Hari ini, Ayah berulang tahun yang ke-58. Dulu waktu kecil, ketika usia gue enam tahun, gue pernah ngasih hadiah ulang tahun berupa sebungkus rokok ke Ayah yang gue bungkus pake kertas kado gambar lucu. Ayah pasti suka karena dia suka ngerokok. Everytime, everywhere selalu ada rokok.
Hari ini, belum ada yang mengucapkan, siapa yang akan mengucapkan ulang tahun ke Ayah? Gue sih gengsi sebagaimana Ayah yang selalu gengsi ngucapin gue ulang tahun. Hari ini ketika ulang tahunnya akan sama seperti ulang tahun anggota keluarga lainnya. Tidak ada ucapan, tidak ada pelukan disertai doa-doa manis maupun kado juga kue ulang tahun.
Hanya ucapan manis dari ibunya dari kota L yang menelepon, mengucapkan doa-doa baik yang kami semua dengar dari ruang tamu. Tapi tidak ada yang ikut serta mengucapkan sekalipun itu istrinya.
Gue mempertanyakan keluarga yang super aneh ini. Tidak ada kehangatan di sini. Bahkan gue menggambarkan sosok Ayah adalah sosok yang hanya memberi nafkah, tapi tidak dengan memberikan kasih sayang yang bisa menyentuh hati. Gue merasa ada jarak yang benar-benar jauh antara Ayah dan anak-anaknya karena kami memang tidak sedekat itu.
Di banyaknya waktu gue sama Arga, gue selalu bercanda.
“Di mana ada tempat tukar tambah Ayah?”
“Durhaka!”
“Pengan punya Ayah yang kaya Ayah Har.”
“Ih, bapak gue!”
“Tukeran nggak mau? Bonus Kania sama Ano. Katanya lo mau punya saudara.”
“SINTING!”
Kalau sudah masuk mode ingin tukar tambah Ayah, biasanya Arga berubah jadi orang bijak yang kata-katanya harus didengerin.
Katanya waktu itu.
"Na, lo percaya nggak, kalo orangtua yang jadi orangtua kita sekarang, itu udah jadi takdir terbaik dari Allah. Jadi nggak perlu tuker-tuker."
"Tetep aja gue mau tuker sama Pak Har."
"Emang orang gila! Bapak lo juga kayanya mau tuker anak dah kalo modelannya kaya lu."
"Nah, yaudah. Ntar gue surun tuker anak sama Pak Har. Lo jadi anak bapak gue, bonus dapet saudara dua."
"Kiana!" Gue tertawa meledek Arga. Meskipun begitu, gue tetap percaya mau siapapun orangtuanya, dia lah yang terbaik. Gue tetap sepakat sama Arga. Seratus persen. Tapi, ada kalanya rasa iri itu menyeruak seperti racun yang mengotori hati gue dan mendadak dalam banyak kondisi ingin mengganti Ayah seperti apa yang gue inginkan.
Di satu sisi , dalam kehidupan yang cuma sekali ini, gue selalu melihat keromantisan seiap Ayah kepada anak-anaknya. Sebagaimana gue melihat siap siaganya Pak Har-Ayahnya Arga yang selalu ada untuk membantu anaknya. Gue sebagai anak perempuan, merasa terlalu mandiri melakukan segalanya sendiri. Selagi masih ada kaki dan nafas masih ada, gue akan mengerjakan apa pun seorang diri, karena Ayah tidak akan membantu, karena dia terlalu malas untuk menjadi Ayah yang siap siaga.
Di masa sekolah, meskipun Ayah ada di rumah, dia nggak akan mengantar anak-anaknya ke sekolah. Persetan dengan lambaian tangan dan kata-kata semangat yang sering diucapin sama orangtua temen-temen gue.
Gue jadi kepikiran dan memori gue malalangbuana ke suatu masa di mana hari itu gue bersekolah dan Ayah yang mengantarnya. Hari itu gue udah rapi dengan baju putih merah, sudah dijepit dan dikuncir layaknya anak-anak kelas satu. Ayah mengantar gue naik motor, sampai di sekolah gue masuk dengan percaya diri, lalu berhenti dan menengok Ayah di depan gerbang sekolah belum pergi, lantas gue menghampiri Ayah dan mengatakan kalau gue nggak mau sekolah. Akhirnya Ayah membawa gue pulang.
Di rumah, Mama langsung marah dan menanyakan alasan gue pulang lagi ke rumah.
“Kasian liat muka Ayah.” Gue nangis mengelap air mata.
“KENAPA AYAH DIKASIHANIN!” Nadanya melengking. Mama langsung memasukkan sepatu tali gue ke dalam rumah dan menyembunyikannya di balik rak tv, katanya takut tetangga nanya dan Mama malu kalau anaknya nggak sekolah karena bolos.
Seharian gue sama Ayah main PS di rumah sampai sore. Mama masih dengan emosinya. Karena kejadian itu, ketika gue masih di sekolah dasar gue punya persepsi, alasan kenapa sampai saat itu gue nggak pernah Ayah anter lagi adalah karena gue takut nggak mau pergi ke sekolah dan kejadian di kelas satu akan terulang lagi. Bahkan sampe gue SMA. Selagi angkutan umum masih ada, maka itu lah kendaraan gue menuju ke sekolah, kadang nebeng sama Arga atau diantar Ayahnya Arga naik mobil.