Until The End

Vina Marlina
Chapter #10

"Ich Liebe Dich Von Fruhe Bis Jetzt!"

Benar apa kata Shakespeare. Waktu akan terasa sangat lambat bagi mereka yang menunggu.

Kulirik jam tanganku. Kelas akan berakhir dalam satu jam. Daripada pikiranku melayang tak tentu arah, aku mencoba mengoreksi tugas-tugas kelas sebelah. Tapi mendekati menit ke tiga puluh, aku sudah menyerah. Meletakkan balik tumpukan kertas polio ke atas meja.

Aku pasti sudah gila!

Menyatakan cinta dengan begitu gamblang. Hey… harga diriku. Sembunyi dimana kau?!

Inilah kenapa aku tak suka kebanyakan bicara. Sekalinya rem pertahanan diri dikendurkan, bisa-bisa semua rahasia diutarakan semua. Hiks… Tamat riwayatku. Kalau sudah begini, mana bisa punya muka ketemu Rio lagi.

Kupukul dahiku menggunakan gulungan kertas folio.

Ups!

Sepintas, aku menangkap pandangan keheranan dari beberapa mahasiswa yang duduk di depanku, sedang berkumpul diskusi kelompok.

“Kenapa? Ada yang mau ditanyakan?” tanyaku dalam bahasa Jerman. Membalas tatapan mereka.

“Nein, Frau!” Mereka menjawab ‘tidak’ berbarengan, lalu buru-buru menunduk mengerjakan tugas.

Bagus. Tolong jangan lihat ke sini lagi! Kira-kira begitu arti tatapanku.

Jadwal mengajarku hari Sabtu tidak full. Biasanya, aku memanfaatkan hari itu untuk hunting novel-novel terbaru di toko buku, atau berwisata kuliner bersama Diandra dan suaminya. Tapi, khusus hari ini, tidak. Nanti siang, aku akan pergi ke toko baju anak-anak! Ya, benar! Aku sendiri tak percaya.

Duda keren yang satu itu mengajakku menemaninya berbelanja keperluan buah hatinya.

Ya Rabb…Mungkinkah ini cara halusnya untuk menerima perasaanku? Aku bolak-balik memutar otak memikirkan kemungkinan itu. Hmm, kedengarannya masuk akal, tapi entahlah!

***

Semakin aku pikir-pikir, takdir sungguh penuh kejutan.

Adzan dzuhur baru saja berkumandang. 

Aku berjalan di parkiran sebuah mall besar di jalan Gatot Subroto, Bandung yang mencakup tempat permainan indoor layaknya Dunia Fantasi. Rio barusan mengabari, dia dan anaknya sedang menungguku di kedai es krim, persis di depan pintu masuk mall.

Tidak usah ditanya bagaimana degup di dadaku. Aku bersyukur Allah menciptakan otot jantung yang sebegitu kuatnya menopang serbuan panik yang kurasakan. Semakin mendekati bangunan mini berplafond baja ringan yang dicat warna-warni, hatiku jumpalitan.

Aku menemukan Rio memakai baju kasual berupa kaus putih dan celana jeans, sedang duduk bersama seorang gadis kecil di bangku panjang dekat kedai. Fitur wajah mungil itu mengadopsi sebagian besar karakteristik Rio. Nampak secantik boneka dengan rambut keriting sebahu yang dikepang dua. Usianya kira-kira masih di bawah lima tahun.

 Masya Allah, gemas… Aku terpukau dibuatnya. Degup jantungku berangsur normal karena fokusku teralihkan. Ajaib!

Rio langsung mendongak mendengar bunyi ketoplak halus ujung sepatuku yang mendekat.

“Hei, Tante Ayla…”

Senyum manisnya menyambutku. Gadis di sampingnya ikut menoleh. Mata bulan sabitnya  menatapku sambil menggenggam erat cone es krim. Ada sedikit lelehan es krim vanilla di area bibirnya.

“Hai,“ Kubalas senyuman Rio. Lalu, aku beralih memandangi si kecil sambil ikut duduk di ruang tersisa di sebelahnya. Kujulurkan tanganku duluan pada gadis itu.

“Siapa namanya, boleh kenalan?” Sapaku ramah.

Si gadis memandangi Rio penuh tanya. Ketika papanya itu mengangguk, barulah dia menjabat tanganku.

“Silva.“

“Wah, nama yang cantik, mirip orangnya.”

“Makasih. Tante juga cantik.”

“Oya?”

Aku terperangah mendengarnya. Senang bisa mendengar suara cadel anak kecil. Maklum, aku hanya bisa berinteraksi dengan para ponakan kecil dan sepupuku saat Idul Fitri.

Rio terlihat agak takjub melihat semua adegan itu. Dia senyam-senyum, tak berani mengganggu. 

“Enak es krimnya?” tanyaku.

Silva mengangguk-angguk. Rambutnya ikut bergerak seiring seirama.

“Rio, anak kamu lucu banget, “ pujiku tulus. Rio tertawa-tawa dan mengangkat bahunya, “Yah, gimana, ya… Habis Papa nya juga lucu gini.”

“Apa, sih…” komentarku, geli.

Beberapa lama, aku dan Rio menunggu Silva menghabiskan es krimnya. Bertukar obrolan ringan seputar keadaan Bandung sekarang. Rio bilang, dia baru tinggal di Bandung dua tahun belakangan setelah sebelumnya menetap di Bogor dan Jakarta.

“Mau es lagi, Pah, “ Si kecil menengadah ke arah Rio, dua tangannya belepotan sisa cream. Rupanya cemilannya sudah habis.

“Nanti beli lagi. Sekarang kita ke mushola dulu, baru makan. ” Dengan cekatan, Rio mengeluarkan sehelai tisu basah dari dalam ransel mini di punggung Silva, lalu membersihkan noda di tangan dan mulut putrinya.

Rasanya sulit melepaskan pandanganku dari mereka.

Suntikan perasaan nyaman menyebar ke seluruh tubuhku, membuatku bertambah yakin. Hatiku tidak salah memilih.

“Kita sholat sekarang, Ay?” ajak Rio sembari berdiri. Silva sudah aman berada dalam gendongannya.

Aku segera menurut.

Bertiga, kami lalu berjalan bersisian memasuki basement tempat mushola berada. Kadang tangan Rio bergerak. Terentang memberi tanda akan menyebrang pada mobil yang lewat. Sekali, kulihat tangannya melakukan gerakan seperti akan merangkulku, menjagaku supaya tak keluar dari perlindungannya. Gentle, banget!

 Dilihat dari sudut pandang orang lain, mungkin kami akan tampak seperti keluarga kecil yang sedang menghabiskan weekend. Pikiran-pikiran itu membuatku malu sekaligus bahagia.

Senyumku tak bisa berhenti terukir.

Lihat selengkapnya