Setelah satu minggu lebih di rumah sakit, gue akhirnya diizinkan pulang meski kaki gue belum bisa berjalan , masih harus pakai tongkat atau bisa pakai kursi roda. Di luar terdengar suara ibu-ibu yang katanya mau menjenguk. Beberapa ibu-ibu masuk mempertontonkan gue yang seolah baru lolos dari maut. Bercakap-cakap dengan Mama bagaimana kronologinya, gue mendengarkan aja sambil sibuk memegang ponsel, tidak mau menoleh pada ibu-ibu yang menurut gue berisik itu.
Karena selamat dari maut, gue berjanji ingin merubah diri menjadi anak yang romantis setelah melewati perdebatan yang panjang dengan hati kecil gue yang imut.
Berkali-kali gue menolak, tapi ini adalah Keputusan besar yang telah gue ambil dan gue paksa untuk dijalani.
Gue membuka ponsel lalu berselancar pada mesin pencarian. “Cara menunjukkan kasih sayang kepada keluarga.”
Muncullah berbagai macam artikel.
Peluk orangtua.
Berikan pujian.
Ucapkan terima kasih.
Berikan hadiah kecil.
Luangkan waktu bersama.
Gue mengangguk mantap.
“Kayak gini doang? Gampang!”
Dan gue belum tahu kalau seberapa banyak poin-poin yang gue baca di internet itu akan menghancurkan harga diri gue di depan anggora keluarga yang kaku dan minim afeksi itu.
Merasa kurang, gue menonton vieo berdurasi tiga menit berjudul “5 cara sederhana membuat orangtua bahagia.”
Menurut video tersebut, anak yag baik harus mengucapkan terima kasih, memberikan pelukan, membelikan sesuatu dan sesekali mengatakan bahwa kita harus menyayangi mereka. Sebenarnya dari artikel maupun video yang ia tonton jawabannya hampir sama, dan ia tau itu akan bekerja. Masalahnya yang menjadi penghalang adalah rasa malu dan gengsi. Bagaimana cara mengusir rasa malu dan gengsi itu hilang dari jiwa gue?
Gue memukul-mukul bantal karena gemas sendiri. Gue menarik napas dengan kasar. Tak lama suara Arga terdengar di teras luar. Nggak lama, Arga masuk.
“Na…”
“Bisa kesininya nanti aja, nggak? Kalo gue udah sembuh.”
“Nggak mau, gue mau kesini sekarang. Mau nemenin calon istri.”
“ARGA! GUE TAMPOL, YA! IH MALES AH!”