Until The End

Vina Marlina
Chapter #3

Speechless

Satu kata untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Speechless. Beberapa detik terlewat sebelum aku mengerjap. Tersadar, semua ini bukanlah mimpi. Dia nyata adanya. Si pencuri hati yang bertahun-tahun hadir menghiasi bunga tidurku.

Iya, benar. Dia adalah cinta pertamaku.

“Ayla, apa kabar?” Kudengar dia menyapa, sumringah. Belum apa-apa, aku sudah merasa ingin menangis saking bahagianya.

Ralat. Saking rindunya…

Kapan terakhir kali kami bertemu? Ah, waktu perpisahan SMA. Lama sekali. Awal tahun 2000-an, handphone masih merupakan barang mewah. Otomatis kami lost contact. Media sosial yang tersedia juga baru sedikit. Aku ingat dulu pernah mencoba mencari tahu kabarnya lewat Friendster, tapi keberadaannya benar-benar misteri.

“Baik. Kabar kamu gimana? Sehat?” Gawat, sepertinya air mataku benar-benar akan merembes keluar. Suaraku mendadak sengau. Untung masih terhalang masker.

“Aku lagi flu.“ Dia tertawa renyah, menunjuk masker yang dipakainya. “Makanya aku pakai ini. “

Aku manggut-manggut. Otak ini mendadak macet. Sekian banyak kalimat yang kurangkai setiap hari tanpa terjeda, menunggu pertemuanku dengannya, menguap tak bersisa. Wohin? Ke mana perginya kosa kataku?

“Eh, eh, eh, apa-apaan kalian. Mana kembaran pake masker, pake setelan denim jeans juga. Warnanya navy, lagi. Mau cosplay Upin Ipin, emang? Eh, atau mau niru Dilan-Milea, ya? Cie, cieee…!”

Seorang wanita berhijab modern dan bermata sayu tersenyum cerah. Dia memakai baby doll. Jangan tertipu dengan penampilan imutnya. Berbeda denganku, keahlian Diandra dalam mengusili orang sudah sangat terkenal dari zaman sekolah.

Seketika, aku dan Rio saling melirik kostum masing-masing. Benar juga kalau dipikir-pikir. Berdiri sebelahan begini, kami jadi terlihat seperti pasangan. Matching dari atas sampai ujung kaki.

Rasa panas merayapi seluruh wajah. Berupaya menyamarkan perasaan malu, buru-buru kualihkan perhatian Diandra. “Aku boleh langsung duduk apa gimana, nih?”

“Sabar, dong. By the way, maskernya buka atuh. Biar bisa saling lihat wajah, kangen-kangenan,“ kata Diandra jahil. “Tulis nama dulu di berkas pendaftaran, terus tanda tangan di spanduk itu. “

Rio terkekeh. Tanpa berpikir, aku menoleh. Masker Rio sudah ditanggalkan. Side profile-nya sewaktu tersenyum membuat detak jantung ini semakin berlarian. Ternyata senyuman Rio tidak berubah. Tetap manis dan menghipnotis. Sembari mengguratkan tanda tangan di atas spanduk, terasa tanganku gemetaran. Tajam, kutatap Diandra yang mengedip penuh arti padaku. Pantas saja dia ngotot memaksaku datang.

“Rio, sini kita sidang dulu.“ Hasan menepuk-nepuk pundak Rio, menggiringnya duduk di tengah-tengah. “Lo sebetulnya ke mana aja selama ini? Makin gagah gini euy.“

Lihat selengkapnya