Sudah satu minggu gue nggak membalas chat maupun telepon dari Arga, sudah satu minggu juga kepala gue terasa sakit karena terlalu overthinking memikirkan nasib masa depan diri sendiri yang belum tau akan kerja di mana dan sebagai apa.
Tiba-tiba, malam hari Arga datang ke rumah sambil mengomel.
“Lo kemana aja sih, Na! gila ya? gue chat nggak di bales, gue telepon nggak diangkat. Gue ke rumah juga nggak ada.”
“Gue ada kok di rumah, sengaja nggak keluar meski gue denger suara lo.”
“Emang bener sinting! Gue ada salah emang sama Lo?” Arga duduk di bangku dan gue belum bangkit dari rebahan di sofa. Raut wajah Arga keliatan agak takut, mungkin merasa bersalah karena belakangan dia suruh gue terus-terusan untuk ngelamar pekerjaan yang mana itu buat gue lelah setiap kali menerima penolakan.
“Banyak! Nggak usah ditanya!”
“Lo sakit emang?” Arga tiba-tiba memegang kening gue dan gue langsung menangkisnya.
“Kemarin udah ke puskesmas.”
“Kenapa nggak bilang kalo lo sakit?”
“Nggak tau, gue pikir nggak ada orang yang peduli selain diri gue sendiri. Soalnya di rumah ini kayak gitu, kalo sakit belum sampe sekarat belum dikasihani.”
“Yaudah, mau ke dokter lagi?”
Gue langsung bangkit duduk dan memicingkan mata. Buat apa ke dokter lagi kalau permasalahan sakitnya ada di pikiran sendiri?
“Nggak usah. Beli buah aja sekeranjang, sama beli gacoan.”
“Malak sih itu jatohnya bukan jenguk orang sakit.” Gue langsung tertawa, sementara Arga langsung memesan gacoan yang gue pinta.
Selama menunggu kurir sampai membawa makanan, Arga bertanya kegiatan gue selama satu minggu yang menurut gue itu nggak penting.
“Trus lo besok ngapain?”
“Nothing…”
“Jangan nothing dong, Na, jawabnya.”
“Ya apa? Emang saya pengangguran nggak ada kerjaan.”
“Nggak gitu tapi. Lo harus tetep produktif. Olahraga, baca buku, nulis-nulis…katanya mau jadi penulis hebat?”
Gue diam beberapa detik. Rasanya satu minggu ini gue merasa kehilangan gairah dalam melakukan apa pun. Di saat orang-orang seusia gue udah bisa nikmatin gajinya sendiri untuk makan enak dan jalan-jalan, gue masih jadi parasit bagi Arga.
Setiap hari kerjaan gue hanya mencari loker pekerjaan di media sosial. Semua sudah gue lamar sampai jadi tukang sate sekalipun! Tapi tetap saja, jangankan diundang untuk interview, mungkin cv gue dibaca juga nggak.
Kalau Arga sampe tau gue melamar sebagai restoran sate dan frief chicken pasti dia ngedumel.
"Meskipun halal, pasti ada kerjaan yang lebih baik." Begitu ucapan yang terngiang-ngiang di kepala gue.
Gue jadi benci keluar rumah. Rasanya gue udah ditahap malu ketemu orang karena takut jadi omongan sudah dikuliahkan tapi masih jadi pengangguran. Bukankah itu beban orangtua? Apalagi beberapa waktu yang lalu sepupu gue baru saja pergi ke Jepang buat kerja. Gue langsung bertanya ke Mama apakah Ayah memiliki sebidang sawah untuk dijual dan untuk modal gue berangkat ke Jepang. Respon Mama hanya tertawa. Gue sudah ditahap yang putus asa akan dapat pekerjaan dalam waktu dekat. Semua lamaran gue tidak ada yang membuahkan hasil. Yang ada hanya bikin sakit kepala dan pesimis dari waktu ke waktu.