Unromantic Family

Wulansaf
Chapter #9

Bab 9 : Authentication Failed- (Coba Di Keluarga Lain)

Hari ini Arga libur bekerja, jadi sedari pagi setelah ustadz selesai membaca doa di musholla terdekat, Arga ke rumah gue sambil membawa sepeda.

Suara telepon gue berbunyi, Arga berkali-kali juga mengetuk-ngetuk jendela kamar gue dari samping.

Gue baru selesai sholat subuh, tapi makhluk itu sudah rapi dengan pakaian khas olahraga. Gue keluar menemui Arga masih dengan piyama khas bangun tidur yang lecek dan wajah yang masih mengantuk.

“Ngapain sih pagi-pagi ke sini. Gila, ya!” gue duduk di bangku depan. Arga juga duduk di sebelah gue.

“Olahraga Na, Ayo. Kan kata Haris lo harus banyak olahraga, kena sinar matahari biar cepet sehat!”

“BOONG! Gue mau denger Haris ngomong langsung!” gue cemberut dan sebenarnya masih marah karena Arga nggak bilang kalau dokter yang gue temuin itu adalah Haris. Gue belum sempet ngobrol dan peluk Haris sebagai tanda kangen dan sayangnya udah keburu pingsan.

“Cepet ganti baju!”

“Ih, aneh! Orang lemes malah disuruh olahraga! Nggak, mau!” Gue menyender di bangku sambil cemberut.

“Iya, maaf ya, Na, gue salah. Gue nggak bilang kalo dokter itu Haris. Gue pikir entar juga lo bakalan ngobrol di dalem, Taunya malah pingsan. Lagian siapa suruh pingsan! Gue bawa lo ke dokter cuma buat periksa, bukan buat pingsan sampe buat gue panik!” gue menghela napas mendengarnya.

Gue sebetulnya masih kesal dengan perlakuan Arga. Bisa-bisanya dia nggak bikang kalau dokter itu Haris. Kan kurang ajar! Kalau aja dia bilang, pasti gue langsung sembuh dan nggak pake adegan segala yang bikin gue malu!

Gue udah berhari-hari mendiamkan Arga. Setiap dia ke rumah gue nggak pernah keluar, setiap Arga chat dan telepon gue nggak pernah bales dan angkat. Tapi lama-lama gue kasian karena Arga terus-terusan minta maaf. Karena sudah dimaafkan, ia malah buat agenda untuk mengajak gue ke taman untuk berolahraga.

"Kalo gitu kita putus pertemanan aja." Arga yang mendengarnya tertawa.

"Itu perkataan ke 3656 kali sejak kita temenan dari kecil."

"Nggak mungkin lo ngitungin!"

"Nggak ngitung. Gue catet di kepala. Kalo orang pinter mah pasti inget. Kalo lo kan pelupa." Gue berdecak ketika mendengarnya. Lagi-lagi gue kalah.

Dalam keadaan seperti ini, gue merasa sudah banyak sekali merepotkan Arga. Terlebih gue bukan orang yang mudah merangkai kata-kata romantis. gue ngerasa gue punya segudang kata-kata tapi bingung cara mengungkapkannya aja. Dalam kondisi seperti ini, ada banyak kata-kata yang seharusnya gue smapaikan pada Arga. Sekadar bilang terima kasih karena selalu ada di samping gue dan membantu gue apa pun yang gue butuhkan. Sekadar bilang maaf untuk hal-hal yang selalu merepotkan.

Gue jarang mendengar kalimat itu dari orang-orang rumah, apalagi tentang kata maaf.

Lalu gue segera ganti baju karena Mama mengoceh.

“Kamu udah disamper Arga kenapa belum ganti baju, masih belekan gitu?” Kalau aja Mama tau gue abis pingsan beberapa hari yang lalu di rumah sakit pasti dia cemas. Untungnya setelah gue pingsan dan baru sadar tengah malem kemudian, Arga nggak bilang kalau gue pingsan karena takut Mama panik, Arga cuma bilang kalau gue ketiduran di rumahnya dan sekarang tidur di kamar Mbak di lantai bawah.

Selesai ganti baju gue pakai kaos kaki dengan gerak yang lambat, Arga mengoceh.

“Bisa nggak sih, pakenya yang cepet!” Arga bertolak pinggang sambil melihat gue mamakai kaos kaki.

“Nggak bisa, lagi lemes.”

“Alesan!”

Selesai pakai kaos kaki, gue mengambil sepatu dan memakainya di lantai. Gue keluarkan debu-debu di dalam sepatu sebelum memasukkan kaki yang membuat Arga menghela napas kasar. Dia nggak sabaran.

“Cepetan dong, Na! lama banget astaga!” Arga mengambil alih sepatu gue dan memasukkan paksa kaki gue ke dalam Sepatu. Setelah keduanya masuk, ia mengikat tali Sepatu sekencang mungkin yang membuat gue mengaduh dan refleks memukul tangannya.

“Kalo kaya gini gue nggak bisa jalan, monyet! Sakit banget Arga lo ngiketnya. Sialan!” Gue memukul-mukul tangan Arga yang langsung dilerai sama Mama.

“Apalagi anak ini, kamu punya temen sebaik Arga malah kaya gitu kamu.”

“Bodo amat! Gue benci sama lo, Arga!” Gue membuka ikatan tali Sepatu yang kencang itu dan mendumel.

“Mama tuh selalu bela Arga, padahal gue yang disakitin sama dia.” Arga memicingkan matanya, mengulurkan tangan yang gue tepis untuk membantu gue berdiri.

Lihat selengkapnya