Unromantic Family

Wulansaf
Chapter #14

Bab 14 : Misi Keluarga Romantis

Setelah beberapa bulan kemudian, kaki gue sudah bisa berjalan normal dan sepenuhnya sudah sembuh.

Gue berencana akan melakukan misi Bernama “MISI KELUARGA ROMANTIS” setelah berdebat panjang dalam menentukan nama misinya dengan Arga.

Nama itu terdengar cukup meyakinkan. Permasalahannya pelaksana operasinya adalah gue sendiri. Seseorang yang sudah dua puluh lima tahun tidak pernah mendengar kata-kata romantis dan cenderung julid ketika mendengarnya dari orang lain.

Pagi itu, gue berdiri di depan cermin dengan ekspresi serius. Gue menarik napas pelan, menenangkan diri yang terlihat gusar.

Target 1 : membuatkan sarapan

Target 2 : memberikan pujian

Target 3 : mengucapkan terima kasih

Target 4 : peluk orangtua

Di bawahnya gue menulis :

Target 5 : jangan kabur karena malu

“Misal misinya gagal apa gue bakal diketawain Arga ya? akan gue buktikan kalo gue juga bisa jadi romantis dan akan membangun rumah tangga yang romantis dengan Arga.” Gue langsung menutup mulut, pipi gue terlihat bersemu merah karena kalimat terakhirnya.

Dari kamar, gue menuju dapur hendak membuat sarapan. Tadi malam sudah gue persiapkan roti dan segala macam bahan-bahannya karena pagi ini akan membuat sarapan ala-ala keluarga di jerman, sandwich.

Sebetulnya gue masih agak bingung dengan peralatan dapur dan cara memasaknya karena belum terbiasa. Mencari penggorengan saja butuh waktu karena gue nggak tahu letaknya di mana. Gue mengambil sendok-sendok yang ada di rak piring dan tak sengaja menjatuhkan semuanya.

“Kiana! Ngapain!” suara Mama teriak terdengar sampai ke dapur.

“Lagi masak.”

“Apa sih yang jatuh?” Mama menghampiri gue di dapur dan berdiri di sana.

“Kecintaan seorang anak kepada Ibunya!” gue mendadak kaget dengan kata-kata itu yang otomatis keluar sendiri dari mulut gue. Gue refleks menutup mulut. Mama yang mendengarnya kaget, dan gue yang mengatakannya pun jauh lebih kaget.

Hening.

Gue memejamkan mata takut dengan respon Mama atas kelakuan memalukan gue.

“Mama denger emang Kia ngomong apa?” Gue bertanya sambil sibuk membuat sandwich tanpa menoleh ke Mama.

“Dikira Mama budek apa?” Mama memasang wajah kemenangan. Dia tersenyum dan salah tingkah.

Sayuran, daging, keju dan telur yang ditumpuk di atas roti lebih terlihat seperti sebuah pulau yang baru saja mengalami bencana. Sangat tidak indah untuk dilihat. Tapi di atas roti yang baru gue panggang itu, gue memberikan saos dan mayones berbentuk hati yang kata Arga itu alay.

Gue memberikan itu kepada Mama dan Ayah. Mereka duduk di ruang tamu sambil melirik sandwich buatan gue dengan geli dan menahan tawa.

“Ini trial buat sandwich untuk Arga nanti, ya? kalo udah nikah?” Gue yang mendengarnya kaget bahkan hampir jantungan. Bisa-bisanya niat suci gue yang ingin jadi anak romantis dikait-kaitkan dengan akan menikah dengan Arga.

“Ih! Nggak, lah. Ini murni dari lubuk hati.”

“Emang hati kamu berubah lembut ya sejak kecelakaan kemarin?” gue yang mendengarnya tertawa kemudian meringis.

“Ayah!”

“Kalau begitu apa kita perlu syukuran?”

“Ih, nggak jelas.”

“Kiana kan mau berkontribusi sama ketahanan pangan keluarga.” Mama dan Ayah mengangguk-angguk dan langusng mencoba sandwich yang gue buat dengan sepenuh hati dan cinta.

Dalam hati, meski gue nggak tau rasa sandwich itu gimana, tapi gue sudah bisa mencoret misi pertama yang berhasil. Tinggal memikirkan misi selanjutnya yang entah apakah gue akan berhasil atau tidak.

Sore hari, ketika rumah mendadak sepi. Ano yang mungkin pergi ke rumah temannya. Kania yang sudah pasti pergi keluar. Dan gue berpikir ini adalah momen dan waktu yang pas untuk menjalankan misi kedua.

“Ma…Mama udah mandi sore?”

“Nggak belum, mandi aja duluan, kenapa emangnya?”

“Mama tetep cantik walau belum mandi.” Gue nyengir sekaligus memberikan jari yang gue bentuk serupa hati. Mama terlihat kebingungan, gue berusaha menahan malu dan menahan tawa.

Mama hanya diam. Gue jadi ikut diam. Dan mata kami saling bersirobok.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Gue mulai berkeringat.

“Lagi belajar ngegombal ya? Latihannya ke Mama?” Gue langsung cemberut. Karena lagi-lagi Mama mengira kalau perlakuan romantis gue adalah karena akan menikah. Apalagi nikahnya sama Arga.

Gue tersenyum dan akhirnya target kedua berhasil.

Target ketiga adalah raja kulkas. Gue menimbang-nimbang. Apakah sebaiknya disudahi saja misi gila dan nekat seperti ini? Tapi kalau hanya sampai dua target, gue merasa kurang dan kalah.

Lihat selengkapnya