Gue mengerjap beberapa kali dan menyadari akhirnya Tuhan memberikan gue umur lebih mungkin karena memberikan gue kesempatan untuk menjalankan misi-misi gue untuk menjadi anak yang romantis.
Tak lama suara Mama terdengar histeris ketika melihat tangan gue bergerak dan gue mulai sadarkan diri. Gue melihat sekeliling dan menyadari sepertinya kaki gue patah karena terangkat beberapa jengkal lebih tinggi. Tak lama dokter langsung memeriksa dan gue melihat wajah Arga di jendela kaca sedang melambaikan tangan.
Gue nggak tahu seberapa khawatir Arga waktu tau kondisi gue mungkin lebih parah, mungkin dia histeris atau mungkin guling-guling, atau mungkin histeris sambil guling-guling? Nanti ketika gue udah mulai pulih, gue akan wawancara dia tentang bagaimana rasanya hampir kehilangan sahabat yang ia lindungi sejak kecil? Agak berlebihan tapi benar adanya begitu.
Di rumah sakit, dokter menemukan beberapa memear pada tubuhnya, luka robek pkecil di dahi, cedera pada bahu dan lengan sebelah kiri, serta gejala gegar otak akibat benturan kepala. Gue juga mengeluh nyeri pada dada dan perut sehingga dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada cedera internal.
Di ruangan, dokter dan perawat sibuk memeriksa gue. Mama diminta keluar dari ruangan dan gue melihat Arga di balik kaca bening sedang mengusap pipinya sambil menangis.
Gue jadi teringat, ketika gue kecil dan saat itu sedang belajar naik sepeda. Mama menyuruh gue ke warung, lalu gue bilang ke Arga kalau gue ma uke warung dulu sambil bawa sepeda yang baru aja Ayah beliin walau itu sepeda bekas. Kata Arga waktu itu, “Kia, kalau ke warung nggak usah naik sepeda, jalan kaki aja.”
Gue seharusnya menanggapi kalimat Arga seperti ini, siapa lo berhak ngatur-ngatur gue?
Tapi gue bilang, gue masih inget kata-katanya. “Nggak, aku mau pake sepeda ke mana-mana. Kata Mama kalo rumah aku gede kaya Haris, pasti aku ke kamar juga pake sepeda.”
Setelah pulang dari warung di siang bolong, ternyata sepeda gue oleng. Alhasil gue masuk ke dalam got kering yang persis di depan rumah Arga. Kebetulan Arga yang lagi duduk-duduk di depan rumahnya mendengar suara teriakan gue yang melolong seperti anak gajah yang terperangkap jebakan manusia.
Arga lari menghampiri gue yang kesakitan. Melihat gue masuk got Arga panik, masuk ke dalam rumah dan memanggil siapapun yang ada di rumahnya untuk membantu mengangkat gue yang sudah menangis. Lalu Ayahnya Arga datang berlari kemudian mengangkat gue dari dalam got kering sialan itu dan menggendong gue.
Tangan dan lutut gue berparut luka, berdarah. Badan gue terasa nyeri. Gue menangis dalam gendongan Pak Har, tapi tangis gue mendadak berhenti karena melihat Arga sedang mendorong sepeda gue sambil menangis histeris, dia sesenggukan melihat gue terluka sampai sepeda gue stangnya miring. Lah? Ini siapa yang luka siapa yang jatoh?
Bahkan ketika Pak Har sampai di depan rumah, Mama melihat gue dalam gendongan Pak Har dan di sebelahnya ada Arga yang sedang menangis sesenggukan sambil berusaha mengelap air mata. Bukannya mengambil gue dalam gendongan Pak Har, Mama saat itu malah menghampiri Arga.
“Arga kenapa? Arga jatoh? Arga luka-luka? Kok sampai sesenggukan gitu? Dinakalin ya sama Kiana?”
“Nggak Bu, yang jatoh Kiana, yang nangis Arga.” Pak Har masih menggendong gue yang kebingungan dengan situasi ini.
“Hah?!” Mama tampak kaget, dia langsung mengambil gue dalam gendongan Pak Har. Gue menunjukkan tangan dan lutut gue yang berparut luka. Lalu gue masih mendengar suara tangis Arga yang terdengar memilukan.
Selalu seperti itu, ketika gue dapat musibah, Arga yang kedapatan sedih dan air matanya. Gue lebih tegar, lebih legowo menerima musibah, tapi Arga beda. Setiap musibah itu datang ke gue, dia selalu mendumel ini dan itu seakan-akan manusia bisa menghalau musibah itu sendiri.
Kalau dalam kasus kecelakaan seperti ini, biasanya Arga mulai mendumel sekitar sebulanan lagi atau sampai kaki gue bisa berjalan lagi tanpa bantuan tongkat.
Setelah di rumah sakit tanpa melakukan apa-apa, gue sibuk minta pulang karena terlalu bosan. Lalu Mama menasehati dengan wajah khawatirnya. Dia bilang nanti sore selepas Arga pulang bekerja, ia mau menjenguk gue setelah sebeum-sebelumnya hanya bisa melihat melalui jendela kaca.
Di ruangan, bau rumah sakit selalu memiliki bau yang sama; campuran alcohol, cairan antiseptic, obat-obatan dan sesuatu yang tidak bisa gue jelaskan selain bau orang sakit. Gue melihat sekeliling ruangan, seperti ruangan tanpa sekat dan tirai, artinya gue di ruangan ini seorang diri, lalu terpikirkan siapa yang akan membayar biaya rumah sakit ini kalau dilihat dari ruangan yang nyaman?
Di benak gue, tersimpan rasa malu yang luar biasa karena mengingat pertengkaran beberapa malam sebelum kecelakaan. Seharusnya gue bisa menahan diri. Dan sekarang kata maaf itu sulit keluar dari mulut, gue hanya merasa sesak dan berkali-kali air mata gue luruh karena merasa bersalah atas sikap gue ke Mama dan Ayah, kalau ke Ano gue bodo amat, gue nggak peduli.
Gue merasa bingung bagaimana caranya mengungkapkan kata maaf meski tahu gue salah dan harus meminta maaf.
Kata itu sebenarnya sudah sampai di ujung lidah, tetapi selalu berhenti sebelum menjadi suara. Terlalu pendek untuk menjelaskan semuanya. Terlalu sederhana untuk menghapus sesuatu yang sudah terlanjur terjadi. Dan entah mengapa, mengucapkannya terasa seperti membuka pintu yang selama ini ia tahan dengan kedua tangannya. Jadi, lagi-lahi gue memilih diam.
“Mama…” Mama menoleh, langsung menghampiri gue dengan wajah khawatir.