Malam yang penuh kejutan itu belum menemui akhiran. Usai akad, seisi ruangan tenggelam dalam keharuan. Mengamini doa yang diucapkan pak RT.
Rio menyapukan dua tangan ke seluruh wajah. Campur aduk rasa hatinya. Kebahagiaan yang bersanding dengan kekuatiran. Meski tak bermaksud mengingat-ingat, alam bawah sadarnya merasa de javu. Prosesi akad yang dilakukannya, baik pernikahannya dulu maupun sekarang, semuanya tergolong lancar. Semoga kedepannya pun tetap begitu. Rio berusaha menyingkirkan bayangan negative jauh-jauh.
Ujian pernikahannya dengan Maya dulu langsung hadir bertubi-tubi setelah dia hamil.
Rio berharap kejadian itu tidak pernah terulang lagi bersama Ayla.
Dalam kurun satu bulan setelah pertemuannya kembali dengan Ayla, kini gadis itu telah menjadi istrinya. Sepenuh hati Rio berharap akan mampu menjalankan kewajibannya sebaik-baiknya, hingga kelak menutup mata.
"Barakallahu laka wa baraka 'alaika..."
Satu persatu saksi menyalami dan memberi Rio pelukan.
"Selamat menempuh hidup baru, Bro..." Hasan tak ketinggalan, ikut meraih Rio dalam satu rengkuhan erat. Rio balas menepuk punggung sahabatnya itu sembari mengucapkan terimakasih.
"Ingat janji kamu!" kata papa setengah mengancam, mencoba membuat Rio gentar tatkala menciumi tangannya khidmat.
Sang menantu mengucapkan kalimat 'Insya Allah' penuh kesungguhan dan papa mengangguk puas. "Sana temui Ayla.”
Sekali lihat, Rio berhasil menemukan Ayla di antara kerumunan. Seperti dirinya, Ayla juga sedang dikelilingi para wanita yang bergiliran mengucapkan selamat.
Kala kerumunan mereda, barulah Rio mendekat. Bibirnya tersenyum lembut. Ayla yang menyadari kedatangannya bergegas menciumi tangan suaminya. Suara tangisan yang teredam meruak, sebab Rio merengkuhnya dalam satu pelukan hangat.
Kira-kira dua jam kemudian…
Jendela besar di kamar Ayla yang terbuka menampakkan pemandangan purnama. Semerbak aroma sedap malam dan bunga-bunga tanaman mama di pekarangan memanjakan penciuman. Jangkrik dan katak bersahut-sahutan di luar.
"Tante, bacain lagi, dong!"
Silva merengek, mengacungkan buku cerita miliknya yang memang sengaja ditaruh Rio di dalam tas. Di atas ranjang yang sebenarnya cukup luas itu, Silva dan Ayla berbaring berdampingan, masih mengenakan kostum resmi. Bahkan, kerudung Ayla belum sempat ditanggalkan.
Rio tidak mau menganggu aktivitas keduanya. Dia memilih mengalah, duduk di depan meja belajar Ayla.
Suasana di luar kamar berangsur hening, menyisakan celoteh pelan keluarga Ayla yang sedang membereskan sisa-sisa jamuan. Keluarga Rio dan para tetangga segera berpamitan setelah menikmati makan malam bersama-sama.
"Dek, udah malam, bobo dulu. Besok main lagi, " tegur Rio, mengerling jam digital berbentuk hello kitty di dinding. Angkanya sudah menunjukkan pukul 21.40 WIB.
“Bentar lagi, Pah…” pinta Silva.
Tak heran Silva langsung betah di kamar Ayla, penataannya dibuat mirip disneyland. Banyak sekali pernak-pernik berwarna pinkie dan cute nangkring di berbagai tempat. Hello Kitty menempati posisi jawara. Tirai, keset, seprai sampai karpet bulu. Belum lagi koleksi boneka-bonekanya. Dari mulai yang seukuran penghapus yang berjejer rapi di dalam rak dinding, sampai seukuran anak gajah, ada di pojok ruangan.
Tangan Rio memainkan box pinsil berisi alat tulis berbentuk miniatur putri disney. Ia baru tahu Ayla ternyata memiliki sisi kekanakan dibalik sikap dan penampilannya yang dewasa. Jujur, tempat ini malah lebih cocok disebut kamar Silva.
Memikirkannya, Rio jadi mengulum senyuman.