Until The End

Vina Marlina
Chapter #11

Still Moving On

Hari Minggu bukan berarti libur bagi Rio. Ia menyebutnya hari ‘bebersih’ alias melakukan semua hal yang tak bisa dilakukannya di hari-hari biasa. Menyapu, mengepel lantai, menguras akuarium.

Kasihan kalau melimpahkan semua tanggung jawab pada Bi Yani. Tahun ini, usianya sudah genap enam puluh. Sempat Rio terpikir untuk mempekerjakan pengurus rumah tangga yang lebih muda, tapi belum apa-apa ia sudah kuatir duluan. Bagaimana kalau anak-anaknya diculik? Atau lebih buruk lagi, timbul gosip di antara ibu-ibu komplek dengan tema ‘Skandal Duda dan ART pribadinya’.

Tak ada jalan lain selain tabah. Sekarang, Rio sedang membungkuk di kamar mandi, menyikat kaca akuarium. Anak-anaknya sedang berkumpul di ruang tengah, membongkar belanjaan kemarin.

“Papa, makasih banyak. Bajunya bagus. Aku sukaaa!” Nahya sengaja berteriak. Rio tertawa kecil dan balas berteriak, “Sama-samaaa!”

Ia bersyukur ada Ayla yang membantunya kemarin. Selamanya, selera lelaki tak bisa dibandingkan dengan ketajaman mata wanita. Sosok Ayla yang anggun terbayang, memunculkan buncahan perasaan sayang yang sempat ia kubur dalam-dalam. Kehadiran gadis itu sungguh bak oase di tengah episode tandus kehidupannya. Ia teringat bagaimana Ayla dengan tenang mendengarkan keluh kesahnya kemarin tanpa menghakimi, sangat kontras dengan Maya yang biasanya selalu menuntut untuk didengarkan namun enggan memberi dukungan emosional yang sama.

Namun, angan itu tersaput kabut. Ayla belum tentu jadi miliknya. Mimik wajah Rio langsung tegang. Tak boleh terbawa perasaan! Ia belum siap kecewa lagi.

Rio mengangkat akuarium itu kembali ke ruang keluarga yang kini tak ubahnya pasar senggol. Penuh sampah plastik, camilan, dan baju berserakan. Nahya dan Navya masih asyik mencoba baju, sementara Silva duduk di pojokan bermain boneka. Tiba-tiba ponsel Navya berdering.

“Mama vicall!” jeritnya gembira.

Rio mengerling sekilas, lalu menyalakan TV sebagai distraksi. “Mamaaaa, kenapa jarang vicall? Kapan Mama pulang?” Suara manja anak-anaknya memenuhi ruangan.

Rio bermaksud mengambil minum di dapur saat Silva terdengar melapor, “Mah, kemarin aku sama Papa jalan-jalan bareng Tante cantik. Namanya Tante Ayla!”

“Gitu… Dimana Papa sekarang? Mama mau ngobrol.” Suara Maya di seberang berubah serius.

Lihat selengkapnya