Seorang lelaki berusia akhir enam puluhan memutar kenop pintu sebuah ruangan. Aroma apel mint yang menyegarkan menyeruak, sebuah kontras yang tajam dengan pengapnya rasa bersalah yang ia bawa di dada. Pelan-pelan, kakinya melangkah masuk. Sepasang maniknya yang mulai merabun memancarkan kesedihan yang sulit didefinisikan.
Ia mengamati kamar bercat pink dengan jendela yang terbuka lebar-lebar itu. Kamar puteri satu-satunya.
Gadis kecilnya kini telah tumbuh dewasa, namun di mata sang pensiunan tentara ini, Ayla masihlah balita yang sering ia abaikan tangisnya demi kedisiplinan semu. Andai waktu bisa diputar. Kalimat itu menggema seperti mantra menyakitkan. Ia tak akan memaksakan kehendaknya. Ia akan tersenyum senang meski Ayla membawa kabar kalau matematikanya harus remedial. Ia akan mengajak Ayla bermain, alih-alih memaksanya pergi ke tempat les dengan wajah ketakutan.
Tidak seperti sekarang.
Ia sadar, Ayla mungkin tidak akan percaya jika ia bilang mencintainya. Puterinya itu memperlakukannya seperti orang asing yang kebetulan tinggal satu atap. Hanya menjawab apabila ditanya, tak pernah ada cerita tentang keseharian, apalagi tentang hati. Semuanya hanya seperlunya—sebuah tembok es yang ia bangun sendiri selama puluhan tahun dengan dalih ketegasan. Padahal, hanya Tuhan yang tahu betapa menyiksa rasa rindu yang ia rasakan pada puterinya sendiri.
Lelaki itu terduduk, lalu tergugu di atas seprai bermotif bunga sakura. Ia terpekur cukup lama, menyesapi kekosongan ruangan yang ditinggalkan pemiliknya mengajar.
Ia baru memutuskan akan keluar, saat pandangannya tertuju pada lembaran buku yang terbuka di atas kasur. Terdorong rasa penasaran yang bercampur rasa rindu untuk mengenal puterinya lebih jauh, ia melirik isinya. Sebuah buku diari.
Ragu-ragu sejenak. Ia tahu privasi adalah wilayah terlarang bagi Ayla yang tertutup. Namun, ego seorang ayah yang haus akan kasih sayang anaknya menang.
“Ay, maafin Papa…” bisiknya parau.
Tangan yang sudah mulai berkeriput itu meraih buku tersebut dengan sedikit gemetaran. Ia mulai membaca lembaran yang ditandai.