Unromantic Family

Wulansaf
Chapter #8

Bab 8 : (Tidak ada) Keluarga Supportif

Beberapa hari yang lalu, saudara dari Mama datang ke rumah dan menanyakan pekerjaan gue sekarang apa. Gue menjawab masih sibuk mencari-cari kerjaan dan sampai saat ini memang belum dapat.

“Kalo cari kerjaan tuh jangan pilih-pilih, apa aja kerjain.” Suatu kalimat yang menurut gue terlalu template untuk nyuruh orang lain tidak pilih-pilih kerjaan di era yang apa-apa sekarang serba susah.

Gue berusaha mengatur napas. Rasanya di tenggorokan gue seperti muncul biji kedondong sehingga gue sulit untuk menelan ludah.

Gue hanya mengangguk dan tersenyum kecil menghormati perkataannya, padahal jauh di lubuk hati gue yang paling dalam, ada hati yang terasa dicabik-cabik lagi. Baru beberapa hari gue berhenti untuk cari lowongan pekerjaan karena gue udah cukup frustrasi, ditambah sekarang denger kalimat kayak gitu bikin gue seketika sedih dan kepala gue jadi terasa sakit lagi.

Gue mengistirahatkan jari-jari yang sudah lelah untuk scrolling mencari pekerjaan. Setiap buka ponsel yang gue buka pertama selalu aplikasi pencari kerja, instagram dengan mengetik hashtag tertentu, atau berlama-lama mengunjungi akun yang menyediakan pekerjaan. Kali ini sepertinya gue butuh mengistirahatkan jari dan pikiran sejenak. Mungkin berleha-leha atau membaca buku agar kepala gue tidak melulu memikirkan pekerjaan.

Malamnya, Arga datang ke rumah, dia parkir mobil di depan dan pakaiannya memang nggak terlalu rapih.

“Ayo, Na, jalan-jalan…”

“Malem-malem begini?”

“Baru jam setengah tujuh. Ayo, lah, biasanya juga lo yang maksa suka ngabisin bensin mobil gue. Emang lo masih sakit?” gue langsung menggeleng.

“Tapi gue nggak usah ganti baju, ya? begini aja.”

“Iya, aman. Lagian kan di dalem mobil aja.”

Lalu setelah itu gue dan Arga pergi jalan-jalan entah ke mana, keliling-keliling naik mobil. Gue di mobil banyak diam, seperti kehilangan bahan cerita untuk Arga dengarkan. Di mobil juga hening sampai Arga menyetel radio di mobilnya. Gue juga kehilangan selera untuk melempar lelucon atau membuat Arga kesal dengan segala keasbunan gue.

Dalam fase hidup yang seperti ini, gue rasanya pengen mendengar kalimat penenang dari orangtua gue sendiri sebagaimana kalimat-kalimat penenang itu gue denger dari orangtuanya Arga.

Selama beberapa hari, gue sulit tidur. Mata gue jadi ada kantong hitamnya dan jadi terlihat jelek. Gue menghela napas dan mengalihkan pandangan dari kaca spion. Rasanya gue pengen memukul-mukul kepala sendiri agar berhenti memikirkan pekerjaan. Dan tibalah setan iri dalam diri gue dan gue kambali pada momen tersebut.

Setelah lulus SMA, gue dan Arga mendaftar secara mandiri di kampus pilihan kami. Arga memilih kampus yang ada di Bandung sementara gue di Yogyakarta. Setelah pengumuman hari itu, ternyata Arga dan gue dinyatakan tidak lolos padahal ia sudah belajar mati-matian. Iya! Yang belajar mati-matian itu hanya Arga. Kalo gue mode santai dan wajar aja nggak lolos.

Gue melihat Arga menangis tersedu-sedu setelah ia gagal membuka pengumuman dari laptop. Arga langsung dipeluk oleh Pak Har dan ditenangkan. Sementara gue bengong, memperhatikan kondisi yang bagi gue juga ini menyakitkan. Satu karena gagal, dua karena gue nggak akan merasakan momej disupport sebagaimana Arga rasakan sekarang. Gue mendengarkan Arga diberikan motivasi lagi untuk tidak kehilangan semangat karena tidak lolos di kampus Impian.

Momen itu seolah kembali gue ingat lagi berulang-ulang seperti rekaman yang tidak mau berhenti.

Pak Har memeluk Arga yang menangis tersedu-sedu sambil mengusap kepalanya seperti anak kecil, sementara gue mematung di sebelah Arga dan bingung harus bereaksi bagaimana.

“Kampus Impian Arga…temen-temen udah banyak yang lolos…” Arga mengelap air matanya yang deras jatuh ke pipi. Sementara gue membisu seperti burung hantu di dahan tua yang lagi-lagi kebingungan mau melakukan apa.

“Abang, denger Ayah baik-baik. Ayah tetep bangga di mana pun abang kuliah. Kalau abang mau ikut ujian lagi, Ayah temani belajarnya. Kalau abang mau pilih kampus lain, kita bisa cari yang terbaik. Kalo Abang masih sedih, bahu Ayah kan ada.” Pak Har menepuk bahunya dan Arga langsung memeluk Ayahnya yang sangat supportif itu.

Gue telah menerima dua porsi kekalahan pada hari itu. Satu gagal ke Yogyakarta dan yang kedua gagal mendengar kata-kata romantis dan sebenarnya itu nggak akan pernah ada dalam kamus hidup gue. Tapi setidaknya, ada kalimat orangtuanya Arga yang selalu bisa menghibur hati gue yang menciut kalah dari segi keluarga dan kehidupan.

“Kiana lolos?” Tanya Pak Har setelah kondisi Arga lebih tenang. Gue menggeleng pelan dengan wajah datar.

“Loh, nggak papa. Kampus Impian itu kan seperti gebetan, ya, Bun? Kadang kita sudah memberi yang terbaik, tapi dia tetep milih orang lain. Sakit, sih, tapi bukan akhir dunia!” Gue tersenyum kecil mendengar Pak Har berbicara demikian.

“Selamat! Kalian berdua baru membuka achievement baru, pernah ditolak, tapi belum menyerah. Keren loh itu.” Pak Har tepuk tangan dengan meriah sementara gue dan Arga saling pandang.

Tak lama Bundanya Arga datang dan memeluk gue. Gue sedikit kaget, gue kira dia bakal peluk Arga terlebih dahulu dibanding gue. Dan lagi-lagi Pak Har memberikan kalimat motivasinya.

“Udah jangan banyak sedih. Kalau hidup selalu sesuai rencana, nanti cerita sukses kalian cuma tiga halaman. Kan-“

Lihat selengkapnya