Langit sore tampak kelabu, seperti ikut menyimpan rahasia yang tidak sempat terucap.
Bilal berdiri di depan rumah baca, menggenggam ponselnya erat-erat. Berkali-kali ia menelpon Gio, tapi panggilannya hanya masuk ke kotak suara. Di dalam rumah baca, Andre terbaring lemah di kamar kecil yang pernah mereka tata bersama—dulu saat semua masih utuh.
"Andre... ini aku, Bilal. Gio belum menjawab. Tapi aku akan coba terus, ya..." bisiknya lirih sambil mengganti kompres di kening Andre.
Sementara itu, di kantor kementerian tempat Gio bekerja, deretan dokumen bertumpuk di mejanya. Ia kini seorang kepala bidang, dihormati, disegani, sibuk, dan… kesepian—meski tak pernah mengakuinya.
Suatu malam, ketika ia hendak pulang, ponselnya kembali bergetar. Panggilan tak terjawab dari “Bilal Rumah Baca”. Ada sepuluh panggilan tak dijawab, dan satu pesan suara.
Dengan rasa penasaran, Gio menekan pesan suara itu.
> “Gio… ini Bilal. Maaf harus mengganggumu. Tapi ini tentang Andre. Dia… dia sakit keras, Gio. Sudah sebulan ini, dan keadaannya makin memburuk. Dia… dia sering menyebut namamu. Dia nggak pernah menyalahkanmu, Gio. Tapi dia selalu menunggumu.”
Gio terdiam. Dunia seakan berhenti sejenak. Tangannya bergetar, dan suara di seberang terasa seperti hantaman petir yang membelah hatinya yang sudah lama membatu. Nama Andre yang tak ia dengar selama sepuluh tahun itu tiba-tiba menyeruak, membanjiri setiap sudut memorinya.
---
Esok harinya, Gio berdiri di depan rumah baca yang sudah usang, catnya terkelupas, tapi masih penuh kenangan. Ia mengetuk pelan. Pintu dibuka Bilal.
“Gio?” Suara itu sedikit tercekat. “Kau datang juga…”
“Mana dia?” suara Gio nyaris tak terdengar.
Bilal menunjuk kamar belakang.
Gio melangkah masuk. Di kamar kecil itu, Andre terbaring lemah, tubuhnya lebih kurus dari yang ia bayangkan. Tapi matanya—meski sayu—bercahaya ketika melihat Gio.
“Gio…” suara Andre nyaris berbisik. “Kamu datang…”
Gio mendekat, menggenggam tangan Andre yang dingin.
“Maaf aku lama datang. Aku… terlalu sibuk jadi orang penting,” katanya lirih, setengah tertawa getir, setengah menangis.
Andre hanya tersenyum. “Aku selalu tahu kamu bakal kembali... walau hanya sebentar.”
“Enggak, Dre… aku enggak akan pergi lagi.”
Dan malam itu, dua jiwa yang sempat terpisah, kembali bertaut. Meskipun waktu tak bisa diulang, setidaknya luka bisa dijahit dengan pertemuan.
Namun waktu tidak menunggu siapa pun.
---
Minggu berikutnya, Andre menghembuskan napas terakhir di pangkuan Gio, dengan senyum tenang, dan bisikan terakhir: "Terima kasih... sudah datang."
Gio menetap di kota itu. Ia meneruskan rumah baca bersama Bilal, mengenang Andre dalam setiap tumpukan buku, dalam tiap suara anak-anak yang tertawa membaca, dalam setiap langit senja yang mengingatkannya bahwa cinta sejati tidak selalu harus dimiliki, tapi selalu hidup dalam kenangan.
---
Hari-hari Gio di ibu kota berjalan seperti kereta cepat yang tak sempat berhenti. Agenda penuh, rapat beruntun, laporan menumpuk, dan tugas-tugas penting dari atasannya membuatnya hampir tak sempat bernapas. Namanya mulai dikenal sebagai salah satu pegawai muda paling cemerlang di instansi tempatnya bekerja. Namun semua itu dibayar mahal dengan hilangnya waktu untuk hal-hal yang dulu pernah ia anggap berharga—termasuk seseorang bernama Andre.
Sementara itu, di kota kecil tempat rumah baca berdiri, Andre terbaring lemah di kamarnya. Penyakit yang selama ini ia pendam perlahan menggerogoti tubuhnya. Tapi Andre tetap memaksakan diri hadir di rumah baca, meski hanya sebentar, hanya untuk menyapa anak-anak, hanya untuk tersenyum agar tak terlihat rapuh.
“Pak Andre sudah lama batuk-batuk, tapi masih aja maksa kerja,” kata Farel pada Bilal, sahabat lama mereka yang kini sering membantu di rumah baca.
Bilal mengangguk, wajahnya muram. “Aku udah coba hubungi Gio, tapi nggak pernah diangkat. Mungkin dia terlalu sibuk.”
“Harusnya tahu kabar ini,” Farel menggerutu, menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan yang tak pernah dibalas.
Andre sendiri, meski tubuhnya lemah, tak pernah menyalahkan Gio. Dalam diam, ia tetap menyimpan semua kenangan. Foto-foto mereka yang dulu, potongan surat dari Laras, bahkan baju hangat Gio yang pernah tertinggal.
Malam itu, Andre kembali terbatuk hebat. Farel yang panik segera memanggil ambulans, dan Andre dilarikan ke rumah sakit. Bilal duduk di ruang tunggu, mencoba lagi menelepon Gio. Nada sambung terdengar… satu, dua… tapi tidak pernah diangkat.
---
Di Jakarta, Gio baru keluar dari ruang rapat besar dengan Menteri. Ia melihat deretan notifikasi di ponselnya, termasuk beberapa panggilan tak terjawab dari Bilal. Namun lelah dan tekanan pekerjaan membuatnya menunda membaca. Ia hanya berkata dalam hati, “Nanti saja… besok.”
Keesokan harinya, Bilal mengirim pesan: