang selalu melewatkan momen-momen penting dalam hidup gue karena dia menganggapnya itu adalah hal yang biasa.
Gue inget satu memori berlibur sam akeluarga ketika gue masih duduk di bangku sekolah dasar, kayanya waktu itu gue masih kelas tiga.
Agenda hari itu kami berempat mau liburan ke Ancol. Mama menyiapkan bekal dari pagi. Gue udah kegirangan bahkan nggak bisa tidur sejak malam. Lalu kami pergi ke Ancol menggunakan transportasi umum. Gue inget, ketika dalam perjalanan waktu itu, karena hari itu adalah liburan sekolah, otomatis transjakarta lebih ramai dari pada hari biasanya karena banyak orang-orang yang juga berlibur.
Gue inget waktu itu ketika lagi nunggu transjakarta di sebuah halte, gue yang terlepas dari gandengan Mama masuk transjakarta lebih dulu dan hampir terjepit pintu transjakarta yang otomatis hampir tertutup itu sebelum Mama dan Ayah ikut masuk. Lucunya, ketika Mama gue berteriak kalau anaknya hampir terjepit dan terlanjur masuk ke dalam, ada satu bapak-bapak yang marah dan langsung menggedor-gedor pintu kaca itu dengan kuat karena melihat gue hampir terjepit pintu.
Karena heboh, penjaga halte langsung meminta supir menyetop lajunya dan gue pun keluar. Semua orang yang lagi nunggu di halte marah. Kenapa penumpang yang belum sepenuhnya masuk tapi transjakarta itu sudah menutup pintunya. Gue panik, kaget, lebih kaget lagi ternyata yang marah-marah panik bukan Ayah gue! Tapi bapak-bapak yang entah siapa yang kaget dan khawatir gue terjepit pintu. Ayah gue? Gue nggak tau apa dia panik atau gimana, yang jelas hari itu gue nggak liat reaksi Ayah gue yang berlebihan. Biasa-biasa aja. Ketika besar, gue menyadari, ternyata Ayah gue tidak se-ekspresif itu.
Ketika sampai di Pantai, cuasa panas, Ano yang masih digendong pakai kain it uterus menangis karena mungkin gerah. Saat itu bahkan kami belum sampet makan siang dan memutuskan pulang karena Mama dan Ayah berdebat entah mempermasalahkan apa. Tapi sepanjang jalan, yang gue inget cuma Mama juga marah dengan sikap Ayah yang selalu mendumel ketika diajak bepergian.
Pupuslah agenda liburan gue sejak saat itu. Bayangan gue membuat istana dari pasir runtuh gitu aja. Impian gue tentang main air di pinggir Pantai bareng Ayah juga nggak pernah ada dalam ingatan gue, serta foo-foto liburan ala keluarga yang lagi berkunjung ke Pantai juga nggak pernah dipajang karena kami belum sempat berfoto. Yang gue inget hanya momen Ayah marah-marah sepanjang jalan pulang, begitu juga dengan Mama yang kesal dengan sikap Ayah. Setelahnya, ketika gue sudah agak besar, gue menganggap Ayah adalah manusia resek yang nggak bisa diajak pergi ke mana-mana. Ayah lebih suka berada di rumah dengan segala keheningannya. Oleh karena itu, kami sebagai anak-anaknya benar-benar tidak memiliki momen indah apapun untuk dikenang. Ayah adalah ayah yang hanya memberi nafkah. Hanya itu.
Ketika sekolah selama 12 tahun dan liburan semester selama 24 kali. Tidak ada agenda liburan yang diceritakan. Gue selalu mengarang setiap liburan hanya pergi ke rumah nenek. Padahal nenek gue rumahnya hanya berjarak sepuluh langkah dari rumah. Setiap kali gue protes ke Mama karena gue bingung mau nulis apa disetiap waktu pertama kali masuk sekolah setelah liburan panjang. Mama cuma bilang, “Kamu ngarang aja, liburan ke mana kek. Kan itu mah cuma tugas mengarang.”
Selama itu sejak sekolah, gue selalu menjadi pendengar setia ketika teman-teman gue bercerita tentang liburanny bersama keluarga. Dan selama dua belas tahun sekolah, gue selalu mengarang bahkan gue menganggap gue sudah jadi pengarang yang handal atau kelak di masa depan akan jadi penulis top yang Indonesia punya.
Hari itu ruang kelas mulai ramai karena guru belum datang. Beberapa anak berkumpul, duduk di bangku sambil membahas liburan semester. Gue hanya mendengarkan dari bangku gue sambil menggambar wajah stress di pojok buku tulis.
“Liburan kemarin gue ke Bandung.” Kata Rafi penuh semangat. Gue melirik Rafi yang excited mau bercerita. Cuma ke Bandung.
“Terus Ayah gue nyasar sampe masuk ke gang sempit banget.”
Anak-anak yang menyimak langsung tertawa, sementara gue tertawa simpul sambil berbisik pelan ‘sukurin’ berkali-kali dan membuat gambar-gambar lain di buku tulis.
“Terus gimana?”
“Yaudah, mobilnya nggak bisa muter balik. Ayah gue turun, terus marah-marah sama google maps.” Tawa anak-anak seketika pecah. Gue hanya diam.
“Tapi lucu sih kalo diinget-inget, gara-gara itu akhirnya gue sama Ayah makan bakso pinggir jalan trus dia nyeritain masa kecilnya gitu.” Gue yang mendengar penjelasannya waktu itu hanya mengangguk-angguk. Betapa keluarga orang selalu romantis dan lucu. Orang lain bisa nyimak masa kecil Ayahnya sambil makan bakso gara-gara nyasar.