Semasa kecil, gue selalu main bersama Kania dan selalu menjadi buntutnya. Ke mana pun Kania pergi, pasti gue selalu ikut. Gue seperti beban untuk Kania semasa dia kecil karena harus membawa gue ke mana-mana. Suatu hari pernah gue tanya, “Lo waktu kecil merasa terbebani nggak selalu ngajak main gue ke mana-mana?” lalu Kania jawab. “Biasa aja. Nggak yang terbebani atau gimana-gimana.” Gue hanya mengangguk.
Sebenarnya, pada saat itu, Kania tinggal di rumah nenek gue sedari dia sekolah TK. Pada saat itu juga tiga tante gue belum berumah tangga. Jadi masih tinggal satu atap dengan ibunya yang mana adalah nenek gue. Setiap sabtu minggu, gue pergi main ke rumah nenek diantar Ayah, lalu ketika sampai di rumah nenek pasti Kania selalu dapat ultimatum untuk menjaga gue dan tidak meninggalkan gue di mana-mana. Kalau sampai gue menangis, Kania pasti kena omelan pedas ala tante-tante yang males mengurus keponakannya, jadi seolah tanggung jawab itu diberikan sepenuhnya pada Kania.
Suatu hari, berita penculikan sedang marak terjadi, beberapa kali Mama mengingatkan untuk jangan main jauh-jauh karena takut ada penculik yang sedang mencari anak-anak untuk mereka jual. Lalu saat itu, pada sore hari, Kania mendadak hilang dari rumah nenek, sudah gue cari ke seluruh sudut rumah tapi tidak ada. Sudah gue tanya ke tante-tante gue yang ada di rumah tapi mereka bilang tidak melihat Kania ke mana. Bahkan tante Ros yang melihat gue menangis langsung berubah jadi kucing garong.
“Awas ya si Kania kalo pulang tante omelin! Kenapa dia main sendiri aja adeknya nggak diajak! Biarin! Nanti tante omelin!” gue menunggu Kania berjam-jam yang tidak muncul-muncul juga. Gue khawatir bukan main, takut Kania beneran diculik dan gue jadi kehilangan saudara Perempuan dan teman bermain.
Setelah beberapa jam, sehabis maghrib, Kania tak lama muncul sambil membawa gorengan. Gue tanpa babibu langsung memukuli Kania bertubi-tubi, menjambak rambutnya, memukul kepalanya, menendang-nendang dirinya sampai dipisahkan oleh tante Ros saat itu. Gue menangis meraung-raung karena kesal. Kania yang dipukuli juga kesal dan membalas memukuli gue.
Ketika gue besar, gue kembali bertanya tentang momen itu kepada Kania. Katanya waktu itu, “Gila lo emang! Orang lagi beli gorengan pulang-pulang malah dipukulin gue! Sinting!” gue ketawa geli sampai susah napas. Teringat momen itu dengan jelas. Yang ada di kepala Kania gue marah karena nggak diajak beli gorengan. Padahal lebih dari pada itu, gue takut Kania diculik!
Di kesempatan yang lain, waktu itu gue ikut Kania main batu tujuh di lapangan dekat rumah nenek gue. Walau gue hanya ikut menonton di pinggir lapangan, rasanya cukup seru karena ramai anak-anak. Saat sedang seru-serunya bermain, ketika salah satu anak sedang Menyusun batu, salah seorang bapak=bapak keluar dari rumahnya dan berteriak marah. Benar-benar marah sampai kami semua mendadak hening.
Usut punya usut ternyata si bapak merasa terganggu dengan suara anak-anak yang berisik. Dia maju ke depan, menghancurkan susunan batu dengan tendangan kakinya. Anak-anak ketakutan, saat itu tidak bisa menjangkau Kania dari dekat dan gue nggak tau Kania ada di mana. Karena anak-anak lari, si bapak melemparkan batu-batu ke sembarang arah dan membuat anak-anak berteriak histeris. Suasananya saat itu kacau, gue berlari menjauh dari Lokasi dan akhirnya memilih pulang.
Sepanjang jalan otak gue nggak bisa berpikir jernih. Gue kehilangan Kania dan sebaliknya. Sampai di rumah kebetulan hanya ada tante Ros dan gue menangis di depannya. Saat itu sambil sesenggukan gue berusaha bilang kalau sepertinya Kania sudah meninggal karena ketimpuk batu. Dan benar saja setelah berjam-jam, Kania belum juga pulang, gue histeris menangis dalam gendongan tante ros yang menunggu Kania pulang di depan rumah.
Setelah menunggu lama akhirnya Kania pulang sambil cengengesan, memeriksa gue apakah gue baik-baik saja atau terkena batu.
Gue pikir kenapa di masa kecil gue begitu takut kehilangan Kania adalah karena gue merasa dia sebagai dunia bermain gue dan pelindung, meskipun dia sama seperti Mama dan Ayah yang jarang mengungkapkan perasaan.
Dalam banyak situasi, Kania selalu menjadi penjaga gue dan selalu menemani gue.
Ketika gue sekolah di taman kanak-kanak, Kania rajin menjemput gue di depan gerbang sambil membawakan tas roda berwarna merah yang bergambar kartun mobil. Pulangnya dia sering mengajak gue jajan makanan apa pun yang kami lewati. Di saat gue menginginkan sesuatu, Kania selalu jadi yang pertama bilang ke Neneka tau tante-tante gue ketika gue menginginkan sesuatu.