Beberapa hari yang lalu, Arga memberikan lowongan pekerjaan dari temannya. Gue sebenarnya masih trauma dengan proses mencari pekerjaan yang selalu gagal. Rasanya pengen istirahat dari kegagalan. Tapi Arga bilang harus dicoba dan siapa tahu itu jadi rezeki buat gue. Akhirnya gue mengalah, gue ikuti setiap proses rekrutmen di kantor tersebut, lalu tiba lah momen wawancara itu.
Ketika diwawancara, ekspektasi gue menghilang entah ke mana. Sebatas menjawab apa yang hrd tanyakan dengan jujur dan semampunya. Pulangnya, gue merasa lelah dan sedikit cemas. Berusaha untuk tetap tenang dengan apapun hasilnya. Tapi nggak bisa dipungkiri kalau perlahan kepala gue jadi sakit lagi karena terlalu stress.
“Interview lagi?” gue menatap sinis Ano yang duduk di sebelah gue. Kalo dia berani macam-macam pasti gue pukulin dia dengan bantal yang sedang gue peluk.
“Kenapa? Mau tau banget urusan orang lo monyet!” gue pergi dari kursi depan dan duduk di kamar sambil mendumel. Tapi suara Ano yang sengaja ia besar-besarkan membuat gue emosi.
“Kalo nggak diterima terus, berarti emang cocok jadi pengangguran.” Kalau pulang interview kali itu gue punya tenaga, pasti gue lempar dia pake piring sekalipun Mama bakalan ngamuk. Karena menurut gue perkataan Ano udah melewati batas emosional dan toleransi untuk bisa dimaafkan.
Beberapa hari berikutnya, Ano bikin sakit kepala gue kambuh hampir setiap hari. Di luar rumah, ada Arga yang berusaha menyembuhkan sakit kepala gue dengan rajin membelikan buah, mengajar berjemur ke taman, atau mengajak jalan-jalan supaya stressnya hilang. Tapi di rumah ini lah gue rasa sumber penyakit itu berada. Dimana gue lebih sering denger kata pengangguran yang diperolok-olok seolah itu lucu yang justru melukai hati gue dan membuat kepala gue terasa sakit bukan main.
“Kak, bangun. Ada lowongan baru, tuh. Nggak ngelamar?” Ano mengetuk kamar gue dan gue langsung lempar pintu dengan benda berat sehingga Ano yang berada di balik pintu langsung kaget. Mampus!
Ketika gue sedang membaca buku di ruang tamu, Ano baru pulang sekolah, bau keteknya membuat kepala gue pening dan refleks menutup hidung dengan baju. Dia sadar dengan maksud sindiran gue. Lalu Ano langsung bilang, “Pengangguran juga punya waktu buat baca buku, ya? kalo kakaknya temen gue sibuk banget nyari kerja.” Gue memicingkan mata dan hampir melempar Ano dengan gelas kaca.
Besok malamnya, ketika semua orang sedang sibuk makan dan gue masih di kamar, lalu ke ruang tamu mengambil buku.
“Nggak makan? Itu sotonya mumpung hangat. Kemarin minta dimasakin soto, udah dimasakin nggak dimakan.” Gue mendengus kesal. Gue sedang tidak enak untuk makan. Kantor yang Arga rekomendasikan baru saja menolak gue sebagai pegawainya. Hati siapa yang nggak runtuh? Rasanya kepala gue hampir pecah. Bahkan wangi soto yang beberapa hari gue tunggu-tunggu justru membuat perut gue mual.
“Pengangguran kan juga harus makan ya, Ma?”
Gue menutup mata, berusaha menarik napas, lalu cepat-cepat pergi ke kamar.
“Udah, jangan diganggu, biarin aja.”
“Kalo Kak Kia belum dapet kerja sampai tahun depan, nanti kita pasang tulisan aja di kamarnya-“
BRAKK!
Kesabaran gue habis, pintu kamar gue dobrak dan seketika orang-orang di rumah itu yang sedang sibuk dengan piringnya langsung menatap gue dengan bingung.
“LUCU?” Gue menghampiri Ano dengan mata yang mendadak merah dan hati yang penuh dengan bisikan iblis.
“Setiap hari pengangguran! Pengangguran! Pengangguran!” suara gue mulai bergetar. Tidak ada yang menjawab. Semuanya diam. Termasuk Mama dan Kania sekalipun.
Air mata gue mulai jatuh.
“Aku tahu aku belum punya pekerjaan!”
Ano yang merasa bersalah menunduk.
“Aku juga tahu aku belum menghasilkan uang. Aku tahu diumur segini tapi masih nyusahin kalian. Aku tahu!” gue tertawa getir. Rasanya hati gue seperti ditusuk ribuan duri oleh keluarga sendiri.
“Nggak perlu diingetin setiap hari! Diolok-olok! Aku sakit kepala setiap hari gara-gara stress jadi pengangguran kalian tau, nggak?”
Mama seketika berdiri. “Kania…”
“Kenapa?” gue menatap Mama yang bahkan tidak pernah membela gue dihadapan Ano. Dia selalu diam ketika gue selalu diolok-olok Ano dan tidak mencoba untuk memarahi Ano agar berhenti memperolok anaknya yang lain yang sedang menjadi pengangguran.
“Kenapa?” suara gue pecah.
“Kenapa di rumah ini kalau aku gagal selalu jadi bahan bercandaan?”
Mama seketika terdiam, sementara gue menyeka air mata dengan kasar.