Rio menghabiskan sisa malam itu di ruang TV, menemani si kembar mengerjakan PR. Silva sedang ditimang-timang Bi Yani di kamar, senandung sayup-sayup lagu Sunda terdengar. Channel TV menayangkan siaran kuis, tapi pikiran Rio tidak tertuju ke situ.
Tidur-tiduran di sofa panjang, Rio menyilangkan satu tangan menutupi wajah, masih memakai sarung selepas shalat Isya. Navya dan Nahya duduk di atas karpet tepat di bawah sofa, sibuk menulis jawaban sambil sesekali mengobrol.
Rio kepikiran Ayla.
“Rio, tunggu,“ panggil gadis itu beberapa jam lalu, sebelum mereka berdua menaiki mobil masing-masing di parkiran.
“Ya, Ay?” Rio menunggu dekat pintu mobilnya yang terbuka.
“Ich liebe dich von fruhe bis jetzt!” seru Ayla, mengutarakan kalimat ‘aku mencintaimu dari dulu hingga kini’ dalam bahasan Jerman.
“Maksudnya?” ulang Rio tak mengerti.
“Soal omongan aku di dalem tadi, itu bukan dalam bentuk simple past tense!” Habis berkata seperti itu, Ayla buru-buru masuk ke mobilnya lalu pergi.
“Past tense dipakai untuk menggambarkan masa lalu yang sudah berakhir…” gumam Rio, mengorek pelajaran tenses dalam ingatan.
Satu kesadaran tiba-tiba menyentaknya. Ayla masih menyukainya!
Rio tak tahu harus bagaimana.
Pernyataan Ayla sangat tak terduga. Semula, ddia penasaran ingin memastikan keadaan gadis itu yang kelihatan tak sehat di acara reuni. Makanya dia ajak bertemu, sekedar makan bersama, curcol bareng seperti dulu.
Kalau sudah seperti ini, apa yang harus dia lakukan?
Haruskah dia menolak? Haruskah dia pertimbangkan? Membiarkan seorang gadis tanpa jawaban, sama artinya dengan menyepelekan.
Rio tak mau begitu.
“Pah, tahu nggak, dada Navya kemarin sakit…” cetus Nahya yang kemudian disusul pekik dan protes kembarannya. “Iiih, aku kan udah bilang jangan kasih tahu siapa-siapa!”
Mendengar itu, perhatian Rio teralih. Bergegas dia turun dari sofa, lalu duduk di dekat anak-anaknya.
“Kak Navya sakit? Sebelah mana sakitnya? Sekarang gimana?” tanya Rio kuatir, mengamati lekat kondisi Navya.
Navya cemberut, sebal mendapati kembarannya cekikikan.
“Kata bu guru, Navya sudah besar, Pah. Payudaranya sudah tumbuh. Makanya kemaren-kemaren dadanya sakit. Navya jadi suka lama di kamar mandi,” ceplos Nahya, tak peduli pelototan Navya. Lidahnya malah sengaja dijulurkan, meledek.
Rio tertegun. Dia hendak mengulurkan tangan, ingin mengusap bahu Navya untuk menenangkan seperti yang biasa dia lakukan dulu. Namun, tangannya tertahan di udara. Ada kecanggungan yang tiba-tiba membenteng. Dia menyadari putrinya bukan lagi bocah kecil yang bisa ia peluk sembarangan. Sementara Navya hanya tertunduk, wajahnya merona merah, matanya yang biasanya cerah—dan entah kenapa terlihat sangat mirip dengan Maya—kini menatap lantai dengan sensitif.
Maya, lihat apa yang kamu lewatkan, Rio membatin pedih. Ada lubang besar yang tak bisa ia tambal sendiri; lubang yang seharusnya diisi oleh bimbingan seorang ibu di fase sedalam ini.
Orang tua seringkali lupa berdamai dengan kenyataan. Buah hati yang dulu bertubuh kecil mungil, rewel dan sering merengek minta digendong. Kelak, mereka akan bertumbuh besar dan berlari lepas. Tak memerlukan bantuan lagi.
Supaya anak-anaknya dapat tumbuh di lingkungan aman dan nyaman, Rio berjuang untuk dapat mandiri secara financial. Namun, ketika akhirnya perekonomiannya berangsur stabil, kenapa istrinya justru memilih pergi?
Rio tak paham.
Dia teringat ayah-ibunya di kampung. Mengandalkan mata pencaharian ayahnya yang seorang petani, hidup mereka memang tidak mewah. Tapi mereka bahagia. Rio senang bermain sesukanya di sawah, lalu pulang menjelang magrib dengan tubuh belepotan lumpur. Tak jarang ibu mengomel sesudahnya dan ayah selalu setia membela. Rio tumbuh besar dalam limpahan kasih sayang mereka.