Sabtu pagi ini, setelah lelah jogging yang niat sebanarnya adalah jajan, gue sama Arga duduk-duduk di sofa rumahnya sambil sarapan banyak makanan yang udah di beli. Arga dari tadi mengeluh, katanya pagi ini gue terlalu banyak beli makanan karena laper mata.
"Biarin aja kenapa, sih. Nanti juga sama lo abis." Gue kesel setiap kali beli makanan banyak Arga selalu bilang mubazir, padahal dia sendiri yang makannya paling banyak.
"Kalo gue nggak makan banyak ya mubazir!"
" Kalo merasa mubazir, di rumah gue banyak yang mau nampung!" Arga yang mendengarnya berdecak sebal. Dia ke dalam mengambil gelas, laptop dan beberapa piring.
“Nanti kalo Bapak gue udah pensiun, gue kepikiran pengen nyuruh Bapak gue jadi tukang bubur ayam tambun, yang pake motor keliling itu, tau nggak?” Gue bertanya pada Arga yang lagi sibuk dengan laptopnya, dia bersandar di sofa, sementara gue sedang rebahan di sofa rumah Arga.
Gue menjawil telinga Arga. “ Lo dengerin apa nggak, sih, Ga?”
“Aduh! Iya, Na, denger. Lagian aneh banget udah tua malah disuruh kerja. Kenapa lo aja yang nggak jadi tukang bubur biar sekalian naik haji.” Gue tertawa terbahak-bahak mendengarnya. Geli sendiri.
“Gue nggak mau jadi tukang bubur, gue pengen jadi kurir paket. Nanti tiap hari kerjaan gue ‘paket! Punya Arganta Ibrahim Muchtar. COD 100 Ribu! Padahal harga aslinya 50 ribu misalnya.”
“Emang otak lo otak licik.”
“Eh! Kemaren gue ketemu si Haris, lo inget nggak sama Haris?” Gue mendadak deg-degan waktu denger nama itu.
“Haris…” Gue tampak berpikir sejenak.
“Haris tetangga kita, yang rumahnya gede banget itu.”
“HARIS PRAMONO!” Gue bangkit dari tidur, mendadak tersentak karena kaget, setelah sekian lama akhirnya Arga bertemu dengan teman kami di masa kecil dulu.
“Haris Priambodo bukan pramono!” Arga meletakkan laptopnya. Dia duduk di sebelah gue.
“Katanya dia kirim salam buat lo, terus nanya-nanya, nanti kali kapan-kapan main ke sini.” Mendengar itu gue mesem-mesem sendiri, bunga layu yang ditinggalkan pemiliknya mendadak segar seperti habis disiram.
“Kapan? Kok lo baru sekarang ngasih taunya? Ketemunya di mana?” Gue agak kecewa karena Arga nggak langsung kasih kabar itu buru-buru. Gue yakin kejadian itu udah lama berlalu dan Arga baru cerita sekarang.
“Udah lama, sih! Udah beberapa bulan yang lalu.” Gue emosi dengernya, beneran pengen mukul Arga sekarang juga.
“Ya kenapa lo baru bilang!” Gue melotot sekaligus wajah gue berubah kecewa dan Arga bisa merasakannya.
“Lupa. Lagian kita udah tukeran nomor hp, kok.”
“Mana nomor hp-nya? Gue minta, gue mau bales salam sendiri.”
“Nggak usah, nanti juga kalo sempet dia ke sini.”
“Nggak mau sekarang aja. Mana hp lo.”
“Ngapain sih, Na. dia nggak mau diganggu sama Lo!”
“Arga! Jangan sampe gue rebut paksa hp lo, ya!”
Hari itu, gue ngambek pulang karena nggak dikasih nomor ponsel milik Haris. Gue beneran kecewa. Memori masa kecil gue seolah datang lagi. Rasanya kaya lagi nonton cuplikan geng bernama KIHARGA dengan segala kegiatannya yang seru dan menyenangkan.
Rumah Haris nggak terlalu jauh dari rumah gue, letaknya beda empat rumah dari rumah gue berada. Waktu itu, gue justru jauh lebih akrab sama Haris terlebih dahulu dibanding sama Arga. Dulu, sebelum main sama Haris, gue lebih dulu main sama kakak perempuannya Haris yang lebih tua 2 tahun dari gue. Karena dia sibuk sekolah, jadilah gue kadang suka main sama Haris dan keterusan sampai gue besar.
Yang paling gue ingat tentang Haris adalah keluarganya. Di rumah mereka cuma berlima. Haris anak bungsu. Rumah mereka besar, bahkan halamannya cukup buat main bola, diujung halaman rumahnya juga ada taman buat duduk-duduk. Di samping kanan rumahnya bahkan ada jalanan muat mobil dan halamannya masih terus melebar sampai ke belakang rumah.
Di samping kiri rumahnya ada garasi mobil. Ada pintu kecil untuk masuk lewat pintu dapur melewati jalanan lurus yang disebelahnya ada kolam ikan besar sebesar kolam renang anak-anak. Rumahnya bagus, gue betah main lama-lama di rumah Haris.