Asap masih membubung dari puing-puing kayu yang terbakar. Bau hangus buku, plastik yang meleleh, dan debu menyatu jadi aroma kesedihan. Rumah baca itu adalah mimpi kecil Laras dan Andre. Tempat anak-anak membaca, bermain, menulis, menonton film pendidikan. Dan kini, tinggal abu.
Laras terduduk lemas di sisi jalan, selimut menyelimuti bahunya, matanya merah karena tangis, rambutnya acak-acakan terkena percikan bara. Andre berjongkok di sampingnya, tangannya meremas tangan Laras erat.
“Aku gagal, Andre,” gumam Laras. “Aku nggak bisa menjaga ini. Kita udah bangun ini dari nol, pakai uang kita sendiri, bantuan orang-orang baik… dan sekarang habis semua.”
Andre menoleh padanya. “Ini bukan salahmu. Ini bukan salah siapa pun di antara kita.”
“Tapi aku yang minta kita buka rumah baca ini di bekas gudang ayahku. Aku yang maksa tetap pakai listrik walau tahu instalasinya belum semua diperiksa. Aku—”
“Laras, cukup.” Andre mengangkat dagunya. “Kita nggak boleh saling menyalahkan. Apalagi menyalahkan diri sendiri. Ini ujian.”
Dari kejauhan, sirene mobil pemadam kebakaran akhirnya mereda. Warga yang tadi sempat berkerumun, satu per satu pulang. Sementara Gio berdiri diam, memandangi api yang kini tinggal asap. Di wajahnya, ada perasaan yang lebih rumit dari sekadar kecewa. Ia merasa kalah. Laras yang semula banyak mengandalkan dirinya, sekarang selalu ada di sisi Andre.
“Apakah aku terlambat?” batinnya.
Beberapa hari berlalu, dan berita kebakaran rumah baca itu viral di media sosial. Banyak akun pendidikan, sosial, bahkan influencer literasi ikut membagikan dan menyuarakan dukungan.
Andre menerima banyak pesan. Beberapa menawarkan bantuan. Beberapa menuduh. Termasuk satu pesan tanpa nama:
> "Kamu terlalu menonjol, Dok. Jangan lupa, beberapa orang keluargamu tidak suka langkahmu. Rumah baca itu hanya peringatan."
Pesan itu membuat Andre menggigil. Laras tahu Andre berubah lebih pendiam setelah rumah baca terbakar. Tapi dia belum tahu ancaman-ancaman itu mulai datang satu per satu.
Sementara itu, Laras jatuh sakit.
Ia demam tinggi. Hasil tes menunjukkan ia mengalami kelelahan hebat, imun tubuh menurun, dan ada indikasi infeksi saluran pernapasan atas. Laras memaksa tidak dirawat, tapi Andre bersikeras.
“Udah. Kita pulang ke rumah, bukan ke rumah baca,” ujar Andre sambil menggendong Laras ke dalam mobil. “Kamu butuh istirahat total.”
Di rumah, Andre menjaga Laras dengan sabar. Ia bahkan mengatur ulang jadwal prakteknya agar bisa merawat Laras sendiri. Gio, yang sempat datang, hanya bisa melihat dari kejauhan. Ia berdiri di depan pagar, membawa kotak makanan dan buku.
Namun saat melihat Andre sedang menyuapi Laras bubur, Gio hanya meletakkan kotaknya di pos satpam dan pergi.
Hari berikutnya, Laras memanggil Andre.
“Dok…”
“Hm?”
“Aku mau bilang sesuatu… soal Gio.”
Andre terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.
“Aku tahu, mungkin dia masih ada rasa. Tapi aku udah milih kamu, dan aku nggak akan goyah.”
Andre menatap Laras lama. “Aku juga mau bilang sesuatu, Laras. Tapi kamu harus kuat ya.”
“Apa?”
Andre mengambil sebuah surat dari laci meja samping tempat tidur. “Ini… surat wasiat yang kamu titipkan ke notaris waktu kamu masih dirawat di RS dua bulan lalu.”
Laras menatap surat itu, matanya melebar. “Kok bisa kamu pegang?”
“Notaris itu sahabat lamaku. Dia khawatir setelah rumah baca terbakar. Dia bilang kamu pernah bilang: ‘Kalau aku nggak bisa ngelindungi rumah baca, mungkin aku juga nggak sanggup ngelindungi mimpi-mimpiku.’ Dia takut kamu menyerah.”
Laras mengambil surat itu. Tangannya gemetar. Ia membacanya pelan-pelan.
> “Jika aku pergi duluan, tolong lanjutkan rumah baca kita. Lanjutkan cinta kita pada anak-anak yang haus ilmu. Jangan biarkan aku mati sia-sia. Tapi jika aku masih hidup, jangan pernah biarkan aku menyerah, walau tubuhku tak sekuat dulu.”
Air mata Laras menetes. Andre menggenggam tangannya.
“Selama kamu masih di sini, Laras, aku akan pegang janji itu.”
Malam harinya, Andre mendapat telepon dari adiknya, Farrel.